Matt Moniz…

Sebanyak 10 kandidat Petualang Tahun Ini (Adventurer of The Year) telah diumumkan majalah National Geographic 7 Desember 2010 lalu. Matt Moniz menyita perhatian karena jadi sosok termuda. Apa kehebatan bocah 12 tahun itu?

NYARIS tidak ada yang membedakan Matt Moniz dengan bocah-bocah lain sebayanya sebelum dia berumur 9 tahun. Menikmati pelajaran di sekolah, bermain, dan melewatkan waktu dengan berkumpul bersama keluarga. Bila ada yang terlihat menonjol, itu adalah aktivitasnya di luar ruangan yang lekat dengan kata “ekstrem”, seperti memanjat tebing, ski gaya bebas (free style skiing),  arung jeram, dan bersepeda gunung.

Semuanya benar-benar terlihat berbeda ketika Matt menginjak base camp gunung tertinggi di dunia, Everest, pada April 2007. Dia baru berumur 9 tahun saat itu. “Aku mendapatkan waktu terbaik dalam hidupku. Aku pun menjadi ketagihan setelahnya,” ungkap bocah asal Boulder, Colorado, Amerika Serikat ini.

Pengalaman baru di kaki Everest seperti menjadi pemantik letupan semangat Matt untuk memulai petualangan demi petualangan. Masih di bulan yang sama, bocah yang juga menyenangi olahraga jujitsu ini berhasil mendaki puncak Kala Patar di Nepal yang berketinggian 18.501 kaki. Kembali ke rumah, Matt mendeklarasikan bahwa menggapai tujuh puncak dunia (seven summits) adalah tujuan hidupnya.

Sekadar impian anak kecil? Sama sekali tidak! Dia mulai merealisasikan obsesinya. Pada Juni 2008, Matt, 10, tercatat sebagai orang termuda  yang berhasil menyentuh puncak Gunung Elbrus (Rusia), titik tertinggi di Eropa. Catatan mengagumkan itu ternyata bukan yang terakhir. Pada Juni itu juga, bungsu dari tiga bersaudara ini sukses menaklukkan Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika.

Seakan belum cukup, Matt kembali mengukir rekor dunia dengan menjadi orang termuda yang berhasil mendaki ke puncak Gunung Aconcagua di Pegunungan Andes,Argentina, Desember 2008.Darah petualang Matt mengalir deras dari ayahnya, Mike Moniz, seorang pendaki profesional. Dalam setiap perjalanan, Mike menjadi partner, mentor, pemandu, sekaligus teman yang menyenangkan di tenda.

Meski begitu, adrenalin yang terus bergelora dalam diri pemilik situs Climb7.com ini tidak 100% dipengaruhi ayahnya. Matt tergerak untuk melakukan pendakian atas dasar kepedulian terhadap sesama.

Adalah Iain Hess, sahabat terbaiknya didiagnosis mengidap Primary Pulmonary Arterial Hypertension (PAH) pada 2005 atau saat berumur 5 tahun. PAH primer merupakan gangguan langka yang membatasi aliran darah menuju paru-paru. Gejala mencakup sesak napas, kelelahan kronis, pusing, pingsan, dan nyeri dada. Penyebab PAH belum diketahui dan tidak ada obatnya.

Ketika mendaki Aconcagua, Matt menyadari bahwa efek kekurangan oksigen di ketinggian mirip dengan penyakit yang mendera sahabatnya tersebut.Menunjukkan rasa empatinya, pada Juli 2009, Matt melakukan ekspedisi mendaki 14 puncak tertinggi di Colorado selama 14 hari. Ekspedisi yang terkenal dengan sebutan Fourtenners itu disponsori Oracle dan Outdoor Hardwear. Matt berhasil mengumpulkan dana USD25.000 dan segera digunakan untuk pengobatan Iain Hess. “Dia sangat senang mendengarnya,” ucap Matt.

Kisah penjelajahan Matt belum berakhir. Pada Juni-Juli 2010, penyuka makanan sushi ini lagi-lagi menorehkan rekor kala berhasil mendaki 50 puncak tertinggi di 50 negara bagian AS. Matt,Mike, dan timnya berhasil menuntaskan perjalanan berat itu hanya dalam tempo 43 hari, 3 jam, 51 menit, dan 9 detik. Rekam jejaknya yang terbilang luar biasa itulah yang membuat National Geographic memungut namanya dan menceburkan dalam daftar nominator Adventurer of The Year.

“Luar biasa. Saya sungguh bersemangat dan tak bisa berkata-kata,” kata Matt dikutip Colorado Daily. “Saya tidak pernah berpikir sebelumnya akan masuk ke dalam 10 besar,” tambah dia. Pada ekspedisi 50:50 itu, Matt mengawali pendakian di Denali, Alaska, dan mengakhirinya di Mauna Kea, Hawaii. Perjalanan panjang dan memburu waktu itu tak hanya melawan cuaca, namun juga menguras mental dan stamina.

“Kami benar-benar terkesan, tidak hanya pada ketekunan dan dedikasinya mendaki titik tertinggi di setiap negara bagian AS, tapi Matt juga menjadi juru bicara supaya anak-anak dapat keluar rumah,” kata Mary Anne Potts, seorang editor National Geographic . “Memiliki duta muda agar anak-anak dapat menikmati suasana luar sangat penting, dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik,” tambah dia.

Selain sebagai pendaki gunung, Matt memang duta outdoor nation yang mempromosikan rekreasi outdoor untuk anak-anak, terutama di perkotaan. Selama musim panas lalu, Matt berbicara di hadapan sekitar 25.000 orang di New York City’s Central Park tentang pentingnya anak-anak untuk berkegiatan di alam bebas sekaligus melestarikan tempat-tempat liar.Pada situs pribadinya, Matt mengaku sangat beruntung lahir dan besar di Boulder, Colorado. Menurutnya, Boulder adalah tempat paling ideal karena dekat dengan segala sesuatu yang dia cintai, gunung, tebing terjal, dan salju untuk berski.

Anne Potts menjelaskan, Matt adalah orang termuda yang pernah masuk dalam kandidat Adventurer of The Year. Salah satu pesaing Matt adalah Jessica Watson, 16. Remaja asal Australia ini telah mengelilingi dunia dengan berlayar seorang diri nonstop. Potts mengaku bahwa mereka tidak sengaja memilih orang-orang muda tahun ini. “Ini tentang semangat petualangan. Orang yang di luar sana mendorong batas-batas mereka, dan itu inspirasi bagi kita semua,” kata Potts.

Advertisements

7 responses to “Matt Moniz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s