Kramat Syekh Yusuf, Cape Town (3)

Andai datang pada April lalu saat perayaan Paskah berlangsung, saya mungkin akan menemukan peristiwa besar di Kramat Syekh Yusuf. Bertepatan dengan hari suci umat Kristiani itulah berlangsung Easter Festival, yakni festival tahunan yang digelar untuk memperingati perjuangan Syekh Yusuf dalam menyebarkan Islam di Afrika Selatan.

Ribuan umat Islam berdatangan ke Kampung Macassar. Umat Islam terutama warga Cape Malay (keturunan Melayu) memenuhi lapangan luas tak jauh dari makam.Mereka menggelar tenda, berjualan aneka makanan dan barang, dan bersuka cita. Festival berjalan meriah karena digelar pula panggung kesenian. Mereka yang datang ini menginap karena memang kegiatan berlangsung sampai empat hari. Sepintas memang terdengar aneh mengetahui orang Islam ikut merayakan kegembiraan Hari Paskah.

Jalan Macassar di Cape Town

Tapi memang begitulah tradisi ini berlangsung. ”Easter Festival telah diperingati selama ratusan tahun,” kata Akhmed Ismail, warga Kampung Macassar yang baru saja mengumandangkan azan asar di Masjid Nurul Latief, sore di pertengahan Juli itu. Menurut dia, tradisi ini tak lepas dari sejarah perkembangan Islam di Afrika Selatan.  Ketika itu, para budak belajar Islam dari Syekh Yusuf secara sembunyi-sembunyi di Kampung Macassar. Sebagai budak, tentu mereka tak punya dapat leluasa meninggalkan rumah majikannya. Kalaupun keluar, selalu ditanya apa keperluannya.

Agar aman, para budak ini kemudian memanfaatkan libur perayaan Paskah. Saat majikannya yang kulit putih ke gereja, para budak ini keluar rumah. Mereka mengaku akan merayakan pesta Paskah di Kampung Macassar. Padahal yang terjadi, budak-budak ini berkumpul bersama untuk mempelajari Islam dari Syekh Yusuf. Ketika tokoh besar asal Sulawesi Selatan ini wafat, kebiasaan itu terus berlangsung hingga kini. Easter Festival merupakan sebutan terpopuler meski kadang ada juga yang menamakannya sebagai Macassar Festival. Easter Festival berlangsung mulai Kamis putih hingga Minggu Paskah. Pendek kata, festival ini menjadi semacam pusat rekreasi spiritual bagi umat muslim Afsel.

Indonesia selalu berpartisipasi pada event ini. ”Sejak ditempatkan perwakilan pada 1995, KJRI Cape Town berupaya tidak pernah absen mengikuti Easter Festival,”kata Konsul Konsuler KJRI Cape Town Vedi Kurnia Buana. Menurut dia, keikutsertaan Indonesia bukan hanya sebatas meramaikan acara tersebut, namun ada ikatan persaudaraan dan kekeluargaan yang terbangun dengan umat muslim Afsel.

Biasanya, Dharma Wanita KJRI memanfaatkan acara ini untuk mengenalkan kuliner Indonesia. Di tenda KJRI, sate ayam, mi goreng, dan nasi goreng dijual dengan harga bervariasi. Nyatanya masakan ini menjadi favorit pengunjung. Pemandangan tiap tahun, tenda KJRI dipadati pengunjung. Mereka bahkan tak segan mengatre hingga panjang demi mendapatkan makanan khas Nusantara tersebut.

Easter Festival tak sekadar acara meriah untuk mengenang Syekh Yusuf. Tradisi ini sekaligus menjadi perekat komunitas muslim. Bahkan, acara ini juga bermakna ”reuni” bagi warga Cape Malay. Asal diketahui, muslim Afsel, terutama yang masih memiliki darah Indonesia terbiasa memanggil orang-orang Indonesia dengan”brother atau sister”. Panggilan akrab ini untuk menunjukkan betapa di antara mereka memiliki pertalian sejarah dan darah yang demikian erat.

Sebenarnya panggilan itu tak hanya terjadi saat Easter Festival. Pengalaman lima hari di Cape Town, warga Cape Malay tak segan-segan menjabat erat tangan begitu mengetahui saya datang dari Indonesia. Seperti saat mengunjungi tempat wisata terpopuler Table Mountain . Kebetulan saya bertemu Fuad Rahman, wartawan Die Son, koran lokal Cape Town. Dia segera menghampiri, berjabat tangan, bahkan tos kepalan tangan. ”Hallo my brother,” ucapnya ramah. Senyumnya terkembang lebar. ”Ya, kamu dan saya saudara. Kita diikatkan tali persaudaraan oleh Syekh Yusuf,” kata pria yang ternyata Cape Malay ini.

Rahman dengan bersemangat kemudian menuturkan bahwa Syekh Yusuf adalah ”Bapak Islam”di Afsel. Meski tak lebih dari lima tahun mengajarkan dan

Masjid Nurul Latief di Kampung Macassar

mengembangkan Islam di Kampung Macassar, pengaruh ahli tassawuf itu disebutnya luar biasa besar. Semua orang menghormati. ”Kalau tidak demikian besar jasanya, tidak mungkin Syekh Yusuf dianugerahi gelar pahlawan,”sebut dia. Dalam perjumpaan singkat itu, Rahman meminta foto bersama. ”Anggap saja ini foto dengan saudara jauh,” katanya.

Hal yang sama saya temui ketika menikmati V&A Waterfront, salah satu landmark Cape Town. Mohamed Sooliman yang mengaku tinggal di kawasan Rondebosch dengan cepat mengatakan,” Ya saya tahu Indonesia. Syekh Yusuf itu pahlawan besar dari negara Anda,” sebut pekerja wiraswasta ini.  Dia pun kemudian menanyakan apakah saya sudah berkunjung ke makamnya. ”Anda harus ke sana kalau punya waktu. Muslim di Afsel menghormati Kramat Syekh Yusuf, tentunya Anda pasti juga akan begitu,”sebut dia.

Tak dimungkiri, Syekh Yusuf memang perekat umat muslim di negara yang berhasil membebaskan diri dari politik apartheid ini. Bagi orang Indonesia yang berkunjung ke Cape Town, rasanya kota tujuan wisata dunia ini tidak terlalu asing. Kita seperti diikatkan pertalian kekerabatan dengan banyak orang. Dan itu karena jasa pahlawan nasional Syekh Yusuf Al Makassari. (*)

Baca:

Syekh Yusuf, Cape Town (1)

Syekh Yusuf, Cape Town (2)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s