Never Perfect

Asem, jangkrik, jancuk, juannnccukkkk….!!!
Kata-kata mutiara ini begitu deras meluncur dari bibir, meski aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Memang bener-bener
gak beres PT Kereta Api (emang selama ini PT KA pernah beres…?)
Cerita buruk ini terjadi 5 Januari 2009. Saat itu, aku melakukan perjalanan dari Stasiun Pasar Turi menuju Jakarta dengan KA Sembrani. Lumayan cing, biar libur panjang telah usai, tetep saja tiket masih mahal yakni Rp240.000. Duduk di seat 5 C di gerbong 8 yang ditaruh paling depan sendiri dari rangkaian, cukup melegakan. Apalagi, jam berangkat yang tertera di tiket pukul 18.30 WIB ternyata tak diingkari. Kursi lumayan empuk, bau toilet tidak masuk, menjadikan pikiran fokus pada satu hal: TIDUR!
Sayang, kebahagiaan ini hanya sesaat. Baru meninggalkan Pasar Turi, tercium bau gosong. Waduh, ada yang tak beres ini. Benar saja. Lama-lama yang terjadi adalah hawa panas menyergap. Makin lama, makin panas, terus panas. Uasem, panas temenan rek iki. Ternyata bau gosong itu kabel konslet dan mematikan sistem pendingin udara (AC) di gerbong.
Uh…kalah KA kelas ekonomi. Betapa tidak, kaca jendel tak bisa dibuka. Terang saja ga bisa dibuka karena Sembrani memang KA eksekutif. Tak tahan, jaket kubuka. Masih panas, giliran kancing baju ku buka. Temen rek, rasane koyo di-oven. Saya sampai tak tega melihat seorang ibu harus berjuang mati-matian menenangkan balitanya yang menangis keras karena kepanasan. Koran yang dia bawa pun akhirnya harus terurai menjadi kipas darurat.
Sampai di Stasiun Bojonegoro, kereta berhenti. Perbaikan dilakukan. Entah karena kurang perawatan atau karena mesin KW1, perbaikan AC itu memakan waktu hampir 2 jam. Penumpang yang tak tahan panas, keluar menghirup udara segar. Bete juga dua jam lebih nunggu AC bener. Hati kian masygul saat KA Anggrek malam nyalip dan seakan-akan penumpangnya bilang, rasain lu..!
Lama menunggu, perbaikan akhirnya beres juga. Selepas dari Bojonegoro, AC normal. Tapi tetap saja aku merasa rugi besar. Gerbong 8 yang awalnya di depan, dilangsir ke paling buncit. Alhasil, goncangan-goncangan menjadi sangat terasa. Tidur pun tak lagi nyaman. Yang paling parah juga, jadwal sampai Jakarta yang tertera di tiket pukul 06.23 hanya bualan. Sampai di Gambir hampir pukul 09.00. Awak rasane legrek poooollll.
Bukan kali ini saja naik kereta kelas eksekutif tapi bermasalah. Agustus 2008 saat balik dari Sby ke Jkt naik KA Anggrek malam juga begitu. Bedanya saat itu, toilet di gerbong yang kutempati rusak. Airnya tak keluar. Jancuk gak iku? Padahal karcis Rp280.000. Untuk kencing harus ke gerbong satunya. Sialnya, pelat besi penghubung antar gerbong itu lubang besar. Kalo tidak hati-hati, bisa kecemplung di dalamnya. Aku inget bener, saat itu seorang wanita lanjut usia harus dipapah cucunya untuk menyeberangi gerbong demi kencing. Oh kereta api ku, kapan kau sempurna nak..? jangan mentang-mentang kembali booming, pelayanan asal-asalan. U emang njancukin…!

Advertisements

2 responses to “Never Perfect

  1. itulah indonesia……….
    hahahahah kelingan numpak maskapai tjap singa sama mantan kyai sehabis pesta blogger kemarin. entah karena pertama kai naik pesawat atau apa, sang mantan tidur dengan pulasnya. padahal dia ada di bangku pinggir dekat lorong. walhasil seorang cewek yang berada di jendela mangkel karena kebelet pipis tapi gak tega mbangunin sang mantan. dan komentarnya begitu dahsyat….
    “temen loe kebo jugah ya?”
    hahahahahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s