Syekh Yusuf, Cape Town (1)

Hening menyambut ketika roda-roda mobil travel menggilas jalan  kasar di Kampung Macassar, Cape Town, Afrika Selatan, pertengahan Juli kemarin. Saat itu sekitar pukul 15.00. Di sebuah pertigaan kecil yang di salah satu sudutnya terdapat papan kayu bertuliskan”warung kopi, coffee shop-take-aways & catering”, kemudi berbelok ke kanan.

Tak sampai lima menit, di bawah pohon besar yang daunnya mulai berguguran dimakan musim dingin kami berhenti. Saya dan anggota rombongan Indonesia’s Festival in Cape Town South Africa 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sesaat menghela napas. Memutar pandangan ke sekeliling dan meregangkan otot. Perjalanan dari pusat kota Cape Town menyusuri Camps Bay, Hout Bay Harbour, Badden Powel Drive, hingga memasuki Macassar Road sepanjang 40 kilometer lumayan menguras energi.

Pintu besi di jalan berundak itu terbuka. Desau angin mengiringi langkah kaki menapak satu demi satu tangga batu itu menuju puncak sebuah bukit kecil. Persis di undakan terakhir, terhamparlah pemandangan yang selama ini telah menghiasi banyak literatur dunia.

bersama Zainunisa, penjaga makam.

Inilah kompleks pemakaman Syekh Yusuf Al Makassari, ulama besar, tokoh sufi, penyebar Islam, juga pahlawan nasional asal Gowa. Nama Syekh Yusuf tak hanya harum di Tanah Air, namun juga di Afrika Selatan. Lihat saja betapa pejuang anti-apartheid Nelson Mandela menyebut Syekh Yusuf sebagai “salah satu putra terbaik Afrika Selatan”. Begitupun Presiden Thabo Mbeki telah menyematkan penghargaan Oliver Thambo, yakni penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan pada 2005 silam.

Wanita berkerudung datang dari sebuah rumah kecil tak jauh makam. “Assalamulaikum,” sapanya. Wanita itu, Zainunisa, 65, adalah penjaga kompleks makam. Raut mukanya berseri begitu tahu sejumlah orang di hadapannya berasal dari Indonesia. “Apa kabar,” katanya tersenyum.

Zainunisa kemudian membukakan pintu sebuah bangunan berkubah hijau yang menyerupai masjid. ”Copot sepatu, silakan masuk,” ucapnya.

Harum wangi semerbak tercium. Saya termangu, darah seperti berdesir, sungguh rasanya  takjub dapat melihat langsung makam tokoh Islam yang amat disegani di Afsel ini. Bulu kuduk sempat merinding. Bukan karena takut, melainkan mengingat kebesaran tokoh Islam ini. Untuk beberapa detik, pikiran melayang pada tulisan Taufik Ismail, sastrawan besar Indonesia.  ”Saya melangkah masuk dan tertegun melihat makam berpagar besi ukir, bertutup kain hijau. Di sini berkubur pada usia 73, seorang ilmuwan, sufi, pengarang, dan komandan pertempuran abad ke-17, sesudah 16 tahun menjalani pembuangan. Saya tertunduk dan menggumamkan Al Fatihah untuk pejuang besar ini. Beliaulah Syekh Yusuf al-Makassari al-Bantani, “ papar Taufik di buku Syekh Yusuf, seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang yang ditulis Abu Hamid.

Memang demikianlah faktanya. Datang ke makam Syekh Yusuf seperti menyeret angan ke ratusan tahun silam. Lahir di Gowa pada 13 Juli 1626, Muhammad Yusuf tak henti menuntut ilmu agama. Pada usia 15 tahun Muhammad Yusuf belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, guru agama, dan dai yang berkelana. Beberapa di antara para guru Muhammad Yusuf yang terkenal adalah Syeikh Jalaludin al-Aidit, Sayyid Ba’lawi At-Thahir, dan Daeng Ri Tassamang.

Keberaniannya menentang penjajah ketika membantu Sultan Ageng Tirtayasa di Banten membuat Syekh Yusuf sebagai musuh Belanda. Pada September 1684, ulama yang telah berguru ke Aceh, Gujarat, Yaman, hingga Arab Saudi ini bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke pulau Ceylon (kini Sri Lanka). Tapi justru di pengasingan inilah pengaruh putra Aminah yang merupakan kerabat Raja Gowa Sultan Alaudin itu makin berkembang. Pengikutnya bertambah, jaringannya kian luas.

gerbang menuju makam Syekh Yusuf

Aktivitas dakwah itu kembali membuat Belanda khawatir. Tidak ingin stabilitasnya terusik, Belanda memutuskan membuang Syekh Yusuf ke Kaapstad (sekarang Cape Town).  Syekh Yusuf dan pengikutnya tiba di Tanjung Harapan (cape of good hope) pada 2 April 1694 dengan menumpang kapal Fluyt de Voetboog.  Belanda licik, Syekh Yusuf yang ketika itu berusia 68 tahun tidak ditempatkan di kota, melainkan di perbukitan Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, yang terpencil, demi mencegah pengaruhnya menjalar ke budak-budak Indonesia yang telah lebih dahulu dibuang di Cape Town. Syekh Yusuf meninggal pada 23 Mei 1699 dan dimakamkan di tempat ini.

Di Zandvielt, tempat kaki saya berpijak pada siang itu memang kental nuansa kepahlawanan Syekh Yusuf. Sekitar 100 meter sebelum makam terdapat tugu yang menjadi tanda peringatan kematian ulama pengarang kitab tentang konsep tawasuf yang berjudul “Kaifiyatut Tasawwuf” itu. Sementara di dekat bangunan utama makam juga terdapat beberapa nisan, dipercaya sebagai pusara para pengikutnya. Di puncak bukit kecil itu pemandangan Kampung Macassar terlihat jelas, juga menara dan atap masjid Nurul Latief yang menjadi pusat ibadah masyarakat kampung berpenghuni sekitar 50 KK ini.

Syekh Yusuf amat dihormati. Di Afsel pemakaman ini disebut “Kramat”, ditengarai merujuk pada kata ‘keramat’ di Indonesia. Zainunnisa menyatakan, peziarah silih berganti datang ke Kramat Syekh Yusuf. Warga Cape Malay yang akan menunaikan haji atau umrah biasanya menyempatkan datang ke makam Syekh Yusuf. ”Tapi banyak juga yang datang dari Sri Lanka, India, atau negara-negara lain,” kata Nisa.

Menurut dia, dia selain berdoa, banyak juga yang sekadar datang untuk melihat Kramat. Namun ada juga yang mengaku berharap mendapat berkah dari tempat keramat ini. “Tujuannya macam-macam. Bagi saya sendiri, ini adalah tempat bersejarah yang harus dijaga,” katanya. (bersambung)

Advertisements

3 responses to “Syekh Yusuf, Cape Town (1)

  1. Aku pernah datang ke sebuah makam salah seorang penglima Diponegoro Syekh (Mbah) Hambali di Pekalongan Jawa Tengah dengan tujuan bertanya siapa trahku. Lewat mediumnya, Syekh Hambali mengatakan bahwa aku keturunan Syekh Yusuf. Aku menduga kuat, Syekh Yusuf yang dimakamkan di Afsel inilah trahku.

    wah selamat mas, kalau benar, sampean adalah keturunan ulama besar yang namanya harum dalam sejarah kita. salam..

  2. 2 minggu lalu alhamdulillah saya dan istri ziarah ke kramat syeh besar ini di kampung macassar cape town.

    Wah terima kasih atas kunjungannya mas… ya Cape Town memang luar biasa, begitu juga dengan kebesaran Syekh Yusuf di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s