Minto’s Stone

 MENELUSURI ASAL MUASAL BATU MINTO (1)

Batu Minto (Minto’s Stone) menjadi perbicangan setelah pengusaha Hashim Djojohadikusumo berencana membawanya kembali ke Tanah Air dari Skotlandia. Selama ini, orang hanya mengetahui bahwa batu itu dulunya berasal dari Dusun Ngandat, Kota Batu. Tapi persisnya dimana, tak banyak yang mengetahui.

MENELUSURI jejak keberadaan benda purbakala yang juga dikenal sebagai Prasasti Sangguran di tempat asalnya di Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kec Junrejo, Kota Batu, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Hampir tidak ada tanda-tanda khusus yang menunjukkan bahwa benda bersejarah itu pernah berada di kawasan agraris ini. Data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) juga tidak menyebut secara pasti lokasi prasasti yang diyakini menjadi pertanda peralihan dari Kerajaan Mataram ke Jawa Timur ini. Jejak prasasti ini hanya diperoleh dari tokoh-tokoh desa yang memiliki informasi keberadaannya secara turun temurun. Sekadar gambaran, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, berada di sisi tenggara timur pusat Kota Batu, berjarak sekitar 6 kilometer.

 Seperti kebanyakan desa-desa lain, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani padi dan sayur-mayur. Berbeda dengan beberapa desa di Mojokerto yang sangat kentara pernah menjadi kawasan kerajaan dengan adanya candi-candi, tidaklah demikian dengan Dusun Ngandat. Wilayah ini bahkan terus berkembang ke arah modern. Jangankan candi atau bangunan tua lain, banyak rumah penduduk yang berarsitektur masa kini. Jalan desa beraspal mulus. Teknologi juga telah menyapa ramah. Karan tidak ada tanda-tanda itu, banyak generasi muda di Dusun Ngandat yang tidak tahu bahwa tempat tinggal mereka pernah berdiri sebuah prasasti bernilai sejarah tinggi. Lantas di mana sebenarnya lokasi Batu Minto itu? Munir, salah satu tokoh desa mengatakan, Prasasti Sangguran diyakini berada di belik  tengah. Belik adalah istilah Jawa untuk penyebutan mata air. Disebut belik tengah karena berada di tengah desa. Lelaki paroh baya ini menceritakan, semasa dia kecil, sekitar tahun 60-an, belik itu masih ada. Airnya mengalir sangat bening dan menyegarkan. Seiring perjalanan waktu, Dusun Ngandat yang semula hanya dihuni segelintir orang itu terus berkembang. Lahan-lahan pertanian dan kebun banyak yang telah menjadi rumah. Di tempat belik tengah itu, kini berdiri Vihara Dhammadipa Arama, vihara terbesar di Kota Batu, yang berada persis di sisi jalan raya Malang-Kota Batu. ”Belik tengah itu dinaungi pohon beringin besar. Di dekat belik itu terdapat palataran yang sangat luas,” ujarnya kepada SINDO. Keyakinan bahwa Prasasti Sangguran itu berada di areal belik tengah itu didapatnya dari kakek buyutnya. ”Dia bercerita, jauh sebelum menjadi vihara, di dekat belik tengah itu terdapat batu besar bertuliskan aksara Jawa kuno,” katannya. Dia menambahkan, kakek buyutnya juga menyebut bahwa batu besar di sekitar belik diambil tentara VOC. ”Dia menceritakan, batu  besar itu di bawa ke negeri asal penjajah sebagai hadiah untuk salah satu tuan di negeri mereka,” ucapnya.  Antara percaya dan tidak percaya, Munir hanya menyimpan cerita itu sebagai khasanah pemikirannya. Bertahun-tahun berlalu, dia kemudian menyadari bahwa yang diceritakan kakenya sangat mungkin terjadi. ”Kalau saya diminta percaya juga sulit. Sebab, saya sendiri belum pernah melihat benda purbakala itu. Tetapi kalau kita tarik benang merah, bisa jadi cerita kakek buyut saya itu bukan gurauan,” jelasnya, tampak terheran. Sekadar diketahui, dalam literatur yang ditulis Djulianto Susantio,Prasasti Sangguran sesuai dokumentasi adalah sebuah prasasti batu. Tahun penemuannya dan siapa penemunya tidak tercatat, namun tempat penemuannya diketahui berada di Ngandat, Malang. Alih aksara prasasti ini pernah dilakukan oleh JLA Brandes dan NJ Krom kemudian dimuat dalam Old Javaansche Oorkonden. Disebutkan, sewaktu menjadi Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda (1811-1815), Stamford Raffles membawa prasasti tersebut ke tempat kediaman Lord Minto di Skotlandia, sehingga dikenal dengan nama “Batu Minto”. Lord Minto adalah Gubernur Jenderal Inggris di India dan atasan Raffles. Batu itu, sampai kini masih bermukim di sana dan dimiliki oleh keluarga Minto secara turun temurun. Yang luar biasa, Prasasti Sangguran memiliki ketinggian dua meter dengan berat mencapai 300 ton. Belum diketahui bagaimana cara Raffles membawa batu berat itu ke Skotlandia. Prasasti Sangguran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Isi pokoknya adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928.  “Mungkin batu besar itu sebagai tetenger (penanda, tempat mengingat) di sekitar Dusun Ngandat pernah singgah seorang Raja Mataram. Atau kalau tidak begitu, batu besar itu merupakan hadiah Raja Mataram, untuk warga Ngandat. Atau bisa juga, sebagai batas wilayah   pemekaran Kerajaan Mataram, di wilayah timur Pulau Jawa,” paparnya menerka.  Di tempat yang diyakini lokasi batu Minto itu kini berdiri patung Dewi Kwan Im. Kemungkinan batu Minto terletak di situ sangat kuat karena di bawah patung juga terdapat kolam. Bisa jadi kolam itu merupakan sisa mata air belik tengah. Selain itu juga terdapat pohon beringin.  Dalam jumpa pers beberapa waktu lalu di Jakarta, Ketua Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusumo (YKHD), Hashim Djojohadikusumo, berencana memulangkan prasasti itu ke Tanah Air. Rencana itu ditarget hingga akhir 2008. Prasasti yang juga kerap disebut sebagai Lord Minto itu akan ditempatkan di Museum Nasional. (maman adi saputro/bersambung) 

Advertisements

One response to “Minto’s Stone

  1. saya sebagai orang yang telah lahir dari dukuh ngandat ikut merasa bangga karena telah mengetahui rahasia hebat dan besar dari daerah yang di suakakan saat kebesaran silam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s