23 Juli 2008 for PKB Jatim

DIBANDING parpol lain, 23 Juli 2008 membawa makna yang sangat besar bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sepuluh tahun yang lalu di Jakarta, PKB lahir dan dideklarasikan kiai-kiai Nahdlatul Ulama seperti kiai Munasir Ali, alm KH Ilyas Ruchiyat, KH Abdurrahman Wahid, KH Mustofa Bisri, dan KH Muhith Muzadi.
Lazimnya orang berulang tahun, PKB seharusnya mendapatkan kado terindah. Jika konteks ini ditarik ke perhelatan Pilgub Jatim yang kebetulan digelar pada 23 Juli nanti, logikanya kado istimewa itu adalah sebuah kemenangan, yakni cagub dan cawagub PKB sukses melenggang ke kursi Jatim 1 dan 2.
Andai saja pesta demokrasi yang menganut sistem pemilihan langsung ini digelar lima tahun silam, rasa-rasanya tak sulit bagi PKB untuk mendapat bingkisan membahagiakan itu. Sebagai kampung nahdliyin, hampir pasti partai yang lahir dari rahim NU ini akan menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat Jatim.
Tapi zaman terus bergulir, perubahan demi perubahan menjadi sebuah hal yang tak bisa diingkari. Sayangnya bagi PKB, perubahan itu tak mengarah ke positif tapi sebaliknya. Ketika keutuhan dan kesolidan partai sangat dibutuhkan pada momentum seperti ini, PKB justru tercerai berai. PKB Gus Dur telah memunculkan pasangan Achmady-Suhartono, sementara PKB kubu Muhaimin Iskandar melahirkan duet Samiatun-Arif Darmawan.
Taruhlah dua-duanya lolos verifikasi KPUD Jatim. Pertanyaannya kemudian, sanggupkah salah satu dari mereka menjadi pihak yang tertawa paling akhir? Tampaknya sulit. Jangankan dua, satu pasangan yang membawa nama PKB pun bisa terengah-engah untuk mendapatkan kepercayaan pemilih.
Perpecahan PKB yang dua bulan terakhir terekspos sedemikian dahsyat telah ikut membingungkan konstituen. Tanpa disadari, mereka juga terpecah. Ada pemilih cagub-cawagub PKB Gus Dur, ada juga pemilih cagub-cawagub Muhaimin. Kalaupun kemudian yang lolos cagub PKB Gus Dur, mungkinkah pemilih yang pro-Muhaimin serta merta mendukung cagub PKB Gus Dur? Apa tidak mungkin, mereka yang sudah terpatron dengan kubunya itu lantas melarikan suaranya ke calon lain?
Jika ukurannya nahdliyin, PKB kini memang tak layak jumawa. PKB bukan satu-satunya parpol yang mengusung calon dengan latar belakang ormas besar itu. Cawagub Partai Golkar Ali Maschan Moesa juga nahdliyin, begitu pula Cagub koalisi Jatim Bangkit Khofifah Indar Parawansa dan Cawagub PAN-Demokrat Saifullah Yusuf. Itu belum cawagub PDIP Ridwan Hisjam yang mengklaim NU kultural.
Soal Saifullah, dia lebih ”mengerikan” lagi. Lewat manuver-manuvernya yang tiada henti, Ketua Umum GP Ansor ini sukses merangkul tokoh-tokoh sempalan PKB, yakni PKNU. Coba bayangkan sekarang, terbagi dalam berapa banyak golongan nahdliyin Jatim?
Politisi Partai Demokrat AS Charlie Matulka, sebagaimana dikutip Thom Hartmann, penulis “Unequal Protection: The Rise of Corporate Dominance and the Theft of Human Rights,” menyebut bahwa salah satu kunci memenangkan pemilihan adalah dengan terus mengendalikan mesin (politik).
Resep sederhana itu yang tampaknya tidak terlihat di PKB. Achmady-Suhartono terkesan percaya diri dengan statusnya sebagai calon PKB sehingga tak kunjung memanaskan mesin politiknya. Ini tentu sangat riskan. Dalam masa-masa rakyat lelah berpolitik seperti saat ini, figur dan popularitas calon bukan lagi jaminan kemenangan.
Hasil Pilgub Jabar dan Sumatera Utara membuktikan bahwa dua faktor itu tak lagi mempan. Justru, mesin politiklah yang menentukan hasil akhir. Siapapun cagub PKB, harus bergerak cepat mengatasi masalah intern dan ekstern mereka jika ingin menang. Jika tidak, sangat mungkin perayaan 10 tahun PKB di Jatim pada 23 Juli nanti bakal terasa sangat hambar. (zen teguh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s