Tata Kota Kyoto (2-pedestrian)

Jika ada kawasan pedestrian yang sangat memanusiakan manusia, Kyoto salah satunya. Bersih, aman, bebas dari pedagang kaki lima, dan yang paling penting, bersahabat bagi pejalan kaki, pengendara sepeda, dan orang buta

“Jika pejalan kaki tak bisa berjalan di trotoar, itu terjajah namanya. Lantas buat apa pemerintah membuatnya?,” sergah Daisuke Hiroshi di bangku kayu di depan Namba Park di pusat kota Kyoto. Lelaki bercambang tipis itu lantas tersenyum. ”Kasihan sekali Anda,” katanya menyindir.

Jalur Pedestrian di Kyoto (image:zenteguh)

Giliran saya yang tersenyum kecut. Hiroshi jadi teman perbincangan singkat di siang yang panas, awal Juni lalu. Komentar (lebih tepatnya ejekan) dengan bahasa Inggris yang agak susah dimengerti itu terjadi ketika saya memuji betapa enaknya warga di Jepang. Mereka sangat merdeka di kawasan pedestrian.

Mereka bisa leluasa berjalan atau bersepeda tanpa perlu merasa takut terperosok di jalan berlubang, terhalang PKL, atau dihambat gerombolan orang cangkrukan. Tentu saja Hiroshi heran. Sepengetahuannya, di mana-mana trotoar adalah ruang publik yang difungsikan khusus bagi pejalan kaki. Karena itu ketika sedikit saya paparkan situasi di Surabaya, pernyataan bernada cemoohan itu yang muncul.

Di Kyoto dan juga kota-kota lain di Jepang, berjalan kaki dan bersepeda adalah bagian dari kehidupan. Sebagian warga memilih naik sepeda. Pergi ke kantor, ke rumah makan, ke salon, ke resepsi perkawinan, ke tempat makan, ke rumah mertua, ke perpustakaan, juga ke mal sering dilakukan dengan bersepeda. Jangan berpikir mereka yang naik sepeda ini hanya orang dari golongan ekonomi menegah ke bawah, para eksekutif sangat banyak sekali.

Karena itu, pemandangan orang mengayuh sepeda onthel dengan berbusana jas lengkap dengan dasi adalah hal yang sangat biasa.  Bukan cuma pebisnis, namun juga terlihat tentara, polisi, dan pegawai stasiun kereta api,

Dan jangan berpikir pula bahwa yang naik sepeda itu hanya orang-orang dewasa karena remaja juga sangat banyak. Tak sedikit pula mereka yang tengah dimabuk asmara itu melewatkan sore dengan bersepeda santai beriringan atau berboncengan di trotoar.  Di Kyoto, fungsi trotoar memang tak sekadar tempat bagi pejalan kaki, namun sekaligus jalur sepeda.

Jadilah nuansa yang terhampar setiap hari di trotoar itu adalah lalu lalang antara pejalan kaki dan pesepeda. Hebatnya, di antara mereka terjadi saling pengertian. Pengendara sepeda, bagiamanapun cepatnya melaju, tidak akan menabrak para pejalan kaki. Mengapa demikian? ”Karena mereka tahu bahwa pejalan kaki juga punya hak untuk melintas di trotoar. Pengendara sepeda bukan penguasa tunggal di sana,” terang Susi Yamano, pegawai agensi pariwisata yang menjadi pemandu lima wartawan Indonesia saat di Jepang.

Dalam situasi yang sangat padat, senggolan antara pengendara dan pejalan kaki kadang tidak bisa dihindari. Namun, sering kali tidak ada kemarahan di antara mereka. Yang ada hanyalah saling cepat meminta maaf. Banyaknya pengendara sepeda ini membuat Pemerintahan Prefektur (semacam provinsi) Kyoto juga membolehkan trotoar menjadi tempat parkir sepeda. Tentu saja area parkir ini telah diatur sedemikian rupa sehinga tidak memakan keseluruhan trotoar.

”Dengan kesadaran sendiri, warga menata sepedanya sehingga tidak menghalangi pejalan kaki atau pengendara sepeda. Di tempat-tempat tertentu memang ada petugas parkir, namun dia hanya bekerja merapikan sepeda-sepeda itu,” ungkap Susi.

Osamu Ryo, salah satu pengendara sepeda yang sempat diwawancarai mengaku ada tiga alasan mengapa dirinya memilih naik sepeda daripada menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke tempat kerjanya di kawasan perbelanjaan ISETAN. ”sehat, mengurangi polusi, dan hemat energi,” ujarnya..

Dengan latar belakang berjalan kaki dan bersepeda adalah bagian mutlak dari kehidupan warganya, Pemerintah Prefektur Kyoto pun terus membenahi kawasan pedestrian. Intinya, pemerintah ingin memberikan ruang publik yang benar-benar sesuai fungsinya. Bahkan hal terkecil dari fungsi itu juga tak luput dari perhatian.

Misalnya kebutuhan untuk orang buta. Agar para tunanetra itu tetap dapat menikmati perjalanan tak ubahnya dengan manusia normal lain, didesainlah pedestrian itu dengan menambahkan ruas besi di tengah paving blok. Besi panjang yang ditanamkan di kawasan pedestrian dengan komposisi sedikit menyembul itu merupakan petunjuk bagi orang buta. Melalui tongkatnya, orang buta tinggal mengikuti alur besi itu. Dipastikan dia tidak akan bingung atau celaka. Tapi berdasarkan pengamatan, belum semua kawasan pedestrian memberikan fasilitas seperti itu.

kurang kerjaan

Dalam konteks pembangunan kawasan pedestrian, kenyamanan itu dapat diwujudkan melalui modifikasi iklim mikro (suhu, kelembaban, angin, dan sinar matahari), peningkatan kualitas fisik melalui pemilihan bahan material, serta rancang bangun dan kesesuaian perlengkapan jalan (street furniture).

Bagaimana di Indonesia? Banyak jalur pedestrian di kota-kota yang tak memanusiakan manusia. Trotoar penuh deretan lapak PKL. Belum lagi sampah, ojek, mungkin juga preman, selalu menghalangi. Mungkin benar kata Daisuke Hiroshi, pejalan kaki di kota ini memang sedang terjajah dan entah sampai kapan bisa merdeka. (*)

Advertisements

11 responses to “Tata Kota Kyoto (2-pedestrian)

  1. Wah, mantap nih. Inilah surga pejalan kaki dan pesepeda. Semoga pemerintah DKI bisa mengamil pelajaran dari kota Kyoto ini.
    Btw, numpang lewat

    Sirun
    *bike to work 🙂

  2. Thamrin dan Sudirman mungkin lebih baik ya trotoarnya di banding jalan2 lainnya yang untuk berjalan saja perlu perjuangan. Cempaka putih dekat saya ngantor banyak yang ketutup dan sulit menyadarkan mereka yang mengganggu trotoar keknya. Yang jadi pertanyaan entah dari mana awal ketidakdisiplinan ini datang sehingga tak bisa dipilah-pilah atau jelasnya digeneralisasi bahwa negeri ini tingkat disiplinnya kelihatannya parah 😦

  3. wah hebat ya mereka, kalau disini meski terkenal dengan bangsa pemaaf tapi kalau sudah sengolan dan sudah meminta maaf tetap saja bogem mentah di acungkan. Kalau gak begitu bisa jadi setelah sengolan dibuat ajang bisnis untuk mencari keuntungan sendiri 😦
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. betul sekali, padahal aturan trotoar sudah jelas hanya saja masyarakat kita sering tidak berkaca sendiri bahwa hal salah dianggap benar dan yang benar dianggap sok suci. makanya orang jepang sehat2 lagi bersih tempatnya, gak sekumuh trotoar kita

  5. jangankan di jalan-jalan besar di Ibu Kota, di jalan kecil setingkat Kebon Sirih Timur Dalam (jalan dari kos saya menuju kantor) saja juga banyak mobil terparkir…jalan agak ke tengah sedikit ehhhhhh mobil dan motor ngebut….TROTOAAAARRR SURGA PEJALAN KAKI

    wah kos-kosanmu emang murah. makanya jalan sekitarnya juga jelek. kazkakak

  6. hai, post.I bagus telah memikirkan topik ini, jadi terima kasih untuk berbagi.
    Saya mungkin akan datang kembali ke blog.Keep Anda sampai tulisan yang hebat ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s