J.J (Jancuk Jakarta)

Sesungguhnya tidak ada cela pada “istri kedua” saya. Bodinya, biarpun tidak ramping-ramping amat, tetap kelihatan segar dipandang. Seluruh organ vitalnya juga berfungsi amat baik. Kendati agak tua, cengkeraman depan dan belakangnya juga masih kuat. Sorotan matanya tajam. Soal kulit yang mulai kusam, itu tak jadi persoalan. Toh, inner beauty jauh lebih penting daripada chasing.

Motor Suzuki Shogun 1997 boleh disebut belahan hati saya.
Dia begitu setia mengantar kemanapun kaki ingin melangkah.
Dia tak pernah protes meski diajak melabrak panas dan hujan.
Dia juga tak pernah mengeluh meski dihantamkan batu dan aspal krowak.
Dia begitu pengertian meski jarang air bersih diguyurkan tubuhnya.

Memang butut, tapi mesinnya luar biasa bandel. Itu yang saya suka hingga tak tebersit pun untuk mengganti yang baru. Sejak kerja di Kota Buaya hingga kini di Batavia, dia saban hari mengantarkan mencari sesuap nasi. Pagi, siang, malam, kadang hingga dini hari. Maklum, perintah atasan kadang tak kenal kompromi. Dia juga tetap santai meski dulu beberapa kali harus melintasi Dolly (bukan maksiat lho rek, cuma lewat).

Biar butut dan kerap diroda paksa, saya yakin istri kedua ini punya sedikit kebanggaan. Setidaknya, dia pernah merasakan Senayan City yang gaul itu atau Plaza Indonesia yang parkiran mobilnya diisi mobil murah semua macam Jaguar, Bentley, BMW, Mercy, Porsche, dan Alphard. 😀
Biar ndeso, dia juga sering menginjak rumput gedung DPR, Mabes Polri, Hotel Mak Erot yang dua kali dibom itu, The Ritz Charlton, Mulia Senayan, Apartemen Pakubowono, Poin alias Pondok Indah, dan masih banyak lagi.

Photo 38Sempurna? Tidak. Satu-satunya hal tak biasa dari motor saya adalah platnya yang S. Yes, right. Saya memang membawanya dari kampung halaman untuk mencari penghidupan di Jakarta yang sumpek ini. Plat kampung sejatinya tidak masalah karena di sini juga banyak motor daerah macam Z (Garut, Tasik, Sumedang, Ciamis, Banjar), H (Semarang, Kendal, Purwodadi), atau BG (daerah yang masuk Sumatera Selatan).

Menjadi persoalan karena sering orang keheranan. Tak sekali dua kali di lampu merah yang naudzubillah semrawutnya itu atau di mal ada orang mencolek kemudian tanya “ Mas plat S itu daerah mana?”. Weleh, gak tau apa kalau yang naik orang ganteng, pake tanya segala? Kalau hati lagi enak, saya jawab apa adanya. Tapi kalau lagi bete, asal aja jawabnya. “Surabaya pak,”. Orangnya manggut-manggut.

Lha sungguh sial. Hampir empat tahun saya parkir di Menara Kebon Sirih (tempat kerja) dan sudah tahu rupa-rupa satpam di situ, eh kemarin masih ada saja satpam di parkiran yang nyeletuk. “ Mas Plat S darimana?” Weleh, saya hanya bisa bergumam dalam hati: apes bener jadi orang desa di sini. “Jancuk Jakarta!”

Advertisements

31 responses to “J.J (Jancuk Jakarta)

  1. wakakak dari JJ ke Plat Nomor he he, bisa aja Mas. Namun ya itulah keangkuhan B, padahal mengendarai di jalan aja udah stres duluan. Jadi bawa kendaraan harus bawa sabar juga Mas Zen yang banyak kalo perlu 2 karung untuk persediaan.
    Saya kalo dari Keb Lama ke Cempaka putih lewat jam 6 mmmhhh … siap-siap mengeluarkan jurus sabar yang banyak Mas.
    Trims Mas. Salam

  2. Hahahahaa…..
    Ya maklumlah mas, plat S itu kan tidak banyak berseliweran. Yg banjir itu F dan D, jadi begitu ada S langsung pada heran dan daripada mereka penasaran kan lebih baik nanya toh.
    Harus dirawat dan disayang shogunnya mas, krn sudah setia menemani setiap waktu..

  3. ops, kalau lagi sewot plat berubah jadi jj ya mas ? saya juga masih pake mas, kalau saya nggak salah ini shogun keluaran pertama, trus berikutnya shogun R, malah punya saya warnanya norak benar Hijau.
    Tapi samapai sekarang masih mantap, maklum yang make juga ketua DPR ( istri ), jadi hemat.

  4. kita harus tetap bangga menyebut kota tuban….ada banyak darah orang penting yang netes…darah sosok religi sunan bonang dan sunan kalijogo dan darah pemberontak macam ronggolawe…walau kota tuban kian merana diantara kemajuan kota tetangga lamongan dan bojonegoro…..

  5. Gyahahaha, sama seperti tampang saya yang ndak meyakinkan alias ndesit, satpam tempat saya kerja juga selalu nanya -meski baik baik- Mbak, mau ke mana?

    ealah, ya mao kerja tho… 😆

  6. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank sukses selalu yaaaak
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  7. hehehe … sabar, mas, sabar. begitulah potret kota megapolitan jakarta. sangat beda dg suasananya dg kota sekecil kendal. btw, soal motor yang penting lanjunya. bagi jurnalis, roda dua justru bisa dipakai utk aktivitas dan mobilitas yang tinggi.

  8. Makanya kalao pada kerja pake jaket hitam dan dibelakangnya ada tulisan besar-besar ” abdulcholik.com. Pasti para satpam akan mengangguk-angguk dan bilang ” anak buahnya Pakde Cholik ya mas /mbak ?”.

    Bilang saja ” saya stafnya pakdemu itu ” ha..ha..ha
    janzcurit tenan rek !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s