Teater Mbeling

Beberapa hari lalu, milis smansa (sma negeri satu) tuban rame membahas tentang riwayat teater mbeling yang pernah berjayua. Pada masanya, teater ini cukup menjadi kebanggaan. Walaupun (seingatku) belum pernah menggondol tropi bergensi, teater ini menjadi semacam identitas sekolah, sama halnya dengan Rapala, OSIS, dll.
Tersebutlah dalam milis itu beberapa nama yang cukup populer di teater itu. Aku tersenyum. Pikiranku langsung berkelebat di era 1999-an saat masih mengenakan seragam abu-abu di sekolah paling favorit di Tuban ini. Boleh percaya boleh tidak, jelek-jelek begini aku pernah menjadi bagian dari TEATER MBELING.
Saat itu kelas dua. Deny Purwo, kakak kelas, menjadi pentolan sekaligus aktor di balik lahirnya taeter yang berarti “nakal” ini. Sebenarnya bukan karena aku punya bakat akting yang hebat dan jiwa seni yang mantab sehingga aku terjun di dunia panggung ini. Keikutsertaan semata-mata karena akrab dengan Deny, dan kebetulan saja dia butuh banyak peran.
Jangan dibayangkan bahwa teater ini layaknya pentas-pentas seperti yang diperankan teater koma, dan teater-teater lain yang terkenal itu. Lain. Ini sungguh lain. Kali pertama dilahirkan dari rahim ide spontan, teater Mbeling sudah mengambil garis kebijakan bahwa aksi panggung itu adalah parodi.
Yang lahir kemudian ya memang aksi konyol dan sak enake dewe. Panggung pertama kami di acara perpisahan kelas III di gedung Tri Dharma Tuban. Saya lupa persis apa yang dilakonkan saat itu. Namun yang pasti, seluruh siswa memberikan apresiasi. Gelak tawa membahana ketika peran-peran kocak itu mengocok-kocok isi perut. Peran orang-orang seperti Deny, Anggrie, Slamet, anshari, Arie jengglong, teguh minano, ciamik dan oke. Aku…? lumayanlah.
Yang paling mengesankan ketika show di SMA Sooko Mojokerto. Di acara studi banding itu, kami juga memerankan parodi Mojopahit dengan bumbu-bumbu modern. Dan, tentu saja, plesetan-plesetan yang disesuaikan dengan isu ter-hot saat itu. Luar biasa, aksi ngawur kami juga sanggup mmembuat siswa-siswa sekolah itu terbahak-bahak. Terus terang, penampilan Mbeling yang cuma sekitar 45 menit itu tak kalah menghebohkan dari penampilan anak-anak band yang juga ditungu-tunggu.
Setelah itu, pementasan itu, Mbeling redup. Apalagi ketika Deny yang juga sang maestro lulus dan sekolah di penerbangan. Lama tak mendengar kabarnya, suatu saat, ketika dolan ke almamater, teater Mbeling ternyata kembali eksis. Entah siapa yang menghidupkan. Aku tak banyak kenal karena memang adik-adik kelas. Tapi yang pasti, Mbeling yang satu ini telah berevolusi. Mbeling tak sekadar aksi parodi panggung dengan tujuan utama mengocok perut penonton, tapi benar-benar aksi peran sarat makna.
Penghuni-penghuni Mbeling telah bertransformasi ke suatu hal yang serius. Dalam bahasaku, teater sesunggguhnya. Ada peran wajah, ada peran berpura-pura..he..he.
Entah seperti apa sekarang teater Mbeling. Milis juga tak menjelaskan bagaimana kondisinya kini. Sama seperti pikiranku, ujaran-ujaran dalam milis itu malah banyak mengulas sisi indah masa lalu, masa keemasan Mbeling dan orang-orang lama yang pernah bercokol di dalamnya. He..he..benar juga kata orang, masa SMA adalah masa-masa terindah dalam sekolah

Advertisements

2 responses to “Teater Mbeling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s