Just Ragunan

What can i say? tiga tahun lebih tinggal di Jakarta tak pernah naik busway. Mau bagaimana lagi, kemana-mana naik Shogun 1997 andalan. Lantaran itu pula aku diledekin Rino Surya, arek Malang alumnus s2 Australia yang kini tengah merenda mental menuju hari pernikahan.
Beberapa hari lalu dia ada urusan di Jakarta dan mampir ke rumahku. Minggu, 19 Oktober 2008, dia pamit mau pulang ke Ngalam. Tapi aku sesungguhnya tahu kalo dia males pulang. Pas bener lagi libur, dicarilah kesepakatan untuk melewatkan hari. Rino bilang ke Ragunan ae, numpak baswe. Good ide, pikirku. Dari dulu pengen ngajak Khansa ke Ragunan, gak jadi2. Mumpung ada kesempatan, pergilah kita.
Dari rumah kontrakan, naik taksi dulu bentar ke arah dukuh atas. Inilah kali pertama aku naik moda transportasi yang digagas Bang Yos ini (dasar ndeso). Mungkin bener kalo proyek ini ada korupsinya. Terbukti, baswe yang terbilang baru ini ternyata tak lagi nyaman. Kursinya udah berderik-derik kala mesin melaju. Pintunya juga mendecit saat tertutup otomatiz. Kayaknya aneh kalo duit miliaran rupiah untuk barang yang tidak terlalu bagus itu. Beruntung AC masih dingin.
Alkisah sampailah kita di Ragunan. Murah, masuknya cuman 4.000 perak. Murah di luar, tidak di dalam. Inilah yang belakangan membuatkan “mengecam” Ragunan. Kebun binatang ini ternyata matre abis. Dulu aku mikir, wah hebat kebun binatang di Jakarta lebih murah daripada di Kebun Binatang Surabaya alias KBS. 2004 masuk KBS Rp7.000. Gak tau sekarang, Rp8.000 kali. Tapi ternyata KBS cheaper than Ragunan. Itungannya, kala masuk di KBS yu udah dapatkan semua yang mo dilihat. Mo lihat ikan, kera, babi, our brother (monkey), etc udah paket itu (kecuali masuk tempat bermain nak-kanak).
Perbedaannya dengan Ragunan, tempat ini sesungguhnya memang menjual lahan hijau. Tidak semua binatang dapat dilihat secara gratis. Misalnya primata. Pokoke kalo ditotal bisa dari 8.000. Yang bikin mahal lagi, tempat bermain anak-anak terbilang mahal. Misalnya gini. Anaku khansa begitu ngebet naik motor-motoran yan pake aki itu. Gila aja harga koinnya 5.000. Sialnya lagi, paling cuma tiga menit aki itu sudah mampus. Bayangin, dia nangis tiga kali, berarti masukin tiga koin sama dengan Rp15.000. He..he.. ini emang itung-itungan hemat bagi orang yang gajinya pas2 an. Eniwei, maksud saya adalah Ragunan itu emang sejatinya solusi paling murah meriah bagi kaum urban di Jakarta dan orang Jakarta sendiri untuk mendapatkan hawa segar. Ini salah satu paru-paru kota di Jakarta.
Tak heran ribuan orang masuk Ragunan. Dulu bayangan saya orang-orang itu ingin melihat binatang. Ternyata tidak. Mereka hanya menikmati rindangnya pohon dan rumput-rumput hijau. Tiduran n buka bekal bareng-bareng keluarga. Ya, inilah Ragunan. any other opinion?

Advertisements

2 responses to “Just Ragunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s