Ya, Milan Kalah!

Pedih rasanya melihat Milan tumbang dinihari kemarin. Aku yang selalu berkoar-koar di kantor tentang betapa hebatnya ‘Setan Merah’ langsung terkulai lemas, tanpa daya. Satu hari sebelum leg kedua meladeni The Gunners itu, aku bahkan memprovokasi para fans berat klub London itu.

 Ku bilang, ” Di Emirates saja Milan mampu menahan imbang, gimana kalau main di San Siro?” .  Banyak yang mencibir mendengar ini, terutama mereka para pendukung Arsenal yang langsung meng-counter habis-habisan.

Petaka itu akhirnya datang jua. San Siro yang selama ini menjadi kuburan bagi tim-tim lain di level Eropa, seperti tak mau menunjukkan tuahnya. Milan rontok di tangan meriam-meriam muda . Semua orang tahu itu.

Lantas mengapa Milan, sang juara bertahan Liga Champions, itu bisa tergeletak begitu saja dengan 0-2? Biarpun rossonerri sejati, aku sepakat bahwa permainan Arsenal jauh lebih memikat.

Aku gak bisa membayangkan bagaimana seandainya Ebou bermain kesetanan malam itu. Gawang Milan bisa saja kebobolan berulang-ulang. Ebou yang menopang Adebayor di sisi kanan kerap lepas dari pengawasan karena empat bek sejajar Milan mati-matian membendung amunisi asal Togo, Adebayor. Untung saja, Ebou tak sebrilian biasanya. Terbukti belakangan dia digantikan Walcott.

Arsenal efektif memainkan skema ofensif dengan dukungan gelandang-gelandang enerjik dan mematikan. Cesc Fabregas sukses besar memaksa Milan turun setengah lapangan. Pun ketika Diavollo rosso mampu melakukan counter attack, Flamini dan Hleb berubah jadi tembok yang langsung mematahkan Pirlo dan Kaka. Ya, Kaka memang mati kutu. Tak ada umpan-umpan dahsyat yang bisa langsung dikonversikan menjadi gol. Bahkan, untuk mencari ruang gerak pun dia nyaris tak bisa. Arsenal begitu rapat menguncinya.

Hukum alam pun terjadi. Ketika sang playmaker tak bernyawa, apalah artinya striker. Pato dan si pembawa keberuntungan, Inzaghi, hanya bisa naik turun tanpa mendatangkan ancaman sedikitpun.

Arsenal lebih cerdas, itu betul. Tapi, kehebatan Arsenal bukanlah 100% dari mereka. Anak-anak Le Professeur ikut diuntungkan dengan remuk redamnya skuad kota Mode. Ramalan bahwa Milan akan mengepak koper lebih cepat rasanya tak berlebihan karena tim ini memang tengah compang-camping. Kaka tak cukup baik malam itu karena sedang cedera. begitu juga si bebek Pato. Sama seperti Milan, dia juga sedikit dipaksakan. Celakanya, Genarro “Rhino” Gattuso yang seharusnya malaikat pencabut nyawa bagi Fabregas ternyata malah berkubang dalam kuburannya sendiri. Dia tak cukup hebat untuk bergerak dan membendung liukan alumnus Akedemi Sepak Bola Barcelona (La Masia) itu. Tak dimungkiri, kemampuan Gattuso sudah merosot tajam. Apalagi, otot paha yang tertarik memaksanya harus berjuang dengan separuh tenaga.

Ah sudahlah. Milan memang lagi hancur. Sangat pedih memang melihat raksasa Eropa ini terkapar.  Sedihnya lagi, tumbangnya mereka telah membuat Rp100.000 ku ikut melayang. Cepek terpaksa kuserahkan ke Bos yang memang Arsenal banget gitu loh!

Padahal, andai Milang menang, dan aku dapat Rp100.000 dari Bos, aku mau beli super supreme Pizza Hut ukuran large nyam..nyam..

Dasar apes…..Jancukkkkk…..!!!! 

(foto by reuters)

Advertisements

One response to “Ya, Milan Kalah!

  1. Hmmm..Salut juga membaca kejujuran & sikap gentle seorang Zen Teguh. Jujur aja semua terkejut dengan hasil di San Siro, tak terkecuali aku yang fanatic The Gunners. JIka mereview laga itu, banyak fakta yang bisa diulas, tentu soal kemenangan The London Reds & kekalahan Rossoneri. Satu hal yang terpenting, Kaka dkk lupa bahwa pertahanan seharusnya menjadi sektor paling penting menghadapi tim seperti Arsenal. Ingat bahwa pertahan Milan-lah yang memaksa hasil imbang di Emirates. Dengan menumpuk minimal 6-7 pemain bertahan, Arsenal yang lihai bola pendek dan satu sentuhan akan frustrasi. Dan terbukti, pertahanan Milan yang renta dan kelelahan, tak mampu membendung Walcott atau Fab yang gemar bergerak & berlari. Tapi di sisi lain tak bisa menyalahkan MIlan karena di pertandingan ini menyerang adalah pilihan mau tak mau. Harus ada gol yang tercipta membuat Milan lebih ofensif dan hanya menyisakan empat bek sentral. Tuntutan harus mencetak gol, juga membuat Milan tak mengendalikan tempo permainan. INI PENTING!!! MIlan adalah tim yang jago memainkan tempo. Dan itu tak terlihat di laga menjamu Arsenal. Itu dari sisi teknis, untuk non teknis kayaknya kedua tim juga sedang pincang. Arsenal tak bisa memainkan Toure, Rosicky, da Silva atau van Persie. Sepakat dengan Kaka, MIlan butuh perombakan musim depan. Minimal separo tim harus lebih bugar, karena di luar sana pemain-pemain muda yang tengah gemar berlari mulai tumbuh subur. Bayangkan jika ada 5-6 pemain seperti Pato, muda & berbakat. Milan akan kembali merajai….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s