Jasmine Revolution and Abdallah Guech….

Apa kabar Tunisia? Revolusi Bunga Melati (Jasmine Revolution) Januari silam ternyata menyisakan banyak cerita. Revolusi itu, di satu sisi menebarkan harum kisah tumbangnya diktator Zine El Abidine Ben Ali. Namun di sisi lain semerbak itu justru menjadi aroma pahit bagi mereka yang berdiam di sebuah gang sempit bernama Jalan Abdallah Guech.

Revolusi Melati menjadikan orang-orang yang mengais rezeki di kawasan tersebut sekarang ini harus menerima fakta bahwa nasib mereka tengah di ujung tanduk. Abdallah Guech, distrik lampu merah paling termasyhur di jantung kota Tunis, ibu kota Tunisia. Berkembang sejak abad Ke-19 di bawah protektariat Prancis, bisnis prostitusi di tempat ini legal dan dilindungi negara. Sebuah hal yang sangat tidak biasa di dunia Arab. Menariknya, atau ironisnya, rumah-rumah bordil Abdallah Guech terletak hanya beberapa ratus meter dari masjid tertua, Zitouna.

Keberadaan Abdallah Guech telah lama menjadi perdebatan. Pihak yang menentang jelas menggunakan pendekatan agama. Mereka menyebut pelacuran sebagai hal melanggar ajaran Islam. Seorang ulama radikal bahkan pernah mengkritik pemerintah yang terus mempertahankan prositusi tapi tidak menghalalkan poligami.

Ketika akumulasi kebencian dan rasa muak terhadap rezim Ben Ali meledak, sasaran massa juga merembet ke Abdallah Guech. Aktivis Islam bergerak dan menyerukan pembakaran wisma-wisma bordil. Bersenjata bom molotov dan pisau, mereka mengobrak-abrik lokalisasi dan mengusir lelaki hidung belang.

Sepasukan tentara sempat memuntahkan peluru untuk membubarkan aksi itu. Namun para penentang kekuasaan otoritarian pantang surut langkah. Revolusi memberi kesempatan kepada mereka untuk mengikis habis bisnis transaksi seksual ini. Waktu itu juga mereka meneriakkan Tunisia sebagai negara Islam.

John R Bradley, penulis buku Behind The Veil of Vice: The Business And Culture of Sex In The Middle East (2010) menyebut, untuk semua pembatasan pada partisipasi politik langsung, selama puluhan tahun Tunisia merupakan negara yang paling sekuler dan progresif di dunia Islam.
Tingkat kemiskinan sebenarnya hanya 4% sebelum revolusi pecah, termasuk paling rendah di dunia. Sementara 80% merupakan populasi dari kelas menengah. Anggaran bidang pendidikan dialokasikan lebih dari tentara membuat mayoritas masyarakat berpendidikan. Jilbab dilarang di lembaga-lembaga publik, poligami tidak diperbolehkan, dan laki-laki butuh izin dari polisi untuk menumbuhkan jenggot. Negara menanamkan bahwa agama dan politik adalah wilayah yang terpisah.

Revolusi, kata Bradley, membuka pintu bagi kalangan Islam radikal penentang sekularisme yang selama ini diasingkan untuk kembali. “Dengan runtuhnya orde lama, para muslim fundamentalis memperlihatkan lagi eksistensinya,” ulas Bradley dilansir Daily Mail. Meski mengakui gerakan di Tunisia menjadi lahirnya “Musim Semi Arab”, Bradley belum yakin bahwa robohnya tirani Ben Ali merupakan bentuk era baru kebebasan. “Merupakan hal prematur menyebut itu,” katanya. Dengan kata lain, sangat mungkin wajah sosial negara ini akan berubah drastis ke depan. Makin lemahnya geliat di Abdallah Guech merupakan salah satu indikasi.

katanya sih haram.........(image:seifnews)

Abdallah Guech memang ibarat dua sisi mata uang. Tak sedikit yang menyatakan bahwa bisnis prostitusi telah memberikan penghidupan. Di laman Observer.France24,  Zizirider, seorang blogger Tunisia menulis kebanyakan wanita yang menggantungkan asa di distrik merah ini berasal dari kalangan miskin Tunisia. Abdallah Guech, kata dia,  juga membuat Tunisia menjadi daya tarik. Faktanya, sejumlah wisatawan dari negara kawasan Arab datang untuk merasakan “petualangan” yang tak mungkin mereka dapatkan di negaranya.

Seperti apakah rupa Abdallah Guech itu? “Gang Abdallah Guech sangat sempit. Tersembunyi, tidak ada jendela atau neon seperti di Brussel atau Amsterdam. Melalui pintu yang setengah terbuka, Anda dapat melihat perempuan berpakaian minim duduk di kursi, menunggu klien,” katanya.  Menurut Zizirider, sejumlah orang dari Eropa juga kerap datang, namun mereka memilih ke sebuah rumah bordil lebih mewah yang disebut “Gedung Agung”. Untuk memasuki kawasan ini, terang dia, pengunjung harus lebih dulu melintas di Jalan Zarkouni merupakan pusat barang antik dan terdapat perpustakaan nasional.

Karena legal dan dilindungi negara, para pelacur di Abdallah Guech mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan aktivitasnya. Mereka memperoleh pemeriksaan medis rutin secara berkala dan diharuskan membayar pajak. Satu hal yang sangat fenomenal dari tempat ini adalah para wanita membawa kartu identitas yang menyatakan bahwa mereka karyawan Departemen Dalam Negeri. (zenteguh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s