Minto’s Stone Again
MENELUSURI ASAL MUASAL BATU MINTO (2/habis)
BATU minto (Minto’s Stone) memang bukan benda purbakala sembarangan. Selain wujudnya yang tidak biasa, berbentuk bongkahan batu setinggi dua meter dan diperkirakan memiliki berat 300 ton, situs ini menjelaskan peralihan dari masa Kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Penjelasan tokoh Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kec Junrejo, Kota Batu, yang menyebut letak prasasti itu dulunya berada di belik tengah yang kini telah berubah menjadi kompleks Wihara Dhammadipa Arama, dikuatkan pihak wihara. Biksu Khanti Dharo Mahattna, sesepuh wihara Dhammadipa Arama mengatakan, wihara yang juga menjadi tempat tinggalnya itu dibangun sekitar 1970-an yang lalu. Awalnya, menurut biksu kharismatik ini, bangunan wihara sangat sederhana, masih semi permanent. Dinding-dindingnya dari gedek alias anyaman bambu. Atapnya dari genteng tanah liat. “Saya memang bukan orang pertama yang mendirikan wihara ini. Tetapi saya mulai tinggal di Malang sejak 1961. Sedikit banyak mengerti tentang cerita riyawat berdirinya wihara dan cerita rakyat Ngandat,” tutur sosok bersahaja ini. Menurut biksu Khanti, pohon beringin yang tumbuh lebat di tengah kompleks wihara Dhammadipa Arama sudah berusia ratusan tahun. Tepat di bawah pohon beringin terdapat sebuah mata air yang oleh warga desa setempat dulunya disebut belik atau blumbang tengah. Mata air ini, kata dia, dimanfaatkan untuk mandi dan mengambil air bersih untuk memasak. Tokoh agama panutan ini mengakui bahwa ada cerita yang menyebut di bawah pohon beringin tua itu terdapat sebuah batu besar bertuliskan tangan aksara Jawa kuno. Entah bagaimana ceritanya, sebut biksu Khanti, batu besar tersebut tidak ada di tempatnya sekarang. ”Beberapa tahun lalu, beberapa orang dari Universitas Brawijaya Malang pernah mendatangi lokasi ini. Mereka ingin melakukan penelitian tentang benda purbakala. Tetapi, karena saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri benda yang dimaksud, akhirnya rencana penelitian itu dibatalkan,” ujarnya. Soal cerita turun temurun yang menyebut bahwa pohon beringin, belik, dan batu besar bertuliskan aksara Jawa kuno itu berhubungan dengan Kerajaan Mataram, biksu Khanti tidak mengetahui pasti. ”Maaf untuk masalah itu saya tidak bisa menjelaskan. Karena belum ada bukti kuat yang mendukung cerita rakyat Ngandat pernah saya dengarkan itu,” tambahnya. Sebelumnya, Munir, tokoh desa setempat mengatakan bahwa Prasasti Sangguran yang kini dimiliki keluarga besar Lord Minto di Skotlandia itu berada di belik tengah. Menurut Munir, berdasarkan cerita kakek buyutnya yang diwariskan kepadanya, batu besar itu hilang dari tempatnya karena diambil tentara VOC (Belanda) pada zaman penjajahan. Merunut data otentik bahwa Batu Minto berasal dari Dusun Ngandat yang dibawa Gubernur Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles sebagai upeti ke atasannya, Lord Minto, sangat mungkin batu di belik tengah itu memang Batu Minto alias Prasasti Sangguran. Tengara bahwa benda purbakala itu dulunya di belik tengah juga semakin kuat bila melihat kenyataan bahwa tempat itu kini menjadi punden, sesuatu yang dikeramatkan. ”Yang perlu Anda ketahui, pada hari-hari tertentu masyarakat berkumpul di tempat itu untuk memanjatkan doa kepada Tuhan,” papar biksu Khanti. Bisa jadi memang benar-benar di situlah Prasasti Sangguran itu berada. Punden, menjadi petunjuk bahwa lokasi belik tengah itu memang tempat yang suci bagi masyarakat dulu. ”Kalau tidak berkaitan dengan zaman kerajaan, tidak mungkin di kawasan pohon beringin itu masih wingit atau angker,” kata Munir yang ditemui kemarin. Dia menjelaskan, sebelum wihara Dhammadipa Arama dibangun semegah sekarang, banyak tamu dari luar Kota Batu yang melakukan meditasi di tempat itu. Kawasan wihara masih menyimpan rahasia alam yang belum bisa diungkapkan,” beber Munir Belik tengah sendiri ternyata masih mengalir hingga kini. Sumber airnya terus mengeluarkan air yang jernih dan menyegarkan. Saat musim kemarau datang, dan sumber-sumber air lain banyak yang kering, belik tengah tetap memancarkan airnya. Penduduk di sekitar wihara kerap datang dan meminta air itu untuk keperluan sehari-hari. “Di wihara ini hanya ada dua sumur. Meski musim kemarau tidak pernah mati, Tetangga kanan-kiri kita justru sering meminta air bersih kepada kita,” paparnya. (maman adi saputro/foto by www.gutenberg.net.au)
November 11, 2008 at 5:05 pm
halo saya vivi , sy ingin tanya no rekening dana anak asuh dhamma dipa arama atas nama bhikkhu Khanti daro terima kasih
November 12, 2008 at 6:25 am
hi, salam kenal. Mohon maaf aku ga punya. Tulisan tentang minto’s stone yang menyangkut bhikku khanti ini hanya dikutip dari koran sindo jatim.tx