Tata Kota Kyoto (1-Kartu Taspo)

Identitas Kyoto sebagai kota kebudayaan menjadikan bekas ibu kota Jepang ini begitu ramah dan menyenangkan. Apalagi tata kotanya terstruktur dan mendukung peran banyak sektor.

LIMA keping yen di telapak tangan. Tiga pecahan 300, dua sisanya pecahan 10. Tepat seperti angka yang terpampang di depan bungkus contoh Marlboro Black Gold dalam vending machine tak jauh dari Hotel Granvia Kyoto. Sesaat digenggam, lantas satu persatu dimasukkan. Beres, pencet tombol pada rokok pilihan di mesin penjual itu. Krincing….,bukan rokok dengan bungkus warna hitam pekat yang keluar, namun gemerincing 320 yen yang kembali. Saya bengong.

Dan keluarlah tertawa kecil diikuti kata-kata halus setelah kejadian itu. ”Tanpa kartu Taspo, orang tidak akan bisa membeli rokok di vending machine.” Saya cuma nyengir mendengar penjelasan Susi Yamano, wanita asal Jakarta yang telah lebih dari 10 tahun tinggal di Negeri Matahari Terbit itu. Susi yang diperistri pria Kobe ini merupakan guide para wartawan Indonesia saat mengikuti kunjungan pabrik Sharp di Osaka. Seperti mengerti kebutuhan saya akan kepulan asap, Susi lantas menunjuk minimarket di ujung jalan. Pada akhirnya sebungkus rokok berada di tangan, bekal untuk menemani makan malam.

Urusan merokok bukan perkara mudah di Jepang. Sebagaimana negara besar lainnya, Jepang terus berupaya maksimal menekan tingkat konsumsi rokok. Pemberlakuan Kartu Taspo pada 2008 silam merupakan salah satu cara untuk meredam ketergantungan warga terhadap nikotin. Kartu Taspo dapat disebut semacam SIM untuk merokok. ”Setiap perokok yang berumur 20 tahun ke atas diharuskan memiliki kartu ini. Mesin rokok atau kios rokok tidak akan melayani pembeli yang tak memiliki kartu tersebut,” kata Susi Yamano.

Untuk mendapatkan Taspo, warga harus mengajukan aplikasi (gratis), bisa melalui website yang menyediakan atau mengambil formulir yang disediakan di vending machine. Jika disetujui, kartu Taspo akan keluar. Jepang  memberlakukan secara bertahap kartu ini, dan sekarang sudah menyebar di hampir semua kota. Kyoto malah termasuk gelombang pertama kota-kota yang menerapkan kartu ini.

dua wanita menikmati rokok di bagian luar salah satu pusat perbelanjaan.

Pemerintah Jepang menyatakan, selain untuk menghindari terjadinya perokok di bawah umur (underage smoker), kartu Taspo juga menjadi semacam alat penghitung persentase perokok dan hubungannya dengan kesehatan di dunia.  Sepanjang pengamatan selama mengunjungi beberapa lokasi di Kyoto awal Juni lalu, tak terlihat satu pun bocah merokok di tempat publik. Yang ada hanyalah pria atau wanita dewasa. Begitu ketatnya aturan terhadap perokok di bawah umur ini, kehebohan sempat melanda Jepang ketika video AR, bocah perokok asal Musi Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan, beredar di Youtube dan beritanya terpampang di sejumlah situs berita dunia semacam The Sun, Dailymail, Time, juga di situs gosip populer seperti Perez Hilton.com. AR semakin jadi perbincangan hangat saat salah satu televisi lokal Jepang juga mengulasnya dalam salah satu liputan features-nya. Hampir keseluruhan warga Jepang yang mengetahui video itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengurut dada. ”Watashi wa bikkuri shita (saya sangat terkejut). Bagaimana dia bisa merokok seperti itu?,” kata Shoko Miyazawa, staf Public Relation Division Sharp Corporation pada saya . Keheranan yang sama diutarakan Keiko Megumi, wanita yang berbincang singkat tak jauh dari Kyoto Tower. ”Indonesia deha kodomo tabako suttemo iiho (apa di Indonesia anak boleh merokok)?,” tanya dia dengan raut muka serius.

Dari beberapa cerita itu, kesimpulannya, Jepang memang melarang keras rokok bagi anak di bawah umur. Upaya menekan tingkat konsumsi rokok juga dilakukan lewat kenaikan cukai rokok, penyebaran stiker larangan merokok di kendaraan umum seperti taksi, bus, dan kereta api.

Tak heran, ada ungkapan bahwa pendatang atau wisatawan di Jepang akan kesulitan untuk merokok. Ungkapan itu memang ada benarnya. Pengalaman selama lima hari (tiga hari di Osaka dan dua hari di Kyoto), membutuhkan “sedikit perjuangan” untuk menikmati rajangan tembakau berbalut kertas tipis ini. Contohlah misalnya saat menginjak restoran di hotel bintang lima di kawasan Sakai. Di restoran buffet di lantai 28, saya bersama seorang wartawan lain harus kembali ke lift untuk meluncur ke ballroom di lantai satu setelah makan siang. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk pergi ke sebuah bilik kaca dengan blower di dalamnya. Ya, itu ruangan khusus bagi mereka yang ingin melampiaskan hasrat merokoknya. ”Lumayan menguras energi. Mungkin dengan cara ini perokok di Jepang bisa terus berkurang,” celetuk teman yang seorang fotografer ini.

kartu taspo (image:www.j82productions.com)

Hampir keseluruhan hotel menerapkan sistem yang sama. Mereka menempatkan ruangan khusus untuk merokok (biasanya di sudut ballrom) dengan alasan kesehatan. Kalaupun tidak ada tempat khusus, ruangan bebas bagi perokok berada di pintu depan hotel, yang umumnya langsung berbatasan dengan udara terbuka. Hotel-hotel di Kyoto juga menerapkan sistem lokalisir kamar bagi perokok. Lazimnya, di salah satu lantai atau lebih, kamar-kamar itu khusus bagi tamu yang perokok. Dengan demikian, mereka yang bukan perokok tidak ”terkontaminasi” dengan bau ataupun asap beracun tersebut. (*)

Advertisements

5 responses to “Tata Kota Kyoto (1-Kartu Taspo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s