beautiful pilipinos

Ingin menghabiskan waktu berlibur di Filipina? Sah-sah saja. Negara yang pernah hidup dalam kendali rezim Marcos ini punya banyak hal bagi wisatawan. Pusat perbelanjaan megah, tempat indah, dan kekayaan hayati. Tapi jika memakai ukuran berliburan itu adalah berada di tempat yang luar biasa indah, sejuk, nyaman hingga layaknya paradise, Filipina bukan alternatif yang baik. Filipina bukanlah Indonesia yang memiliki tempat-tempat hebat dan dahsyat. 

 

di sini Magellan's Cross berada

Eksotika alam dan keragaman hayatinya tak tertandingi. Gak cuman Bali kok. Telusuri aja setiap jengkal bumi pertiwi ini, pasti bibir kita bakal berdecak. Jejakkan kakimu ke Semeru yang biru, maka bibir bakal bergetar merasakan kegagahannya.  Filipina memang bukan Indonesia. Tempat-tempat yang dijual ke wisatawan sebagian besar adalah bangunan-bangunan bersejarah. Kebanyakan gereja. Ini wajar saja karena Kristen adalah mayoritas di negara tetangga Sulawesi ini.  So, kalo memang liburan yang dicari itu berkategori history traveling, Filipina salah satu tempat yang baik untuk disambangi. Saat mengikuti perjalanan Bank ABN AMRO Indonesia, saya merekam nuansa kota dan wisata di sanaDari waktu ke waktu Cebu terus menggeliat menjadi pusat bisnis tersibuk selain Metro Manila. Namun, di balik itu, Cebu juga tetap menebarkan pesona wisata sejarah dan alam yang eksotik. Lungsod ng Cebu, begitu sebutan Cebu dalam bahasa Tagalog, bahasa asli Filipina. Berada di antara Luzon (Filipina utara) dan Mindanao (Filipina selatan) Cebu memang sangat strategis. Tak heran, infrastruktur tumbuh pesat untuk mendukung mobilitas penduduk yang semakin tinggi. 

Kendati terus beranjak menjadi kota Metropolitan, Cebu terhitung lebih ramah dibandingkan Manila. Setidaknya, tingkat keruwetan lalu lintas dan pemandangan kumuh tak separah ibu kota Filipina itu. Masih terdapat ruang-ruang kosong di beberapa titik jalanan kota berpenduduk lebih dari dua juta orang itu yang memuluskan laju kendaraan. Jangan berharap mendapati banyak tempat elok dengan pemandangan super indah di ibu kota Filipina bagian tengah (visayas) ini. Kebisingan, gedung-gedung bertingkat, dan lalu lalang pebisnis terasa dominan. Tapi, jangan terburu-buru untuk tidak langsung melirik.

Cebu tetaplah Cebu, kota dengan segala keindahan unik. Dari Jakarta, Cebu dapat ditempuh dengan perjalanan udara sekitar 5,5 jam. Empat jam pertama adalah trip Jakarta- Ninoy Aquino International Airport (NIAI) Manila. Kemudian 1,5 jam berikutnya adalah Manila- Mactan Cebu International Airport. Menariknya, bandara internasional ini tidak berada di Kota Cebu (Cebu City) yang menjadi pusat kota Cebu, melainkan berada di Pulau Mactan, yang berjarak 20 menit perjalanan. Dari bandara menuju Cebu City, harus menyeberang melewati sebuah jembatan megah bernama Marcelo B Fernan sepanjang 882 meter.

”Di bangun dengan dana lebih dari USD3 juta, ini adalah jembatan termahal di Cebu,” ujar Amando Rodriguez, penduduk setempat. Sesungguhnya ada satu jembatan lagi yang juga menghubungkan Pulau Mactan dengan Cebu, yakni Mandaue-MactanBridge. Jembatan ini lebih pendek dan kecil. Sepanjang perjalanan menyusuri lintasan aspal menuju jantung kota, identitas pusat bisnis wilayah ini terasa begitu kental. Perkantoran, pergudangan, dan industri sudah langsung menyapa mata.

Dengan segala geliat modernitasnya itu, tak salah Cebu pada Januari lalu menjadi tuan rumah ASEAN Summit. Sisi indah pulau yang disebut Dakbayan sa Sugbo dalam dialek Cebu ini adalah kekayaan peninggalan sejarahnya. Salah satu yang tersohor adalah Salib Magellan (Magellan’s Cross). Salib Magellan ditancapkan oleh Ferdinand Magellan, yang mendarat di Filipina pada 1951. Magellan adalah seorang pelaut Portugis yang berlayar atas nama Spanyol. Magellan adalah orang pertama yang berlayar dari Eropa ke barat menuju Asia, orang Eropa pertama yang melayari Samudra Pasifik, dan orang pertama yang memimpin ekspedisi yang bertujuan mengelilingi bola dunia.  

pelabuhan Tagbilaran, Cebu

 

Penancapan salib itu sekaligus tanda koloni Spanyol atas Filipina. Tidak hanya itu, Salib Magellan menjadi simbol penyebaran agama Katolik di Filipina. Belakangan, Magellan akhirnya terbunuh oleh penduduk lokal bernama Lapu-lapu. Hanya beberapa langkah dari Salib Magellan berdiri Gereja Santo Nino atau Basilica Minore del Santo Nino. Salah satu gereja tertua di Filipina ini dibangun pelaut Spanyol Miguel Lopez de Legazpi dan Andres de Urdaneta. Di gereja ini terdapat boneka kayu Santo Nino (bayi Yesus) yang merupakan hadiah dari Magellan kepada istri Raja Humabonon, ratu Juana yang pemeluk Katolik. Setelah sempat terbakar hebat, gereja ini akhirnya direvitalisasi pada 1602 dan diperbaiki ulang pada 1740.

Pada Agustus lalu, gereja ini juga tengah direnovasi.  Dua bangunan bersejarah ini terletak di keramaian kota. Tak perlu berjalan jauh-jauh dari jalan raya karena hanya sekitar dua meter saja dari aspal. Karena telah menjadi destination tourism (tujuan wisata), aneka macam souvenir banyak dijajakan di tempat ini. Namun, bukan di kios-kios, melainkan ditawarkan langsung oleh penduduk setempat. Gitar buatan Cebu adalah yang paling banyak dijual di tempat ini. Selain itu kalung manik-manik dan kerang berbentuk kepik (keong) yang diukir bertuliskan kata ”Cebu” dengan background pemandangan. Pandai-pandailah menawar jika tertarik. Untuk kerang bermotif seukuran kepalan tangan orang dewasa, pedagang biasanya menawarkan pada harga 100 peso atau 85 peso. Namun, mereka akhirnya bersedia melepas pada harga 50 peso atau sekitar Rp10.000 (1 peso=Rp202,7) .

Bangunan tua penuh sejarah tak sekadar Salib Magellan dan Gereja Santo Nino. Kekayaan sejarah juga tertanam pada bangunan tua bernama Benteng San Pedro (Fuerza de San Pedro). Miguel Lopez de Legazpi adalah orang di balik pembangunan benteng dengan landskap segitiga ini. Dibangun dengan posisi menghadap laut, benteng ini menjadi tameng untuk menangkal serangan bangsa asing dan bajak laut. Pada awalnya, benteng ini keseluruhan terbangun dari susunan kayu-kayu. Tapi karena terbakar, dibangun ulang dengan batu karang yang keras.  Dalam perkembangannya, benteng ini tak lagi berada di tepi laut. Pasalnya, pantai di depan pantai telah direklamasi dan menjadi pelabuhan. Begitu luasnya pantai yang direklamasi plus banyaknya bangunan yang berdiri, untuk mengintip laut tetap saja susah meski sudah harus berdiri di bagian puncaknya.

Pada salah satu sisi, yang terlihat malah Kantor Pos Cebu. Benteng yang juga pernah diduduki Jepang semasa menginvasi Filipina itu kini telah difungsikan menjadi museum. Di dalamnya terdapat peninggal penting yang menunjukkan sejarah pembangunan benteng ini. Di antaranya, dokumen berbahasa Spanyol, lukisan, ruang belajar, tempat tidur, dan meriam. Memasuki mulut gerbang benteng, pengunjung sudah langsung disambut gambar-gambar dan cerita tentang sejarah pembangunan benteng yang mulai berlumut ini. Rentetan gambar itu dipajang di sisi kanan dan kiri tembok. Hanya sekitar lima meter, langkah kaki sudah berada di ruang belakang benteng. Bagian yang dulunya tempat berbaris para legiun ini kini telah disulap menjadi taman dengan hamparan rumput hijau dan bunga-bunga beraneka warna.

 

Jeepney, angkutan khas Filipinos

Biasa saja? Memang demikian.Tapi ada yang menarik. Di sudut taman terdapat sebuah kios souvernir yang cukup besar. Pemilik kios punya kiat jitu untuk menarik minat belanja wisatawan. Dengan gitar akustiknya, dia menyanyikan lagu-lagu berbahasa Tagalog. Iramanya rancak. Semakin menarik karena anaknya yang masih bocah mengiringi lagu itu dengan tarian. Jadilah duet itu mengundang mata turis untuk menikmatinya. Mumpung berada di benteng San Pedro, tidak ideal jika tak menjelajahi isinya. Dari kios souvenir tadi, terdapat jalan naik yang ternyata menuju bagian atas benteng. Taman yang tak begitu luas menghiasi bagian ini. Di salah satu sudut terdapat meriam tua dengan moncong melewati sisi luar tembok. Meriam inilah yang dulunya digunakan para tentara untuk menghalau musuh.          

Advertisements

One response to “beautiful pilipinos

  1. wah sudah melanglang ke mana-mana rupanya …
    dilihat dari pemaparannya .. ini sebuah pertanda bahwa dari sisi wartawan segala sudut menjadi terpikirkan ya Mas sehingga kelak menjadi sebuah cerita yang detil … ckckck 🙂

    ah bisa aja panjenengan Kang…ini cumak asal nulis dari pergi gratis hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s