Dolly, Untold Story (1-brotherhood)
Apa lagi yang bisa diceritakan tentang Dolly? Nyaris semua orang tahu apa, bagaimana, mengapa, dan apa saja di dalam lokalisasi yang konon disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu. Tapi, bicara Dolly memang selalu menarik. Bukan semata-mata soal gincu tebal dan tubuh sintal yang dijual para wanita binal di sana, bukan pula tentang lelaki hidung belang yang ketagihan menenggelamkan dirinya dalam kenikmatan semu, juga bukan tentang permufakatan jahat para mucikari alias germo alias GM dengan para kaki tangannya yang telah tersebar hingga ke desa-desa pelosok itu. Pun bukan pula tentang bagaimana dunia setan ini telah menyumbang berjuta-juta rupiah ke kas negara, namun tak pernah ada yang menggugatnya.
Nun di antara pekatnya lembah hitam di kawasan Putat Surabaya itu, tersembul banyak harapan (meski sulit jadi kenyataan), ada juga suara-suara mengutuk: Jamput, kok iso aku nang kene rek!
Itu pula yang sempat berkecamuk di dada Ana dan Ani (nama samaran). Ana, 19, mulanya adalah gadis baik-baik asal Turen, Kabupaten Malang. Lepas dari SMK, dia sempat kerja di sebuah toko di Kota Malang. Gajinya tak seberapa, tapi untuk remaja yang baru lulus dari sekolah, uang itu cukup bagi dirinya untuk sedikit bergaya. Sejenak, masa depannya seakan tanpa cela. Pikirnya, nabung sedikit demi sedikit, lantas punya toko sendiri di rumah, bisa jadi modal mengarungi hidup.
Tapi, putaran nasib memang tak dapat diterka. Bosnya menutup usaha toko baju tak seberapa besar itu. Alasannya, semua aset bakal dilego untuk bayar utang. Si Bos tak sungkan mengaku bangkrut karena kalah main judi dan valas. Alhasil, jadilah Ana tanpa pekerjaan. Sungguh sial, dalam ketidakpastian itu, bapak dan ibunya bercerai. Situasi ini sempat membuat psikologis gadis setinggi 163 cm, berambut lurus hitam sebahu, dan berdada 36 itu goncang. Namun, tak sampai sebulan, Ana bangkit dari keterpurukan. Dia sadar bahwa hidup harus berlanjut. Berbekal ijazah SMK itu, dia kembali berburu kerja. Kesana-kemari, tak juga ada yang nyangkut.
Di saat hampir putus asa, Ana tanpa sengaja berjumpa pria, yang dia ingat teman bosnya dulu. Pria berkulit gelap itu menawarkan kerja. Katanya, “Jaga toko di Surabaya. Gajinya lumaya lho.” Kipasan rupiah itu membuat Ana silau. Tanpa pikir panjang diterimalah pekerjaan (yang kelak mengubah hidupnya selamanya) itu. Alih-alih jadi gadis metropolis, Ana telah diterkam mafia Dolly. Pria itu tak lebih dari seorang makelar yang dapat komisi dari GM bila dapat wajah baru. Apa lacur, tangis pun tak ada artinya. Mau pulang tak ada duit. Mau pergi tak tahu arah. Akhirnya, jadilah Ana bagian dari gemerlap Delta Lima (sebutan lain Dolly) yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ana marah, Ana berontak, sayang… tangannya yang lencir nan kuning langsat itu tak memiliki daya untuk melawan.
Hampir setahun dia terperangkap. Anehnya, 365 hari ternyata cukup untuk mengubah segalanya. Dia kini justru menikmatinya. ”Saya tahu ini nista, tapi saya tak bisa kerja lain. Lagian, cari kerja juga susah. Entahlah nanti kalo udah umur-umur 30, buka toko aja di rumah,” katanya, enteng*.
Mungkin karena telah jadi bagian dari keluarga besar Dolly itu, Ana tanpa ragu mengajak Ani, adik sepupunya yang tiga tahun lebih muda darinya (busyet!). Ani, tak berbeda dengan Ana, awal mulanya adalah gadis baik-baik. Dia tinggal di Jember dari keluarga biasa-biasa saja. Karena bujuk rayu Ana, dia pun pergi ke Surabaya. Singkat cerita, dia bahkan satu wisma dengan Ana, kos bareng, dan beberapa kali punya pelanggan sama..
Fenomena Ana dan Ani bukan rekaan. Di beberapa wisma, baik di Dolly, di lokalisasi Jarak, dan Moroseneng, memang ada PSK yang masih saudara alias bertalian darah. Ada yang kandung (tapi jaraaang banget, ada juga yang sepupu, ipar, dll, pokoknya mengandung persaudaraan/brotherhood). Ada yang datang seperti yang terjadi pada Ana dan Ani, ada juga yang dua-duanya terjebak perangkap maut makelar Dolly.
………………………………$$$…………………………………….
* Seperti diceritakan Ls kepada saya, sekitar pukul 01.30 WIB, Oktober 2003, di warung kopi tak jauh dari tempatnya bekerja. Sebatang rokok mentol terselip di bibirnya yang sensual, dengan sedikit peluh masih menempel di dahi dan lehernya…….
March 8, 2009 at 4:18 pm
mesti mari mbok tumpaki
March 8, 2009 at 11:20 pm
ono nmr telpune ani?
March 9, 2009 at 2:21 am
Nunggu seri duanya, “Ani”.
March 9, 2009 at 11:55 am
saya tunggu koleksi berikutnya hhahahaha
yah habis mau gimana lagi alasan alasan klasik itu mesti akan muncul mas
March 9, 2009 at 5:05 pm
gang dolly, hemmmm … nama yang sudah akrab sejak beberapa tahun yang silam, mas teguh. saya justru teratrik pada kata2 ana dan ani. banyaknya perempuan yang menjual lendir di gang dolly bisa jadi merupan bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja yang halal buat mereka. sejak jadul prostitusi memang rumit dan kompleks.
March 10, 2009 at 12:16 am
Halah mas sawali, kok ada bahasa lendir-2 toh yaa… hahahahaa…
Eniwe, spt kata orang, materi memang selalu jd alasan utk membenarkan sesuatu. Kalo dulu melacur ktnya nista, skrg ketika berkubang di dalamnya, lama2 hati pun jd terbiasa & merasa bhw itu tdk nista. Itu wajar, itu bagian dr kenyataan kita mencari nafkah.
Umur 19 udah ‘capek’ gitu, gimana umur 30 nanti? Ck ck ck..
March 10, 2009 at 1:47 am
wisma’ne jeneng’e opo? iso gae nggon jujukan gak? hahahahaha….
March 10, 2009 at 3:45 am
malang sekali memang nasib si Ana ini, yang harus diberantas yah makelarnya itu yang menjerumuskan orang baik2.
Tapi kalau dolly harus ditutup, kalo saya terus terang ga setuju. Soalnya yang seperti ini adalah penyakit masyarakat, kalau misalnya tempatnya ditutup, otoamatis penyakitnya nyebar kemana2 soalnya tidak ada wadahnya lagi..
March 11, 2009 at 12:02 pm
Sekali tercebur di bisnis beginian mah susah mentasnya… Keasyikan dalam segala hal, kali ya…
Terus mau mengandalkan siapa lagi kita ini? Benteng terakhir adalah bekal iman personal masing-masing orang.
Oh nasib…
March 11, 2009 at 1:03 pm
kasihan ana…
mbok gak usah ngekost, sesekali mampir ke rumah gitu.
*ngibrit…
fotone boleh saya comot gak mas teguh?
March 11, 2009 at 1:10 pm
miris ya mas… mbok ya pemerintah sesekali merhatiin mereka… supaya mereka keluar dari jeratan setan …
tapi ya akhirnya balik ke diri mereka sendiri. Kalo emang mau lepas, harus ada niat yg kuat, jgn sampe diperbudak uang dan nafsu.
*beugh… omong opo aku ki*
March 11, 2009 at 4:31 pm
Menarik, deep interview ya… mbok nek pas wawancara yang berkaitan dengan lendir2 gitu ngajak si Kyai Slamet atau Kang Ardyan, mesti do melonjak2 kegirangan…hahahha…
March 13, 2009 at 5:58 pm
Waduh kalo sudah tertangkap mafia-mafia itu … susah keluarnya … temenku Gaël jatuh cinta sama gadis manis PSK di Bali asal Jember/sekitarnya … hampir mati dikeroyok sama tukang pukul 2X mafia tersebut …
Gaël tak bisa mengajak cewek itu balik ke Perancis, ketika dia menunggu visa, keluarganya ditekan terus oleh bos mafianya … cewek itu tak terlalu kuat hatinya dan mengalah kembali ke Bali lagi …
March 14, 2009 at 1:39 am
Sayangnya jauh ama gang dolly.,, kalau jogja tuh namanya pasar kembang..
March 15, 2009 at 5:28 pm
susah lapangan kerja? betul… tapi sangat absurd kalo menjadikan ekonomi sebagai alasan…. gw pernah bikin postingan serupa beberapa taun lalu di http://ichanx.blogdrive.com/archive/o-23.html
March 17, 2009 at 12:21 pm
bisa jadi objek kajian ilmiah….
hehehehehe….
salam kenal ….
March 22, 2009 at 4:24 pm
halah halah miris juga bacanya om,hmmm
April 19, 2009 at 8:23 pm
sungguh mengerikan kehidupan ini ..
kapankah Indonesia menjadi baik, jauh dari prostitusi …
April 23, 2009 at 6:13 am
teuing ah, lieur. intinya, perkuat aqidah kita masing2 deh. yang udh terlanjur qt doain mdh2n ada jln untuk memperbaiki diri.
April 30, 2009 at 12:11 am
Wah, investigasi langsung ig.
June 22, 2009 at 6:44 pm
woiiiiii mantap jg th.. hihi.. salam knl ya..
September 4, 2009 at 8:40 pm
Saya sekali masuk ke komplex itu bersama anggota untuk melihat-lihat situasi. Woe ternyata raai sekali tho.
Melihat rambuk kami yang cepak-cepak ternyata mereka nggak berani nawari. ha..ha..ha
Salam hangat dari pakde
September 23, 2009 at 8:02 am
aku mau kesana dilayani dong tante