Satu Novel Seribu Hikmah…

Rabu, 28 Oktober 2009, pukul 17.15 WIB.
Petang yang sempurna di bawah fly over Jati Baru, kawasan Tanah Abang. Penyakit rabun senja tanpa dikomando menyergap semua pengendara di perempatan jalan kotor itu. Tak peduli apakah pria, wanita, atau setengah di antara keduanya. Tanpa pandang bulu apakah itu pemilik Mercy atau pikap pengangkut kayu. Semuanya menjadi buta, buta warna!
Merah darah, warna yang keluar dari lampu traffic light di tiap sudut jalan itu sebenarnya bukan hal yang debatable, itu absolute! Tapi inilah Jakarta, jika memang bisa cepat, mengapa harus lambat? Soal perempatan yang kemudian menjadi tak berujung pangkal, itu bukan urusan.
Sial bagi yang menjadi korban. Terjebak dalam kemacetan laknat ini tentu persoalan besar. Apalagi SMS yang masuk satu jam sebelumnya telah membuat gemeletuk gigi. Ingin segera enyah, apa daya bajaj di depan lagi mati kutu. Tak sedikitpun ia bergerak karena moncongnya sudah mencium pantat metromini 64.Goyang ke kanan, mana bisa? Bus Mayasari Bhakti yang penuh sesak penumpang pun tak punya belas kasih untuk memberikan celah. Di kiri, raungan knalpot oprekan RX King hampir menjebol gendang telinga. Jangkrik..!

17.45.
Perempatan Hotel Milenium masih tetap terkutuk saat jam pulang kantor. Lagi-lagi ribuan pengendara buta warna yang ada. Kulirik sekilas polisi di tengah jalan. Kasihan Brigadir Satu Polisi itu. Susah payah dia memecah gerombolan kendaraan tak tahu aturan. Darah ini masih terasa mendidih. Petang yang merambat kelam itu masih terasa tak bersahabat.

18.15
Sampai juga kaki menginjak hamparan karet abu-abu di depan pintu masuk kantor berlantai tiga warna biru itu. Embusan sejuk angin AC rasa-rasanya tak sanggup menurunkan tensi darah. Kerjaan, urusan personal, hingga situasi jalan pada hari ini terasa menyiksa.

18.30
Bukan segelas air dingin yang membuat pikiran berangsur jernih. Bukan pula sebatang rokok mentol yang katanya bisa bikin “layu” itu. Apalagi, senyum dikulum perawan sebelah yang tak laku-laku. Aha….dunia menjadi terasa cerah. Hiruk pikuk dan cacian redaktur pada reporternya seketika menjadi harmonisasi yang indah. Segala kepenatan dan kejengkelan dalam perjalanan ke kantor menjadi musnah.

18.31
Kertas kado berlapis plastik bening yang membungkus benda persegi itu terlihat elok. Sungguh rapi. Corak beruang menari dan balon warna-warni menjadikan bungkusan itu semakin cantik . Di ujung kiri atas, sepotong kertas putih tertempel, bertuliskan pengirimnya: Bapak Agus Sukarno Suryatmojo. Novel “Perahu Kertas”, sebuah kisah tentang persahabatan, cinta, dan segala romantikanya itu datang padaku.

GUSKAR
Dalam dunia pesantren di Jatim, sebutan Gus lazim digunakan para santri untuk memanggil anak kiai atau pengasuh pondok pesantren bersangkutan. Misalnya, Gus Dur atau Gus Sholah yang anak KH Wahid Hasyim, cucu KH Hasyim Asyari di Ponpes Tebuireng, Jombang. Gus Rori di Surabaya, Gus Mamak di Jember, Gus Ubed di Tuban dan seterusnya.
ok wall
Pengidentifikasian seperti itulah yang sengaja saya gunakan tiap kali bertandang di guskar. Saya tidak tahu apakah Pak Agus Sukarno Suryatmojo lahir dari kalangan pesantren atau tidak, yang pasti, beliau seorang haji dengan tulisan-tulisan yang inspiratif dan mencerahkan. Tagline “Satu Blog Seribu Hikmah” sudah cukup untuk menggambarkan betapa sang Kyaine Blog itu begitu ramah dan tanpa pamrih berbagi hikmah dan pengalaman.

Atas dasar itulah kemudian saya hampir selalu menyapa beliau dengan Gus. Bukan karena njangkar (memanggil tanpa memerhatikan tingkat umur), namun bagi saya, Gus itu kependekan dari Gus Kar sekaligus “Gus” semacam pengidentifikasian rasa hormat dari anak muda yang masih belajar untuk Kyaine Blog. Bahwa Novel Perahu Kertas yang kini saya pegang itu datang dari beliau, jelas sebuah kehormatan dan kebanggan. Tak ada kata lain selain TERIMA KASIH GUSKAR. Semoga ide-ide kreatifnya dan Kenduri Narablog-nya semakin menambah semarak jagat informasi dan persahabatan di dunia blog Indonesia.

*terima kasih juga untuk Mbak Lastri.

Advertisements

11 responses to “Satu Novel Seribu Hikmah…

  1. dasar wartawan! 😀 😛

    mas, sebenarnya rabu sore kemarin itu secara fisik kita dekat sekali loh… pada jam2 itu saya melewati jalan kebon kacang dan jatibaru, thamrin…
    selamat menikmati perahu kertasnya, dan terima kasih atas apresiasinya.. 😀

    Lo kok gak mampir sekalian k kebon sirih Pak Agus (ditambahi pak lah biar mantab). Terima kasih banyak atas cinderamatanya, top bgt….

  2. wah guskar slalu baek hati bagi2 kado novel..
    aku kapan gus kebagian novelnya..

    aku mau perahu kertas tuu.. 🙂

    Wah iya mas bisa minta ke guskar, bukunya masih banyak tuh…kekeke..

  3. wah aku kok jarang ketempat guskar ya. mulai sekarang aku kesana lagi dah.

    Lanjutkan….! heheh..wah aku juga jarang k jenengan mas. Maklum ini jg baru bs ol setelah ditimbun perintah bos.

  4. waduh bagi-bagi apa neh? kok aku belum kebagian? wkwkkwkwkwk gak ding…

    kelak suatu saat pingin ketemu dengan panjenengan semua…

    semoga..

    Mangkane ta kang dulin nang nggonku. Sekalian metuki mantankyai :D:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s