Tiba-tiba saja saya ingin berada di Valencia, Spanyol dan menikmati La Tomatina, festival tradisional yang digelar tiap Rabu terakhir di bulan Agustus. Perang tomat itu terlihat begitu mengasyikkan. Suka cita berbaur dalam lumuran warnah merah darah tomat-tomat yang telah matang. Biar sebiji, sebaskom, atau sekarung tomat-tomat mblenyek itu diguyurkan ke sekujur tubuh, tak ada emosi, tak ada dendam, tak ada permusuhan. Yang ada hanya tawa dan persahabatan.
Kalau berada di tempat itu, saya tak ingin merasakan tomat-tomat yang baunya menusuk itu. Tapi sekedar melihat. Karena pada saat itu tiba-tiba saja saya membayangkan terjadi perang laptop. Semua yang hadir saling lempar laptop. Kebetulan sebagai turis, saya ikut turun ke jalan dan menangkap sebuah laptop. Syukur-syukur dapat MacBook.
Tiba-tiba saja saya membayangkan demikian karena sudah beberapa bulan ini tak lagi pegang benda itu. Bukan dijual, tapi di…..Maka, aktivitas ngeblog pun terhambat. Terpaksa mengandalkan PC plus internet gratisan di kantor. Sungguh sial, dalam beberapa bulan terakhir ini login ke WP pun tak bisa gara-gara orang IT nge-banned. Kian panjang saja daftar tempat nongkrong yang diblokir setelah fesbuk, twitter, dll. Bos saya memang bukan jamaah bloggeriyah, fesbukiyah, twitteriyah, plurkeriyah, atau iyah-iyah yang lain di dunia maya. Bos saya cuma jamaah koraniyah, majalahiyah, tabloidiyah, kantorberitaiyah, dan segalamacambukuilmiahiyah. Mungkin karena itu dia tak rela anakbuahnya nggaya jadi peselancar, jadi wisatawan blog, atau tukang komen ala Kangboed.
Ah sudahlah, gak ada laptop dan koneksi diputus juga gak papa. Saya tak mau mengotak-atik karena kawatir gak barokah. Yang penting masih bisa tamasya blog dan masih bisa makan tomat. Sayang belum bisa ke Spanyol rek…
Ngapain juga ke penjara? Menghirup udara kebebasan begitu nikmatnya kok harus berada di sel sempit dan pengap. Sudah jelas, penjara itu neraka dunia. Tak percaya? Cermati saja tagline di Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur ini. MASUK PENJARA CUKUP SEKALI SAJA. Jelas kan..?
Entah saya yang kurang gaul ato memang demikian kenyataannya. Namun yang pasti, saya tak pernah menemukan Djarum LA Light Mentol 12 di Jakarta yang ruwet ini. Semua toko yang pernah saya masuki, entah itu dalam kampung, pinggir embong gede, pedagang yang punya kaki 5, ato ritel raksasa macam kerfur dan jayen juga tak ada. Saya jadi berpikir, apakah memang varian 12 itu tak pernah dilempar ke Jkt ya? He ada orang Djarum ga…? Ini sesungguhnya refleksi ketika pulkam beberapa waktu silam. Waktu tenggorokan teriak-teriak minta dimasuki asap dingin, segera kaki melangkah ke toko terdekat. Niat hati ingin menebus LA Menthol 16 seperti biasanya. Namun sungguh tak mengira ketika pelayan toko yang komes dan tahes tanya: Isi 16 apa 12 mas?
Bagi mereka yang bergulat di dunia media, terutama media cetak, artikel yang ditulis seorang
Tak ada kata yang tepat selain maaf. Begitu banyak komen di blog minimalis ini, namun saya tak bisa mengunjungi balik satu per satu. Bukan saya sombong atau tak tahu adat di blogosphere, namun waktu dan kesibukan dalam hampir sebulan ini memang membuat sy begitu terbatas untuk sekadar posting atau anjangsana (blogwalking).

Jangan jadi orang nanggung alias setengah-setengah kalo pengin dikenal. Terserah, jadi orang paling pinter ato paling bodoh, paling cerewet ato paling diam sekalian. Mau jadi politisi bersih atau politisi busuk, pasti dikenal rakyat. Striker paling tajam akan jadi bahan pemberitaan, sama halnya dengan striker paling mandul.





