Teteh Manis, sebuah Modus…..

ice-tea.jpgCobalah datang ke kawasan Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat.  Di tempat semrawut itu, berdiri berderet-deret warung menyajikan aneka makanan. Semuanya ada. Mau warteg, bakso, soto ayam Madura, soto ayam Lamongan, ayam bakar, dll tinggal pilih aja. Lagian gak mahal kok. Namun, pilihan menjadi terbatas ketika malam tiba. Tidak semua warung yang saat matahari memancarkan sinar buka, malam harinya tetep open.

Di antara sedikit pilihan itu, salah satunya adalah warung roti bakar. Letaknya persis di perempatan di bawah kolong rel. Dari arah barat Wahid Hasyim (ikan bakar Babe Lili) terletak di kiri jalan. Kalo melaju dari utara di Jalan Kebon Sirih, tinggal belok kiri aja.

Layaknya warung roti bakar lain. Menu wajib lain juga tersedia. Kopi, susu, dan panas, teh manis, mi instan rebus dan goreng, juga happy soda.

Ini bukan soal promosi kuliner. Sebab, sesungguhnya tak ada yang istimewa dari warung ini. Selain rasa yang sama dengan warung-warung serupa di tempat lain, harga juga tidak murah-murah amat. Ya, standartlah. Belum lagi tempatnya yang boleh dibilang bau karena dekat dengan tempat sampah pasar Gondangdia.

Tapi, tetap saja ada yang berbeda. Pelayan warung ini adalah sosok wanita muda, cantik/manis, tubuh proporsional, dan murah senyum.

Tak heran banyak pelanggan datang. Rata-rata anak muda. Di kalangan kantor, Edi Brekele adalah salah satu pengagum warung ini. Aku juga tahu dan masuk warung ini karena dia. Tidak hanya Brekele sebenarnya. Asistennya, si Sukram, luar biasa bersemangat ketika tahu akan diajak ngopi di sini. Begitu pula manusia super saturday Muhibudin Kamali, pria kehausan Suwarno, dan Gudang Garam Man Ahmad Senoadi.  

Aku jadi teringat kala di Tuban. Memasang wanita cantik sebagai pelayan dilakukan hampir semua pemilik warung makanan. Terutama yang buka malam. Jika sempat menginjak kota  northsea side ini, lihatlah warung-warung di kawasan Pantai Boom. Rata-rata warung nasi pecel yang buka malam itu mayoritas pelayannya adalah wanita-wanita muda. 

Terbukti, mereka telah menjadi magnet bagi konsumen. Warung-warung dengan pelayan bahenol ini bahkan bisa lebih ramai dari warung lainnya yang benar-benar enak masakannya. Makan sambil menggoda wanita-wanita itu adalah alasan utama kenapa banyak orang mau datang ke sana meski rasa masakannya terkadang gak jelas.

Boleh percaya boleh tidak, tanpa wanita cantik, warung tidak terlalu laku. Suatu ketika buka warung nasi pecel baru. Pelayannya adalah si pemilik warung, wanita STW (setengah tuwa). Sehari, dua hari, tiga hari, tidak banyak orang makan di warung yang berada di emperan toko ini. Sadar bahwa telah keliru dalam menerapkan ilmu marketing, si pemilik banting setir. Sekitar dua minggu kemudian didatangkanlah wanita-wanita muda sebagai pelayannya.  Tidak cantik bener sih, tapi lumayanlah untuk ukuran wong Tuban.

Hebatnya, pelan tapi pasti orang yang datang terus membengkak. Kali pertama datang ke warung ini cukup rame. Sekitar enam bulan kemudian saat pulang dari Malang dan mencoba datang lagi, gila antre….!!

Memasang wanita muda dan cantik sebagai pemikat pelanggan ternyata tidak hanya di Gondangdia atau di Tuban saja. Ilmu pemasaran sederhana ini ternyata sudah menjadi semacam hukum alam. Di Ponorogo, Tulungagung, dan lain-lain, warung makan tradisionalnya juga menerapkan manajemen yang sama.

Ini memang bukan barang terlarang alias sah-sah saja. Pakar pemasaran, pencipta buku Financial Revolution Tung Desem Waringin saja bilang penawaran adalah segalanya. Tanpa penawaran yang hebat, bisnis tidak akan terjadi. Dan, wanita cantik pelayan warung itu adalah salah satu bentuk penawaran yang cukup berhasil.

Sama seperti warung roti bakar di Gondangdia. Tanpa perlu promosi kemana-mana, penawaran tak tertulisnya telah menghipnotis para konsumen. Biar tempat sedikit jorok, siapa yang tak mau menikmati secangkir kopi plus senyum manis si teteh…..?

  

Advertisements

2 responses to “Teteh Manis, sebuah Modus…..

  1. aq juga jadi ingat jumbo yg sering “Ngencani ” si bisu menjadikan makan malam jadi ritual tiap malam….suwe juga aq ga pernah menikmati makan malam di boom…kpn bisa makan malam bareng keluarga?

  2. mas, memang sudah dari sananya wanita adalah magnet alami. apalagi yg namanya warung so pasti toh rajin disambangi bapak-2… jd wajarrrr klo ada yg pasang wanita cantik.

    tp sbnrnya, klo mo ditilik lg, kerjaan melayani itu mgkn sudah kodratnya wanita, makanya pelayan-2 itu pasti kebanyakan wanita. mgkn klo laki2 sentuhannya beda ya. nganter kopi panas ga pake senyum tp pake bentakan, “ada pesanana yang lain lagi ga pak?!!” hehehehee…. **ah tp sekarang resto2 da byk pelayan laki2 juga kekekeke…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s