Syekh Yusuf, Cape Town (2)

Terpahat di marmer hitam yang tertanam di tembok bangunan makam Syekh Yusuf, tulisan ’President Soeharto’ tampak mencolok. Bagi peziarah dari Indonesia, dapat dipastikan bakal menolehkan mata untuk membaca tulisan tersebut.

Diawali tulisan “Bismillahir Rahmanir Rahim”dalam huruf Arab, prasasti berbahasa Inggris itu menunjukkan kedatangan Presiden Soeharto pada 21 November 1997. Kunjungan penguasa Orde Baru itu dilakukan setelah dia memberikan gelar pahlawan nasional pada Syekh Yusuf pada 7 Agustus 1995. ”Saya lihat Soeharto. Ketika itu cukup ramai, ada seremonial pemasangan prasasti tersebut,” kata Zainunisa, wanita penjaga kompleks makam.

di depan plakat Soeharto di kramat Syekh Yusuf

Zainunisa mengaku yang dia tahu hanya Soeharto dan istrinya, Tien Soeharto. Namun, banyak juga pejabat lain yang menyertai Kepala Negara saat ini. Kedatangan Soeharto ke makam tokoh sufi kelahiran Gowa ini dilakukan di sela-sela kunjungannya ke Afrika Selatan. Kunjungan ke negara yang baru bebas dari politik apartheid itu merupakan kunjungan balasan setelah Presiden Nelson Mandela berkunjung ke Indonesia.

Kenang-kenangan Soeharto pada makam tokoh yang amat disegani di Afsel itu bukan sebatas prasasti. Jalan menuju makam Syekh Yusuf baru juga diperbaiki saat Soeharto akan melakukan kunjungan. Zainunisa menyatakan, beberapa hari sebelum Soeharto datang, jalan di Kampung Macassar dibenahi. Tidak bagus-bagus amat karena terkesan tergesa-gesa. “Setidaknya memang lebih baik daripada sebelumnya,” cerita wanita yang bekerja sukarela merawat makam itu.

Mantan Konsul Jenderal RI di Cape Town Abdul Nasier menceritakan dalam bukunya berjudul Saya Asal Macassar, petugas KJRI Cape Town harus memastikan segala sesuatunya berjalan lancar ketika Presiden Soeharto datang. Tiga minggu sebelum penguasa Cendana itu tiba, Nasier yang saat itu menjabat Konjen melakukan tinjauan ke makam Syekh Yusuf. Dia ditemani Dirjen Protokoler Dadang Sukandar dan beberapa anggota pasukan pengawal presiden (Paswalpres). Ketika melakukan kunjungan pendahuluan itulah dirasa jalan menuju makam Syekh Yusuf kurang pantas dilalui kepala negara. Diputuskanlah jalan itu diperbaiki agar Soeharto nyaman melintas.

Tentang prasasti kedatangan Soeharto itu sendiri ada cerita menarik. Nasier dibuat kebingungan ketika Jakarta (Istana) memerintahkan pemasangan prasasti saat Soeharto berkunjung. Pasalnya, tidak mudah memasang sesuatu di makam Syekh Yusuf. Pemasangan atribut atau semacamnya baru bisa dilakukan jika mendapat izin Ketua Trustee (semacam dewan wakaf) makam. Saat itu Ketua Trustee Kramat Syekh Yusuf adalah Yusuf Muhammed Esoop. Persoalannya, Mohammed Esoop tidak suka dengan Soeharto. Dia berpandangan, prasasti itu tidak pantas dipasang di makam Syekh Yusuf karena Soeharto adalah seorang diktator dan terlibat kejahatan HAM. Esoop menolak mentah-mentah rencana itu.

Di sinilah diplomasi ulung Nasier terlihat. Dia berhasil meyakinkan bahwa Soeharto datang ke Afrika Selatan atas undangan khusus Presiden Nelson Mandela. Lebih dari itu, Pak Harto datang bukan dalam kapasitas pribadi namun mewakili 230 juta rakyat Indonesia. Esoop akhirnya melunak dan terpasanglah prasasti itu. “Rata-rata pengunjung dari Indonesia yang baru pertama kali ke sini pasti akan membaca prasasti itu,” lanjut Zainunisa.

Prasasti ini berada persis di sisi kiri pintu masuk makam Syekh Yusuf, bersanding dengan plakat yang menjelaskan aturan bagi pengunjung. Tidak seperti lazimnya di Indonesia, prasasti ini tidak menyertakan tanda tangan Soeharto.

Setelah lengser,cerita kunjungannya ke makam Syekh Yusuf menjadi cerita menarik. Kejatuhan presiden berjuluk The Smiling General pada Mei 1998 itu selalu dikait-kaitkan dengan kedatangannya di makam yang dikeramatkan masyarakat muslim Afsel tersebut. Adakah Soeharto kena ”karma”setelah datang ke tokoh sufi yang getol berjuang menentang penjajahan Belanda tersebut?

di dalam bangunan ini makam Syekh Yusuf berada

Wah, saya kurang tahu yang seperti itu. Yang saya tahu Presiden Soeharto datang ke sini karena menghormati dan menghargai kebesaran Syekh Yusuf sebagai pejuang Indonesia,” ujar Akhmed Ismail, warga Kampung Macassar, saat ditemui di pelataran masjid Nurul Latief. Ismail baru saja menyelesaikan salat asar ketika itu.

Pria yang mengaku generasi kesepuluh keturunan Syekh Yusuf ini menyatakan, selain tentang ketokohannya, tak dimungkiri terkadang berkembang cerita-cerita gaib di makam tersebut. Misalnya, munculnya sinar biru di atas makam. Ada juga mufti asal India yang pingsan saat memasuki makam. Mufti itu terhenyak setelah mendapatkan ucapan selamat datang dari seseorang berjubah putih. Belakangan seseorang itu menghilang tiba-tiba.

Ketokohan Syekh Yusuf tidak hanya mengundang kedatangan Soeharto. Tak urung Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah berkunjung ke tempat ini. Presiden Megawati bahkan berperan besar dalam renovasi masjid Nurul Latief. Masjid yang jadi pusat ibadah warga Kampung Macassar itu kini menjadi semakin luas dan bangunannya kian modern. Beberapa ornamen dalam masjid didatangkan langsung dari Indonesia. Peresmian renovasi masjid ini dilakukan Wapres Jusuf Kalla.

Pada Maret 2008, Presiden SBY dan rombongan juga berziarah ke makam ulama yang sering disebut-sebut tangan kanan Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan penjajah ini. Dalam kesempatan itu Presiden sempat berdialog dengan komunitas muslim di Cape Town. ”Karena jasa Syekh Yusuf lah Indonesia dan Afrika Selatan sangat dekat. Kami selalu menyambut hangat warga Indonesia yang datang ke sini,” ungkap Ismail. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s