BERLIN…….#Molt

This slideshow requires JavaScript.

Bukankah saya pernah cerita tentang Maret yang beku di Berlin? Begitulah, dingin yang sadis telah meluruhkan daun-daun tanpa ampun. Tapi, Tuhan memang sungguh selalu membuat kagum. Dia ciptakan meranggas (molt) sebagai perjalanan untuk berhias. Ranting-ranting tanpa mahkota di kala dingin menerjang itu kelak menjelma indah ketika musim semi datang. Betul, meranggas sejatinya hanyalah sebuah kontemplasi. Cuma sebuah jeda…. Continue reading

BERLIN……..#Broken Wall

Dear investors, the wall is a central piece of Berlin history. The East Side Gallery stands for the new freedom after the reunion. Please, do not destroy our culture!

Tulisan spidol itu terpampang pada selembar karton putih yang kini mulai lusuh diterpa angin dan debu. Coretannya seperti asal, namun goresan itu mengguratkan pesan teramat tajam: jangan hancurkan Tembok Berlin!

Selembar kertas itu, juga beberapa kertas lain dengan tulisan senada, adalah sisa-sisa perlawanan aktivis pada aksi demonstrasi yang mengguncang awal Maret lalu.  Berlin boleh menggigil dibekap sisa musim dingin, tapi sepenggal jalan di East Side Gallery-sebutan lain sisa Tembok Berlin yang memanjang 1,3 kilometer-terus memanas. Penyebabnya, pengerjaan proyek apartemen mewah Living Bauhaus. Continue reading

Pada Sebuah Taman…

Masih adakah ruang untuk menyemai peradaban di tengah hiruk-pikuk Jakarta? Datanglah ke beberapa taman kota. Di sana, kita bisa bergabung dengan warga yang melepaskan diri dari keruwetan kota, bersantai, sekaligus bergaul dengan sesama secara lebih manusiawi.

Aline awal (lead) headline Kompas, Minggu 8 Agustus 2010, itu benar adanya. Kepada taman rasanya penat, suntuk, dan kuyu bisa disandarkan. Kepada taman rasa frustrasi sejenak terobati. Lusuh dan peluh luruh. Amarah perlahan memusnah.

Air. Daun. Kupu.  Bunga. Angin. ……………..menyatu dalam harmonisasi tanpa polusi, menentramkan sekaligus memberi kesejukan. Ia menawarkan jeda atas segala karut marut Ibu Kota. Continue reading

Secuil malam di RM Sinar Minang

Sebungkus Dji Sam Soe itu tergeletak di meja. Tak jauh darinya, A Mild Menthol yang isinya tinggal menyisakan empat biji bersanding. Kami ternyata sama-sama doyan rokok. Dan yang pasti, kami juga lahap dengan nasi padang.

Merokok, jelas tidak sehat. Tapi menikmati kepulan asap dari tembakau yang terbakar sepertinya menjadi bumbu manis dalam perbincangan hangat di RM Sinar Minang, ujung jalan Wahid Hasyim, Jakarta, malam itu (Senin 24/12). Ini pertemuan pertama saya dengan fotografer dan master adsense andal dari Surabaya, Kang Yayat. Continue reading