Dolly, Untold Story (2-supply)

Pakar marketing sekaligus pencipta buku Financial Revolution dan Marketing Revolution Tung Desem Waringin berujar, yang paling penting dalam suatu bisnis adalah penawaran. Mengapa penting? Karena pada hakikatnya, bisnis tidak akan ada sebelum adanya penawaran terjadi.

Tung benar adanya. Teori dasar penawaran dan permintaan (supply and demand) dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Pendeknya, harga yang hebat bisa diperoleh dari penawaran yang hebat pula.

Prinsip dasar itu pula yang dipakai para pengelola wisma di Dolly ato lokalisasi lain. Agar konsumen (baca:lelaki hidung belang) datang, maka diciptakan penawaran yang dahsyat. Caranya bermacam-macam. Basicly, tentu saja menyediakan wanita-wanita penggoda yang aduhai dengan servis memadai. Rangkaiannya adalah adanya kamar yang asoy, serta harga yang cihuy. Nah, tulisan di salah satu langit-langit wisma 01-dolly-baru2ini sebenarnya bentuk pengembangan dari teori penawaran.

Sekadar info buat yang belum tahu, larangan untuk berjualan di wisma itu berlaku bagi para mbok-mbok penjaja gorengan alias panganan ringan/ kudapan. Bisa juga untuk sales aneka barang.

Bagi pemilik wisma, penjual gorengan itu memang menjengkelkan hati. Betapa tidak, “akuarium” yang mereka desain seapik mungkin bisa rusak pemandangannya.
Anggap saja sofa dan wanita-wanita semlohai itu adalah sebuah etalase. Agar sedap dipandang, maka etalase harus bersih. Oleh pengelola wisma, kaca ruangan dibuat sebening mungkin dan lampu dibuat agak temaram biar bisa menutupi wajah asli “dagangannya”.

Barang dagangan itu juga diatur sedemikian rupa agar calon pembeli bener-bener kesengsem. Di sinilah persoalannya. Kadang-kadang skenario itu sudah dipasang, eh tak tahunya mbok penjual gorengan tetep nimbrung di antara para PSK itu. Tanpa merasa bersalah, mereka duduk begitu saja di sofa dan menawarkan kue-kuenya.
Tentu saja buat pengelola wisma, hal ini mengganggu. Sebab, pandangan para calon konsumen yang sudah demikian hanyut menatap para wanita, bisa berubah dalam sekejap.

Apalagi kalo mbok-mbok penjual gorengan atau jajanan itu bercakap-cakap lama, PSK biasanya sudah tak peduli lagi dengan prosedur tetap yang harus dia jalankan, yakni duduk manis di sofa, pasang tampang ramah dan menggoda, serta menantang. Asal tahu aja, ekspresi muka dan tubuh para wanita itu umumnya berperan besar dalam memancing para calon konsumen. Bisa dibayangkan kalo mereka umek sak karepe dewe, mana ada yang peduli 😀

Saat ini, saya ga tahu apakah masih ada atau tidak para mbok-mbok penjual jajanan yang demikian itu. Saya cukup lama tak menginjak Dolly. Tapi yang, pasti tak semua wisma memasang papan kecil berisi larangan berjualan itu. Dan biasanya, pengelola wisma juga tak bisa mengusir para penjual itu karena mereka rata-rata warga sekitar. Jadilah papan larangan itu hanya sekadar sebagai peringatan belaka..

Advertisements

26 responses to “Dolly, Untold Story (2-supply)

  1. “dilarang berjualan di wisma”. padahal para psk itu kan juga jualan. harusnya pengumumannya gini: “dilarang berjualan di wisma kecuali dagangannya tubuh”! ha3.

  2. Wah ngak profesional ya? Yah begitulah jualan ala kampung … kenapa ngak dikursusnin di John Robert Power … atau dikursusin ke aku saja … kan ada triknya cara duduk manis … lalu berdiri … sambil menyibakan rambutnya … supaya lebih menarik pelangan …

  3. ahahahaa… iya jg, masa lg demen2nya hunting eh tau2 ada mbok tukang pecel numpang. jgn2 malah si mboknya yg ditawar kekekee..
    eh tp apa memang begitu ya, pake etalase gt?

  4. Wah, ketinggalan nih part II-nya. Kira2 enak mana ya, mendoan si mbok atau mendoan si mbak?
    Trus mendoan si mbok khusus untuk para belang dah dicampur obat perangsang, ditanggung nafsu makin garang siap berperang, huahaha.

  5. Jangan2 mbok2 itu justeru yang menarik perhatian para hidung belang ya mas. ha..ha..ha
    banting harga bho, maklum jibrat minyak bekas untuk ngoreng-ngoreng.
    Tancap mas.
    Salam hangat dari Surabaya

  6. apapun namanya………..
    itu hak mereka
    biar saja….
    toh kita belum tentu semuanya alim….
    mereka juga butuh makan
    mereka butuh kebutuhan
    dalam hati kecil (sebagian besar)mereka, sebenarnya merintih, menangis, meratap………..
    kenapa selalu harus ditindih beraneka macam postur tubuh lelaki hanya untuk mendapatkan uang……….

  7. nek meh ngenggo nganggo julia wae kayane neng wisma ( lupa aku)

    lumayan lho…..sih apik….wkwkwkwkwk

    tur 100K

    service oke….

    kakakakkakakak……………ayo mrono mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s