Selamatkan Kars!

Salam Lestari,
Kawasan kars (karst) adalah kawasan batuan karbonat yang menunjukkan morfologi kars.
Kars sendiri adalah bentuk bentang alam yang pada batuan karbonat yang ditandai oleh fenomena khas berupa bukti meruncing, dolina, gua speleotem, aliran sungai bawah tanah, dan kenampakan alam lainnya yang terjadi oleh proses perekahan dan pelarutan (karstifikasi).
Indonesia sangat kaya akan batuan karbonat, sebagian besar berupa batu gamping dan dolomit, yang tersebar dari Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua. Kawasan kars sangat penting bagi kehidupan. Dalam kasus tertentu, arti penting itu bisa ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan mahkluk hidup, terutama manusia yang tinggal di sekitarnya.
Mengapa kars perlu diselamatkan? Biarpun sangat penting, perlahan tapi pasti keberadaan kawasan kars terus tergencet, terkikis, dan tergerus oleh kerusakan. Sialnya, kerusakan itu banyak disebabkan kegiatan penambangan.
Sudah bukan rahasia bahwa kawasan kars adalah tambang emas bagi perusahaan-perusahaan penambangan, misalnya pabrik semen atau pabrik lain yang sangat terkait erat dengan kebutuhan batuan karbonat. Ancaman nyata terhadap kars sudah bukan lagi cerita di atas kertas, melainkan terjadi di depan mata.
Contoh aktual adalah keberadaan PT Semen Gresik di Tuban yang memangsa hektar per hektar kawasan kars di wilayah Merakurak, Semanding, dan juga Rengel. Sebenarnya tak hanya pabrik semen terbesar itu, ancaman juga datang dari penambangan-penambangan (galian C) tradisional. Tanpa pemahaman sama sekali tentang arti penting kawasan kars, mereka selalu mengeruk gamping dan pospat untuk dijual.
Di kawasan Merakurak, efek penambangan tradisional dan pabrik modern bernama PT SG itu sudah jelas mengancam keberadaan gua-gua yang banyak tersebar di sana. Salah satunya gua Srunggo yang menjadi penopang utama kebutuhan air masyarakat sekitar. Dalam penelitian yang dilakukan pakar biologi LIPI Cahyo Ramadi, jika benar PT SG memperluas areal penambangan dan mengenai gua Srunggo, kehancuran kehidupan tak terelakkan. Anggota Matalabiogama UGM ini merekomendasi pelarangan segala kegiatan dekstruktif dekat gua Srunggo, tidak hanya dalam radius 500 meter, tapi seluruh wilayah yang menjadi tangkapan gua ini.
Begitu nyatanya ancaman terhadap kars memang dipicu banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah rendahnya pemahaman masyarakat (masyarakat awam, pejabat pemerintah, dan kalangan industri) tentang arti kars.
Pemerintah bukannya tak melindungi kawasan ini. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang menyangkut keberadaan kawasan kars. Sayangnya, seperti banyak aturan hukum yang lain, tidak sedikit orang yang mengindahkan atau mau tahu.
Segala bentuk proses ekplorasi di kawasan kars dibolehkan, asal sesuai kelas yang ditentukan. Dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1518 K/20/MPE/1999 pada Bab III disebutkan bahwa kawasan kars terbagi dalam Kelas I, II, dan III.
Pasal 7 disebutkan, Di kawasan Kars Kelas I tidak boleh ada kegiatan usaha pertambangan, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan penelitian yang tidak merubah atau merusak atau merusak bentuk morfologi dan fungsi kawasan kars.
Sudahkah semua orang mengerti tentang ini? saya rasa belum. Bicara kars, tulisan ini sebenarnya tidak ada apa-apanya. Di Indonesia, master kars luar biasa banyak. Seperti dr RKT KO, mas cahyo rahmadi, mas Edi Thoyibi (Tuban, and adiknya nasrudi naka) dll yang tidak aku kenal. Eniwei, biarpun pengetahunku masih sedikit, tetapi rasanya tak salah bila ikut peduli. Dengan kemampuan seadanya tentunya. So mari bersama-sama SELAMATKAN KARS sekarang juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s