SENSATIONAL

xx-NYPostBagi mereka yang bergulat di dunia media, terutama media cetak, artikel yang ditulis seorang guru, blogger, sekaligus budayawan tentang “Ragam Bahasa Media dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa” sungguh-sungguh suatu bahan renungan teramat mendalam. Begitu kritis, tajam, multidimensi, dan mengenanya tulisan itu bahkan layak disebut penelanjangan atas dosa-dosa orang media.
Dalam kegelisahannya, guru bersahaja ini menyebut banyak ragam bahasa media (cetak) yang mengalami gejala deviasi. Barangkali beliau terlalu halus untuk menyebut betapa bahasa media (dulu dan sekarang) masih banyak yang porak-poranda. Jika Anda penikmat koran, tabloid, atau majalah, cobalah sesekali membeli 5 atau 10 media yang berlainan dan analisis lah. Apa yang terjadi di situ? Saya berani menjamin tidak ada bahasa sempurna di sana. Mendekati sempurna barangkali iya. Media cetak terbaik saat ini pun tak luput dari kesalahan soal bahasa, baik mengenai ejaan, tata kalimat, ataupun penggalan kata. Kadarnya memang berbeda-beda pada masing-masing media. Semakin mapan media itu, umumnya semakin sedikit tingkat kesalahannya.
Mengapa bahasa koran masih banyak yang kacau-balau? Dalam postingan artikel di atas, saya menyebutkan beberapa faktor. Di antaranya kemampuan wartawan (pembuat berita) yang masih rendah, tidak adanya redaktur andal yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik, juga ketiadaan editor bahasa. Dalam media cetak, editor bahasa memegang peranan sangat penting dalam penyempurnaan suatu berita.

Alur penciptaan berita di koran gampangnya seperti ini: reporter menuliskan hasil liputan di lapangan. Semakin matang, pandai, dan berkelas wartawan, semakin matang berita yang ditulisnya. Tulisan wartawan kemudian diolah kembali oleh redaktur. Redaktur tak hanya mengedit tentang isi berita, tapi juga bahasa. Apakah itu cukup? Belum. Rata-rata reporter dan redaktur lihai menguasai isu berita tapi kurang berpengalaman dalam hal bahasa. Karena itu dibutuhkan editor bahasa yang maqom-nya memang harus orang bahasa.
Jika sudah lewat editor bahasa mengapa masih salah? Ada dua kemungkinan, editor bahasanya yang kurang cermat (ini karena tuntutan kecepatan penyelesaian pengeditan di koran sangat tinggi), atau kesalahan terjadi saat pracetak (layout). Tak dapat dibayangkan bagaimana bila media cetak tak punya editor bahasa, sementara reporter dan redakturnya, misalnya, alumnus jurusan matematika, teknik nuklir, teknik aerodinamika, fisika, alumnus SMA, dan tak mau belajar soal bahasa? Apakah ada? Ada.

Tapi itu sesungguhnya hanya sebagian faktor saja. Selain soal sumber daya manusia (SDM), kekacauan bahasa media tak bisa lepas dari berkategori apa media itu? Apakah koran kuning ataukah koran dengan segmen pasar A+, A, dan B? Umumnya, koran yang menerapkan yellow journalism (jurnalisme kuning) memang tak begitu memedulikan kaedah bahasa ataupun isi berita. Yang penting, heboh, dahsyat, bombastis, dan membuat orang geleng-geleng kepala. Tak salah headlines (HL) yang muncul selalu berkutat seputar skandal, seks, atau kriminal jalanan. Imbas akhirnya, orang bakal tertarik kemudian membeli.

Jurnalisme kuning yang lahir akibat pertempuran New York World milik Joseph Pulitzer dan The Journal milik William Randolph Hearst pada era 1890-an itu memang muncul demi mendongkrak oplah. Dalam perkembangannya, jurnalisme kuning mulai ditinggalkan karena orang semakin menyadari betapa pentingnya sebuah akurasi dan wartawan adalah profesi yang mulia. Tapi, jurnalisme kuning sesungguhnya tak pernah mati. Jurnalisme ini termodifikasi menjadi apa yang disebut sensational journalism atau jurnalisme sensasional.
Tidak sevulgar jurnalisme kuning memang, tapi tetap mendewakan berita bombastis, hiperbola, heboh, dan menggegerkan. Tak peduli bahasa tak benar, yang penting HL sungguh luar biasa menggoda mata untuk menyantapnya. Pendeknya, urusan bahasa dan substansi belakangan, yang penting heboh duluan. Kebanyakan tabloid (luar dan dalam negeri) masih memakai pola ini. Pun dengan koran yang memosisikan dirinya sebagai koran menengah ke bawah. Thesun, harian dengan tiras terbesar di Inggris adalah media yang menjalankan ideologinya pada jurnalisme sensasional. Ketika membeli New York Post (The Post) sebesar USD30 miliar pada 1976, Raja Media Rupert Murdoch segera merevolusinya dengan mengaplikasikan jurnalisme sensasional sebagaimana yang telah dilakukan pada koran-koran miliknya di Australia dan di Inggris. Headline Post pada 15 April 1983 “HEADLESS BODY IN TOPLESS BAR” (tubuh tanpa kepala di klub telanjang) akan terus dikenang sebagai salah satu the greatest headlines ever.

Bahwa dalam artikel tentang ragam bahasa media Pak Sawali itu disebut ada kegamangan bagaimana bila media cetak harus jadi bahan ajar, sementara bahasa media itu masih compang-camping, agaknya yang harus diperhatikan adalah ambil media dengan bahasa yang bagus sebagai bahan ajar. Dalam hal ini Koran Tempo punya reputasi yang sangat baik karena beberapa kali menyabet penghargaan media cetak berbahasa terbaik dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, dan Suara Karya juga punya reputasi yang baik. Saya tidak begitu tahu dengan koran lokal yang terbit di Jawa Tengah dan DIY, kecuali suara merdeka dan kedaulatan rakyat. Bagaimana dengan Koran Seputar Indonesia? Masih banyak kesalahan. Selain karena jumlah editor bahasa yang kurang memadai, pembelajaran tentang bahasa juga masih kurang. Bukan begitu Pak Awam? 😀

Kalau koran besar masih saja salah, tentu harus dipertanyakan tentang tingkat ketaatan rukun iman jurnalistik mereka. Sekadar diketahui, akurasi dalam media adalah FARDHU. Bukan makruh, apalagi mubah. Jika tak akurat, tentu kredibilitas yang dipertaruhkan. ”’Tanyalah semua jurnalis saya, akan terlihat bahwa saya menuntut akurasi, akurasi, dan akurasi dari mereka,”ungkap Joseph Pulitzer saat bicara bagaiaman dia membangun kerajaan bisnis medianya .
Jadi, ayo baca koran!

Advertisements

16 responses to “SENSATIONAL

  1. bahasa media yang kacau itu sering menjadi bahan referensi masyarakat dalam percakapan sehari-hari. bahasa media menentukan pangsa pasar pembacanya. media yang menggunakan bahasa yang baik dan benar, cenderung dicap sebagai bacaan berat yg hanya cocok untuk kalangan tertentu, bukan medianya rakyat jelata.

  2. duh, mas teguh, jadi malu saya, hehe … tulisan itu sesungguhnya merupakan sebuah bahan diskusi ketika saya dan pak daryanto diundang oleh suara merdeka utk mengkritis bahasa koran dalam perspektif pembelajaran bahasa beberapa waktu yang lalu. terima kasih apresiasinya, mas teguh. semoga ada “perkawinan” antara bahasa media dan dunia pembelajaran., sehingga bisa melahirkan anak2 bangsa yang memiliki kecintaan terhadap bahasa nasionalnya.

  3. Waaaaaah.. para ahli dah bicara begono… malu aaaah.. kalau bahasa pak Mars bungkus kacang.. bahasa saya bahasa TARSAN kaleeee yaaaa… aaaaaaaaaauuuuooooooo
    Salam Sayang

  4. Bahasa menunjukkan bangsa, apalah jadinya bangsa ini tanpa menggunakan bahasa yang benar. Identitas media kita meragukan…… kronis

  5. acapkali kesalahan penulisan sering menimbulkan kesalah pahaman diantara para pembacanya yang terdiri dari berbagai latar belakang.

  6. memang pendidikan wartawan semakin tinggi maka semakin baik. Termasuk pula dalam tataran teknis, seorang layouter pun seharusnya juga belajar tentang bahasa. Kalau perlu perusahaan menyekolahkan mereka.

    btw, saya blogger kuning kayaknya. sedap kan dipandang mata? hmmm…maknyus.

    gimana kalo pak sawali kita undang ke jakarta kang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s