Loboc River

01-snipshot-1.jpgMasih soal Filipina.Datang ke Loboc di Pulau Bohol, tidak lengkap tanpa menyusuri aliran air sungai Loboc (LobocRiver). Sungai yang sebagian besar mata airnya dari kawasan Gunung Guimba ini menyambung dengan sungai Loay yang berhilir di laut Loay. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari sungai selebar sekitar 20 meter ini. Warna airnya hijau keruh. Pemandangan di sisi kanan kirinya juga hanyalah pohon-pohon dan berbagai jenis vegetasi khas tepi sungai.

Jika dibandingan dengan Bengawan Solo yang membelah sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur, sungai ini jauh kalah dahsyat. Dibandingkan dengan Sungai Citarik di Jabar pun, sungai Loboc kalah segalanya. Jika Citarik begitu memesona dengan kejernihan airnya dan berpuluh-puluh jeramnya, aliran sungai Lobocflat (datar) dan tak terlalu deras. Lantas apa yang menarik? Disinilah sisi hebatnya Pemerintah Provinsi Bohol dan pemerintah daerah Loboc.

Mereka mampu menyulap sungai kusam ini menjadi jujugan wisata yang menarik. Menginjakkan kaki di sungai ini, wisatawan akan langsung dibawa ke atas sebuah restoran terapung yang mampu menampung 50 orang. Di dalamnya berjajar tiga meja. Dua di antaranya dilengkapi kursi-kursi plastik di sisinya untuk duduk para pengunjung. Sementara meja panjang di tengah, menjadi tempat aneka macam makanan untuk disantap setiap saat. Ini bukan sekadar restoran biasa. Tempat makan dengan atap pelepah daun kelapa ini terhubung dengan sebuah kapal kecil bermesin diesel dengan kekuatan 12-16 PK.

Begitu wisatawan masuk kedalamnya, resto terapung yang semula tertambat di tepi sungai ini perlahan akan bergerak ke tengah. Selanjutnya, kapal itu akan mendorong restoran ini melaju menyusuri sungai menuju arah hulu sejauh kurang lebih lima kilometer. Tak hanya vegetasi sungai dan hutan hujan tropis, pemandangan seru lainnya adalah lalu lalang kapal serupa. Tak jarang, restoran yang kita tampangi berjalan bersama restoran lain atau malah kadang berlawanan arah layaknya mobil-mobil di jalanan. Objek ini sangat cocok untuk menjadi bidikan lensa. Perjalanan selama kurang lebih 45 menit dipastikan tidak akan terasa. Selain iringan lagu dari seorang penyanyi, beragam makanan mengundang selera tersaji. Ada guso atau  tumis rumput laut dengan rasa sedikit pedas.

Kemudian baka, daging sapi masak kecap dengan campuran beberapa sayur. Tapi ada juga baka dengan bahan dasar fork (daging babi). Jangan lewatkan untuk mencicipi kue putu kucinta, atau putu. Makanan ini sebenarnya tak berbeda dengan di Indonesia, berbahan dasar ketan yang dikukus. Kesempurnaan menyusuri sungai Loboc terjadi ketika restoran terapung ini menyentuh daerah hulu, di mana kapal tak mungkin lagi melaju karena alirannya menyempit. Di situ, beberapa gruk musik menyapa wisatawan dengan lagu-lagu rancak dengan iringan gitar akustik kecil. Mereka ini juga terapung di atas sungai.

Bedanya, tempat mereka berpijak adalah semacam gubuk kecil yang tak bisa bergerak alias menetap. Restoran terapung yang akan menghampiri grup musik lokal ini.

Tiap grup bisa terdiri dari 15 orang, yang rata-rata adalah penduduk lokal di tepi sungai. Tak hanya menyanyi, mereka juga menampilkan tarian atraktif. Siapapun tidak dilarang untuk bergoyang bersama mereka. Konser ala sungai Loboc ini gratis. Tapi, tidak ada salahnya memasukkan beberapa lembar peso ke donation box yang mereka bawa. Mahal kita Loboc. Aku cinta Loboc(*)

Advertisements

2 responses to “Loboc River

  1. sepertinya masyarakat disana suka menyanyi dan menari ya mas zen..

    lagi coba membayangkan bengawan solo juga punya gubuk2 kecil itu.. disana mengalun tembang jawa yang merdu itu, hwaa..

    **mimpi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s