Tamparan Tuhan

Senin malam, 10 Desember 2007, usai deadline, Ahmad Senoadi mengajak makan bareng anak-anak Jatim. Mbadok berjamaah ini merupakan syukuran kecil-kecilan setelah dia pulang dari Vietnam beberapa hari sebelumnya. Berdelapan, aku, ahmad, Alvin, Tofix, Edi Brekele, Suwarno, bos Alex, Muhibudin, dan dia menikmati malam di Menteng. Kalau sudah di Menteng, makan memang nomor dua. Yang pertama jelas, melihat mahakarya Tuhan yang berlalu lalang, he..he.. Makanan datang. Lhap..lhap..lhap…ludes. One stick jadi peneman frestea tersisa. Beres, buyar bareng-bareng. Bukan soal makanan itu yang menjadi pengalaman indah. Tapi, perjalanan balik dari Menteng itulah yang akan selalu terngiang dalam otak. Dari Menteng, aku biasanya putar balik menuju Sarinah untuk kemudian melesat melewati Tanah Abang-Kemanggisan-dan kebon jeruk tercinta. Tapi, entah mengapa dini hari itu aku memutuskan menginjak Sudirman dan kemudian menelusup Landmark, sebelum tembus di depan Shangri-La Jakarta dan sampailah ke Karet Bivak.

Rute ini memang lebih pendek. Dari Bivak tinggal lurus aja nyampe daerah belakang Pasar Palmerah. Dari Palmerah ke kebon jeruk kan tinggal selemparan ganja, eh batu. Bukan tanpa alasan bila biasanya aku menghindari rute ini. Terutama waktu siang. Plat motorku telah mati dua tahun. Apalagi luar kota pula. Mana ada polisi Jakarta yang kenal plat S..? (padahal ini huruf eksklusif untuk tiga daerah serumpun, yakni Ciprus, Yunani, dan Malta. Eh salah. Yang bener Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan). Masa berlaku nopolku udah tamat 2005 lalu. Begitu juga pembayaran pajak yang setali tiga uang. Hebatnya, tak ada SIM pula.

Sebenarnya ada sih…tapi dia lagi menginap dengan nyaman di Pengadilan Negeri Jakbar sejak aku ketilan di perempatan Slipi lima bulan sebelumnya. Selama ini, aku (alhamdulillah) tidak pernah kena polisi. Mungkin rute rumah dan kantor yang relatif aman yang membuat plat ini tak pernah diburu polisi. Beberapa kali memang kejebak operasi, tapi, syukurnya lolos juga. Tapi dinihari itu memang sial buatku. Perasaan sudah tidak enak ketika nyampe di perempatan karet bivak. Red Light menyala. Aku berhenti. Aku tahu harus tertib karena di seberan sana, dua polisi penunggang kuda besi gede (BM) tengah menilang pengendara motor yang mungkin main terabas aja. Pikirku, kalau aku tertib, pasti tidak akan dihentikan.

Kehadiran dua polisi itu rupanya juga disadari pengendara-pengendara lain yang searah denganku. Buktinya, mereka juga berhenti. Padahal, mana ada orang Jakarta mau berhenti di lampu merah jam 2 pagi buta. Siang bolong aja ditrabas kok. Lampu hijau datang. Kupacu pelan shogun keluargan 97 kesayanganku. Tapi sungguh, perasaan sangat tidak enak. Firasat buruk itu akhirnya terjadi. Aku memang tidak ditilang oleh polisi itu. Sungguh sial, saat aku melaju sparuh jalan, dari arah Casablanca (kantor Bisnis Indonesia) melaju dua BM Polda Metro Jaya. Alamak, tertangkaplah aku. Disuruhnya aku minggir. Satu polisi turun mendatangi aku. Sementara satunya yang lebih tua masih di motor, berjaga persis di belakangku (takut kabur kali).

”Selamat malam pak. Bisa lihat surat-suratnya,” pertanyaan standar kepolisian itu menyapa. Kulirik sepintas wajahnya yang tengah berkerut dan galak. ”Ya pak, saya salah apa,” kataku. ”Bapak ini melanggar lampu merah. Ini juga tidak ada spion. Platnya juga sudah mati,” katanya galak.”saya nggak nglanngar lampu merah pak….sa.,”suaraku terputus.”Saya lihat sendiri bapak melanggar lampu merah. Ini juga SIM tidak ada. Kesalahannya sangat banyak,” sergahnya tak mau didebat.”Siap salah ndan..” kataku. Dia sedikit terkejut. Batinnya, ngapain panggil-panggil Ndan. Benar juga dia langsung pasang mulut tajam. ”Anda ini apa, polisi, TNI, pengacara,” tanyanya beruntun. ”Saya temannya polisi ndan,” kataku. B

enar aku memang pernah berteman dengan beberapa polisi. Dulu, saat masih tugas di Surabaya. Lha di lipatan STNK-ku juga ada kartu nama perwira polisi berpangkat AKBP yang dinas di Polda Jatim. Rupanya,dia tidak mau melepas begitu saja aku. ”Kesalahan anda sangat banyak. Ini motor harus disita.” Aku jawab ringan. ”siap ndan.” Tapi tampaknya dia mulai bingung. Diserahkannya SIM dan STNK ku itu ke polisi seniornya. Sang senior turun dari mogenya. Pake sorot kecil lihat dokumen motorku yang telah game over masa edarnya itu. ”Motor ini saya sita di Polda. Kamu urus di sana. Sanggup kamu,” ucapnya keras.”Siap ndan,” jawabku. Polisi senior ini tampaknya memang sudah makan asam garam dalam urusan tilang menilang. Gak pake banyak bumbu, langsung main tembak saja. Mereka berdua melajukan motornya, sementara aku mengekor.

Entah mengapa, motor mahal mereka dipacu dalam kecepatan superminmal. Jalan 5 km/jam. Aku menebak-nebak, mereka tengah memikirkan, aku ini enaknya mau diapain. Mau ditarget kok ya punya temen polisi. Sekitar 1 km dari perempatan karet, sudah masuk darah Benhil alias Bendungan Hilir. Mereka berhenti. Polisi tua turun, memanggil aku. ”Sini kamu.”polisi.jpgAku mendekat. Tanpa diduga, aku dihatam pertanyaan seperti ini. ”Kamu kerja buat apa..? Apa buat anak dan istrimu..?””Siap ndan. Aku kerja demi keluarga, anak dan istri,” jawabku.Dia menatap tajam. Sepersekian detik kata-katanya meluncur lagi. ”Gimana mau menghidupi anak istri kalau hidupmu masih kotor begini. Kamu jangan sok, sombong. Jangan mentang-mentang tahu polisi, terus bisa seenaknya.”

Dia berhenti berucap. Aku tertunduk. ”Jangan bilang gak ada waktu untuk ngurus surat-surat seperti ini. Kamu itu sombong, sok jagoan ya. Hidupmu itu kotor kalau urusan begini saja kamu langgar,” katanya. ”Siap tidak ndan,” kataku pelan. Dia serahkan kembali SIM dan STNK expire date-ku. ”Saya gak mau lihat kamu lagi suatu saat nanti,”. Mereka berdua berlalu. Aku tertegun. Sungguh, kata-kata itu begitu tajam menusuk relung hatiku. Dalam perjalanan yang tinggal sepenggalah, pikiranku kacau. Otakku terus memutar kata-kata ”Hidupmu masih kotor,”.Kata-kata polisi bijaksana itu terkesan sederhana. Tapi buatku, bak petir yang dilempar dari lapisan langit terjauh.

Ya, aku memang masih kotor. Aku hanya kerja, kerja, dan kerja. Aku jarang sholat, sebagaimana dulu. Aku juga jarang beramal meski gaji lancar tiap bulan. Benar dia, aku memang kotor karena banyak tanggung jawab di rumah yang masih kuabaikan. Aku sadar, aku harus berbenah.Terima kasih pak. Kata-katamu seperti TAMPARAN TUHAN MAHAKERAS KE PIPIKU YANG TEBAL DENGAN KEALPAAN INI.

Advertisements

4 responses to “Tamparan Tuhan

  1. Astaghfirullah…aku yo melu tertampar kang. Podo ae, SIM-ku mati sejak 2002, pajak gak tak bayar. Opomaneh sholat, wadaouww…jembret. Suwun dielingno…saiki tak njupuk sarung.

  2. lingkungan kadang membentuk kepribadian kita…ada orang bilang..” kumpul kyai katut alim, kumpul penjahat ikut jadi jahat” observasi lagi lingkunganmu..mana yg cocok buatmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s