Belilah Koran, Please..

resize-of-xx-afp-spiApa yang terjadi pada Seattle Post-Intelligencer 16 Maret 2009 lalu, sekali lagi, membuktikan bahwa koran (newspaper) perlahan namun pasti akan mati karena tergilas oleh teknologi bernama internet. The Hearst Corporation, perusahaan pemilik Seattle Post-Intelligencer telah mengumumkan tidak akan memproduksi lagi koran bisnis tertua di Seattle, Amerika Serikat (AS) itu.
”Malam ini,kita akan melihat kertas koran kita untuk terakhir kalinya,” ujar editor sekaligus salah satu pemilik Roger Oglesby di ruang redaksi SPI, dengan mimik muka mengkerut, Minggu petang 16 Maret 2009 . ”Tapi darah baru akan mengalir,” sergahnya tiba-tiba. Seketika itu juga senyum terkembang lebar di bibirnya. Ya, koran Seattle Post-Intelligencer yang telah berumur 146 tahun dan memilik lebih dari 117.600 pembaca per minggu itu memang matek. Tapi, hanya dalam hitungan jam, koran itu lahir kembali. Tidak dalam wujudnya berupa lembaran-lembaran kertas, namun telah bereinkarnasi menjadi news portal dengan visual yang keren.

CEO Hearst Frank Bennack Jr tak ragu-ragu menyerukan keoptimistisannya. “Tujuan kita sekarang adalah membuat seattlepi.com menjadi portal pemimpin berita dan informasi di wilayah ini,” ujarnya. Pemimpin Divisi Hearst Newspaper Steven Swartz menyatakan, kematian Seattle Post-Inttlegencer dan “kelahiran” seattlepi.com justru menjadi sebuah strategi bisnis terbaru. Dia menyebut seattlepi.com bukan sekadar koran online, tetapi lebih dari itu. Portal ini adalah platform komunitas. Dia menyebut warga Seattle akan lebih sering berkumpul (baca: mengakses) di seattlepi.com. Selain itu, data-data komunitas juga masuk di dalamnya. Dan, setidaknya 150 blogger akan mengisi “outlet” jurnalistik (semacam citizen journalism) di situ.

Ramalan bahwa koran akan mati bukan barang baru. Jauh xx-afp-spi2sebelum ini atau saat internet telah menjadi “istri kedua” bagi jutaan orang di dunia, umur koran diprediksi hanya tinggal hitungan tahun. Orang sekelas Rupert Murdoch pun tak mengingkari hal itu. Raja media ini bahkan meyakini era koran bakal segera berakhir. Dalam bahasa Murdoch, matinya koran dan pertumbuhan news portal adalah sebuah evolusi.

Mengapa begitu? Berdasarkan data tahun 1995-2003 dari Asosiasi Surat Kabar Dunia, oplah koran terus menurun: antara lain turun 5% di Amerika, 3% di Eropa, dan 2% di Jepang. Bila pada 1960-an empat dari lima orang Amerika membaca koran, di tahun 2005 perbandingannya menjadi dua dari lima orang. Yang tiga lagi sudah masuk dunia elektronik atau digital (Gatra, 2005). Data pada 2007 menunjukkan, internet memimpin sebagai sumber berita, mengalahkan media lain kecuali media TV. Sekitar 40% pembaca mendapatkan berita melalui media internet. Ini melonjak dibandingkan tahun lalu yang baru mencapai 24%

Sesungguhnya, kenapa koran kalah telak dari internet, atau dalam bahasa diary digital ala Nurhadi Sucahyo, newspaper menjadi news without paper?
1. Seperti kebanyakan bisnis lain, bisnis koran tak kebal krisis. Begitu krisis finansial datang tanpa permisi, dan semuanya menjadi mahal, maka production cost membengkak luar biasa hebat. Bisnis koran mengandalkan kertas. Sementara harga kertas koran, dalam sejarahnya, selalu merangkak naik. Pulp atau bubur kertas menjadi kian mahal karena bahan baku utama berupa kayu terasa kian sulit didapatkan. Celakanya, krisis finansial selalu berbanding lurus dengan daya beli yang menurun. Orang akhirnya selalu punya prioritas dalam membelanjakan duitnya. Bila dulu langganan dua koran, sekarang jadi satu. Jika dulu langganan satu koran, mungkin hari ini tidak lagi. Jika koran tak lagi laku, iklan tak datang. Bila iklan tak datang, biaya produksi tak tertutupi. Terciptalah rugi. Ingat, Chicago Tribune dan Los Angeles Times telah bangkrut !!!
2. Tentu saja karena kehebatan internet itu sendiri. Orang tak perlu susah-susah mengeluarkan duit untuk beli koran kalo dia bisa baca secara gratis, kapan pun dan dimanapun. Sekali klik, terbukalah jagat informasi. Mau cari apa? Time, USA Daily, Washington Post, The Sun, The Obeserver, The Age, Sydney Morning Herald, Phillipine Inquirer, The Strait Times, Channel News Asia, Kompas, Jawa Pos, Koran Seputar Indonesia, Koran Tempo, Media Indonesia, etc, semuanya komplet (telornya dua biar manteb).

Fakta koran kalah dengan internet, sejauh ini memang belum begitu berlaku di Indonesia (syukurlah..). Sebagian besar pembaca di Indonesia masih berkategori pembaca tradisional/konvensional. Namun, bukan berarti apa yang terjadi di AS dan negara-negara besar lainnya itu tidak akan terjadi di Indonesia. Penguna internet dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan signifikan.

Pada 2002, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memperkirakan jumlah pengguna Internet Indonesia mendekati angka empat juta orang, naik dari sekitar dua juta orang pada akhir tahun 2000. Sementara itu, jumlah pelanggan Internet diperkirakan berkisar pada angka 500.000 hingga 600.000, naik sedikit dibandingkan tahun lalu yang sekitar 450.000 pelanggan. Masih berdasarkan data yang dirilis APJII, perkembangan pengguna internet di negara ini sampai pada akhir 2007 lalu secara kumulatif telah mencapai 25 juta orang. Angka ini sebanding dengan 48 (empat puluh delapan) kali dibandingkan jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 1998 yang hanya 512.000 orang saja.

Belum lagi “ulah” blogger. Matthew Hindman, professor politik dari Universitas Arizona mengatakan bahwa blog-blog top selalu lebih dikunjungi dibandingkan dengan halaman opini di koran.

Jadi sodara-sodara, jika Anda telah memutuskan tidak membeli koran, maka tindakan Anda adalah ancaman hidup saya………….(kaburrr..:D)

Advertisements

20 responses to “Belilah Koran, Please..

  1. Mas, koran bubar bukan karena ada internet. Tapi koran bubar karena kalah kreatif ketimbang internet. Kalo wartawan koran ndak mau kehilangan pasar, wartawan kudu kreatif. Caranya, cari ide dan gaya nulis baru supaya tulisannya lebih segar lagi. Karena orang mau beli koran bukan sekedar cari informasi, tapi karena seneng sama gaya nulis koran tersebut.

  2. Hahaha… Koran nasional yang dikasih link kok cuma sindo ya?
    Bagi saya yang tiap saat nggembol brodben dan bisa update rss tiap detik, koran masih belum bisa tergantikan. Sensasinya beda!
    Bayangkan di pagi hari, minum kopi, ngudud sambil baca koran. Hmmm ayem tenan!
    Bicara tentang koran, korannya dahlan iskan tetap yang paling pas versi saya. Mungkin karena sedari kecil sudah dicekoki oleh koran itu. Hehehe….

  3. wah… selalu saja ada yang terlindas teknologi baru, tapi lebih nyaman pake yang ramah lingkungan lah, para jurnalis seharusnya sudah melirik ini dan secepatnya merubah mindset mereka untuk menjadi juragan di blognya sendiri… tapi di sini saya juga masih langganan 4 koran … loh… wakaka…

  4. kalo di indonesia sepertinya malah sedang merebak itu bisnis koran. apalagi sejak otonomi ya? pemekaran dimana-mana. koran wilayah menjamur .. murr .. 🙂

  5. sebaiknya menurut saya sebaiknya berita bukan pakai koran. kenapa? karena teknologi internet bisa menghemat kayu kita. kalau bisa kayu tidak ditebang, kenapa harus di tebang? save our forest.

  6. meski pamor media cetak menurun sejak dunia virtual ini dikenal publik, tapi kehadirannya mas tetap dibutuhkan, mas teguh. masih ada segmen yang ndak terjangkau akses internet. pengelola media pasti bisa menyandingkan antara media cetak dan internet utk bersinergi.

  7. bingung arep komeng opo ki. saya salut sama koran di indonesia yang hari ini sudah mempunyai portal juga. jika mau berubah harusnya pucuk pimpinan juga tahu bagaimana mengambil langkah, termasuk memikirkan nasib ke depan (baca: kesejahteraan) karyawannya.

    Sudahkan pemred mempunyai blog?

  8. yah koran memang masih tetep di butuhkan sekali mas sebagai sarana berita yang kerap kali menjadi sebuah kebutuhan
    tapi apes kalo tinggal di daerah seperti saya kalo mau beli koran harus jalan kendaraan 1 jam mas hahahaha maklum nggunung hahaha

  9. Kalau baca koran, saya cuman lihat iklannya, karena koran jaman sekarang separo lebih kaplingnya isinya iklan dowang. Settingannya mantep, warna-warni. Berita di koran suka terlambat!

  10. Hmm… tp di desa-desa kayaknya koran msh bs jd pilihan, krn bs leyeh2 baca sambil minum kopi ato tiduran. Klo baca online kadang kurang nyaman krn posisi badan hrs tegak.
    Klo koran mati, kasihan lah para loper…. sekarang aja da ga laku, gimana nanti.

  11. sampai saat ini saya masih menikmati baca koran pagi sambil minum kopi dan itu tidak saya dapatkan di media internet 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s