Wartawan dan Bos Media

Jika memungkinkan, jadilah bos media ketimbang jadi wartawan. Terserah, mau jadi pemilik koran, televisi, radio, atau penguasa portal. Jadi bos media, sudah pasti banyak enaknya. Mau dilihat dari kacamata manapun, semuanya menempatkan juragan di tempat yang lebih terhormat. Dari strata sosial, misalnya, kasta pemilik media (media sungguhan bukan media bodrex, apalagi termorex) jelas berada di tataran brahmana, elit, borjuis, atau entah apa lagi sebutannya. Pemilik media umumnya orang hebat, terutama dari sisi intelektualitas dan finansial sehingga selalu menempati kelas atas. Kemampuan finansial, apalagi ditopang kualitas media yang dipimpinnya, akan berbanding lurus dengan jaringan/kolega yang dimilikinya. Tak diragukan bahwa pemilik media punya relasi lebih luas dibanding sekadar reporter. Pemilik media, mungkin, akan lebih mudah menemui Presiden daripada wartawan.

Dari sisi agama, pemilik media disebut-sebut banyak pahalanya karena dia mengepulkan asap dapur banyak orang. Mulai dari wartawan, layouter, tenaga pemasaran, orang manajemen, driver, OB, warung dekat kantor, hingga agen. Kata kiai, orang banyak pahalanya lebih dekat dengan surga. Apalagi kalau pemiliki media itu baik hati, jujur, dan dermawan, wah kian dekat jarak dengan swargaloka.

Sisi enak lain dari seorang bos media adalah tingkat kematian yang rendah. Ini bila kita melihat hasil penelitian yang dipublikasikan Committee to Protect Journalist (CJP). Dalam situsnya, lembaga nirlaba yang berbasis di New York, Amerika Serikat, ini mencatat, sejak 1 Januari 1992-8 Juli 2009 sudah 742 jurnalis dari seluruh dunia tewas menjadi korban kekerasan saat menjalankan atau karena terkait tugasnya.

Dari ratusan orang yang telah menjumpai akhirat itu, reporter media cetak/penulis sebesar 31,4%, reporter media elektronik mencapai 21,4%, redaktur/editor sebanyak 15%, kamerawan 10%, kolumnis/komentators 9,3%, fotografer 7,7%, dan produser 5,6%. Did you know? Pemilik media “hanya” 4% atau tak lebih dari 30 orang dalam kurun waktu yang lama itu. Kematian para jurnalis ini, sebagian besar karena dibunuh (71,8%). Lebih spesifik lagi, mereka menemui ajal akibat dibunuh dengan senjata api laras pendek (small arms). Irak, adalah negara pembunuh nomor satu. Dalam data CJP ini disebutkan, 139 jurnalis mati di kampung Saddam Hussein ini.

Biarpun catatan itu belum mencakup Indonesia, fakta sudah membuktikan bahwa belum ada pemilik media di Indonesia yang meninggal karena risiko pekerjaannya. Kasus kematian jurnalis terakhir yang menghebohkan adalah dibunuhnya wartawan Radar Bali AA Narendra Prabangsa. Tapi, menjadi pemilik media tentu tak gampang. Rp100 juta pun bisa tak cukup untuk bermain di bisnis menggiurkan ini. Barangkali memang takdir buat yang modalnya masih pas-pasan untuk jadi wartawan. Kendati demikian, sembari meretas karier, bolehlah tetap merajut mimpi jadi bos media. Boleh juga bermimpi makin banyak orang sadar bahwa risiko wartawan juga besar. Karena itu, penghargaan untuk mereka pun sudah sewajarnya besar……..

Advertisements

43 responses to “Wartawan dan Bos Media

  1. buat yg masih jadi mahasiswa, jadilah pimred di media kampus kalian. belajar dari pimred bisa mengantarkan ke dunia media sesungguhnya, baru setelah itu bisa bercita2 jadi pimred

  2. Itu memang sudah hukum alam mas, ada atasan, ada bawahan (positif thinking yaa), ada langit ada bumi dsb.

    Kalo semua jadi bos, lantas siapa nyang jadi karyawan dan sebaliknya.

    So berusahalah untuk jadi bos he..he..he

    Salam kenal dari Solo

  3. jadi bos memang serba enak lan kepenak, mas teguh, termasuk bos media. mereka hanya memberikan komandoi di belakang meja dan jarang bersentuhan dengan kenyataan yang seringkali mengandung banyak risiko. sang jurnalis yang acapkali harus menjadi korban, tapi saya haqqul yakin, tugas2 jurnalistik yang sarat risiko, sampai berujung kematian, benar2 akan mampu menjadikan media sdbg salah satu pilar demokrasi yang akan terus dikenang dari generasi ke generasi. merekalah yang sesungguhnya telah mnemberikan pencerahan dan membuka mata dunia terhadap nilai2 kebenaran, kejujuran, dan keadilan. bravo sang jurnalis,

  4. iki lak curhatmu to mas… suara hati paling dalam dari seorang wartawan… 🙂
    insya Allah, njenengan bisa kok jd bos media… semua yg besar dari yg kecil dulu kan mas?

  5. Mungkin dinegara tetangga, yang namanya wartawan itu kurang dihargai.. Tapi, kalo di indonesia kan udah ada Undang undang perlindungan untuk wartawan 🙂

  6. Hmmm…dilematis
    * pemimpin media ibarat hakim juga mas, satu kaki di surga lainnya neraka, maklum saja segala kebijakan bersumber disana, jika niatannya cari laba dibanding mencerdaskan khalayaknya, apalagi sibuk mencipta opini dengan kepentingan “pesanan”
    *meskipun begitu..saya bercita-cita pgn punya media sendiri

  7. lebih enak jadi wartawan ah mas. tugas wartawan adalah menulis dan bos media menerbitkannya. melihat, mendengar, meliput, menulis, masuk surga lagi….

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  8. Jadi juragan itu melang paling enak ya, kadang malah tidak ikut mikir tinggal dapat hasilnya aja, semua sudah diurusin ama karyawannya/kepercayaannya.
    memang benar kalo orang disuiruh punya cita-cita itu jangan jadi kuli tapi mempunyai kuli..
    salam..
    Iklan Gratis

  9. seharusnya dalam hal ini, tak ada yang merasa tinggi dan rendah, semua saling berketergantungan, dan memiliki modal yang sama….

    pemilik memiliki modal yang berwujud materi tapi gak ada resiko yang mengancam kelangsungan hidupnya, paling banter hanyalah bangkrut…

    wartawan??? modalnya jauh lebih besar, karena segenap jiwa raga dan keselamatan serta kelangsungan hidup di pertaruhkan demi mengangkat nama baik sebuah media.

    kalo semua pihak menyadari akan hal itu, tak akan ad ayang di rugikan, semua akan berada pada posisi yang sama…karena bagaimanapun, tak ada media tanpa wartawan dan tak ada wartawan tanpa media 🙂

    kalo saya pengennya menjadi penulis aja, penulis yang sinting hi hi hi…

  10. Saya setuju, kecuali kematian, karena matinya bos dan karyawan tak ada yang tahu kan. Karena kematian ” tak memandang berapa umurmu, siapa kamu dan sedang apa kamu.
    Jika bos media suka shodaqoh dan menolong orang pasti lebih jos lagi.
    Salam jos dari Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s