PKS and Karwo-Saifullah

Melepas dukungan ke Djoko Subroto, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya memilih membentengi duet Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) di Pilgub Jatim, 23 Juli 2008. Apa alasan utama keputusan ini? Dalam perbicangan hangat dengan Presiden PKS Tifatul Sembiring pada Kamis (8/5) lalu, dia menjelaskan sebagai berikut:

Sempat komunikasi intensif dengan PKB, PKS ternyata bergabung di koalisi PAN-Demokrat. Pertimbangannya?
Setelah tidak dengan pak Djoko yang dukungannya kurang dari 15%, komunikasi politik PKS tidak hanya dengan PKB, Soekarwo-Saifullah, tetapi juga dengan Khofifah Indar Parawansa. Kalau kemudian akhirnya memilih Soekarwo-Saifullah, memang ada pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Apa saja?
Perlu diketahui bahwa komunikasi kita dengan Soekarwo tidak datang tiba-tiba. Kita malah berbicara lebih dahulu dengan Pak Karwo dibanding calon-calon lain. PKS memilih mereka karena berdasarkan survei, mereka yang tertinggi. Kita tidak bisa melupakan bahwa peluang menang harus diperhatikan. Pertimbangan ini sangat kita pikirkan. Kalau ke Pak Saifullah Yusuf, kita ingin pendekatan ke kalangan nahdliyin.

Apakah ini berarti bahwa PKB yang mencalonkan Achmady-Suhartono tidak punya peluang menang?
Soal PKB, sebenarnya kita juga berbicara dengan DPP, tapi memang sulit karena munculnya permasalahan di internal partai mereka. Kita menunggu KPU, tapi kan belum ada keputusan. Sulitnya, bisa salah satu dari mereka yang sah, atau bahkan dua-duanya tidak disahkan oleh KPU. Tentu kita tidak mau berada dalam posisi seperti ini.

Adakah tawaran dari KarSa sangat menarik sehingga mengesampingkan ajakan parpol lain?
Dukungan, tentu disesuaikan dengan platform PKS. Mana yang semisi, sevisi, dan sesuai itu yang kita pilih. Dengan Pak Karwo-Saifullah, kita sudah menjalin kontrak politik. Pertama, kita meminta supaya fokus pemberantasan korupsi, terutama di aparatur pemerintah daerah. Kemudian secara bertahap meminimalisir penyakit masyarakat, terutama masalah narkoba, perjudian, dan minuman beralkohol. Kemudian, perhatian lebih kepada korban lumpur Lapindo. Selama ini sudah ada advokasi tapi tidak maksimal. Nah, kita minta dioptimalkan.

Bagaimana riil dukungan itu?
Ya, sesuai SOP (standart Operating Procedure), tentu kita menggerakkan teman-teman di Jatim, termasuk juga dengan membawa semangat Jawa Barat dan Sumatera Utara (PKS menang di dua wilayah ini-red). Ini kan memang menggairahkan. Dan di market akan lebih kita fokuskan lagi supaya pasangan itu bisa dikader.

Konstelasi politik terkini menyebut bahwa pasangan kuda hitam adalah PDIP yakni Sutjipto-Ridwan Hisjam dan Khofifah, tidak pernah berpikir ke sana?
Dengan PDIP Jatim, terus terang tidak. Kita semula menduga bahwa PDIP dulu akan mencalonkan Soekarwo, tapi tiba-tiba tidak, dan mereka mengusung Pak Tjipto. Kita agak kaget juga. Andaikan menjagokan Pak Karwo, mungkin kita akan mendukung PDIP, karena sudah ada pembicaraan awal.

Soal Khofifah, disebut-sebut PKS enggan karena dia calon wanita?
Tidak, tidak, sebetulnya bukan PKS yang seperti itu. Kalau mereka di atas 15%, mungkin akan kita pertimbangkan. Tapi untuk Khofifah ini, terus terang beberapa kiai NU sendiri ternyata tidak mendukung kepemimpinan perempuan itu.

Kalau ternyata pasangan ini didukung penuh Hasyim Muzadi bagaimana?
Kalau pak Hasyim mungkin iya, tapi kan ada kiai yang sangat menentang keras soal itu. Jadi, maksud saya di nahdliyin sendiri tidak bulat. Kalaupun suara mencapai 15%, di internal PKS juga masih menjadi perdebatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s