Lido…dan sedikit soal libido (1)

Apakah sampeyan tahu diskotek Lido di kawasan Darmo Park Surabaya? Sungguh suatu hal yang benar-benar di luar perkiraan saya ketika menemukan tempat serupa dengannya nun jauh di sana. Di Cape Town, Western Cape, Afrika Selatan, tepatnya.

Pertengahan Juli 2011. Pada sebuah malam yang udara dinginnya terasa menusuk tulang, kami keluar dari taksi tua di kawasan Hans Strijdom Ave. Sesungguhnya perjalanan dari Hotel Fountain, tempat saya menginap tak jauh. Mungkin sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi ini malam bung, di Afrika pula. Biarpun Cape Town terkenal aman, selalu ada peringatan: jangan jalan kaki saat malam, apalagi sendirian!.

Pintu sekira 1,5 meter lebarnya menyambut langkah kaki. Di dalam ruangan terlihat samar, namun pendaran warna merah amat mendominasi. Perlahan rasa hangat mulai menjalar. Adalah dentuman musik trance tiada henti yang mengusir dingin di tubuh. Genre musik dengan ciri khas beats per minute kencang dan special effect itu memang seolah mempercepat alirah darah.

ajeb-ajeb di diskotek Lido Cape Town

Wanita berambut sebahu menghampiri. “Ayo sini kamu kasih aku 240 rand,” katanya dengan bahasa Indonesia fasih. Andai saja malam itu tak berada di Cape Town, mungkin saya tidak akan terkejut. Namun ini adalah kota yang terpisah ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia. Apalagi wanita itu, Nicky, adalah capetonian (warga kelahiran Cape Town). Saya bengong mendengar dia mengucap kalimat Indonesia lancar.

Awi Saputra, Erwan, dan Asep, tiga anak buah kapal (ABK) ikan berbendara Jepang yang menjadi teman di malam musim dingin itu tersenyum. “Benar kan…?,” kata Awi penuh arti.  Di sofa panjang empuk kami mendaratkan tubuh. Nicky kembali datang. Kali ini tak meminta uang, melainkan menyodorkan empat pak bir minuman kaleng. Barulah saya tahu uang yang diminta sebelumnya  adalah harga untuk minuman penghangat tersebut. Ditemani keripik kentang berasa sedikit masam khas Afsel, telinga kami biarkan dihantam musik-musik clubbing yang menghentak tanpa jeda.

”Tunggu sebentar lagi, pasti setelah ini ada,” kata Awi memberi isyarat. Benar, gelegar It’s My Life milik Bon Jovi berakhir disusul lagu yang intronya tak asing di telinga. Salam Rindu milik Tipe-X mendentum. Segera saja hall di tengah ruangan yang dihujani sorot lampu merah itu terisi. Beberapa tamu berjingkrak ska. Nyaris saja memutuskan untuk duduk sebelum akhirnya batal karena Cinta Satu Malam dan Keong Racun menyusul. Hall makin ramai.

Namun tidak ada yang mengalahkan ketika Aku Bukan Bang Thoyib menyergap. Sejumlah wanita cantik berkulit putih yang awalnya hanya menyepi di salah satu sudut gelap masuk ke hall dan meliuk-liukkan tubuh. Begitu juga dengan beberapa wanita berkulit hitam dengan rambut keriting seperti tak mau kalah. Mereka larut. Bukan hanya sebatas gerakan tubuh yang terkadang sedikit liar, namun juga berdendang. “Karena aku bukan.. aku bukan..aku bukan..aku bukan bang Thoyib…,” jerit mereka.

Inilah Lido Pub and Bar, salah satu diskotek di jantung kota Cape Town. Terselip di antara bangunan-bangunan tinggi tak jauh dari kawasan Long Street dan  Hans Strijdom Ave, Lido menawarkan sesuatu yang berbeda. Musik yang diputar bukan monopoli barat, melainkan lagu-lagu Indonesia. Untuk saat ini, lagu-lagu grup band Wali agaknya menjadi favorit. Sepanjang malam itu, lagu Aku Bukan Bang Thoyib dan Cari Jodoh diputar setidaknya tiga kali, mengalahkan Separuh Nafas milik Dewa, Karmila yang dipopulerkan Farid Hardja, dan Malam Terakhir-nya Rhoma Irama.

Mendapati lagu populer Indonesia sama mudahnya dengan mengajak para wanita malam yang berseliweran di tempat itu berbincang

Lagu-lagu Wali Band jadi favorit di Lido

dengan bahasa Indonesia. Nicky hanyalah salah satu contoh. Khulsum Abidan juga tak kalah pandai. ”Kamu pasti bukan pelaut. Kamu baru terlihat di sini,” katanya menebak. Wanita dengan tahi lalat kecil di ujung bibir kanan itu lantas mengajak berbincang banyak hal, tentang Cape Town, tentang Jakarta, juga tentang rambutnya yang wangi.

Di seberang meja, wanita berkulit putih yang memperkenalkan dirinya sebagai Lavita Dealova juga fasih bicara Indonesia meski dialeknya terdengar lucu. Karena terbiasa bicara Indonesia, bukan hal aneh kalau misalnya mereka bilang ‘aku suka kamu’ untuk menebar rayuan maut.

Begitulah detak kehidupan diskotek ini. Lido bukan kelab malam milik orang Indonesia. Pemiliknya, yang biasa disebut papi merupakan Capetonian. Lantas bagaimana tempat ini begitu kental beraroma Indonesia? Sayang Papi tidak terlihat malam itu. Namun dari penuturan Awi dan kawan-kawan, Lido adalah tempat dugem favorit para pelaut asal Indonesia. Entah siapa yang memulai, namun seperti menjadi hukum tidak tertulis mereka memilih memuaskan dahaga hiburan malam di tempat ini ketika kapal-kapalnya bersandar di Cape Town. Awi sendiri mengaku dalam seminggu bisa sampai empat kali dugem di Lido. ”Susah untuk berhenti. Maunya ke sini terus,” kata dia lantas tersenyum.

Orang Indonesia bukan satu-satunya yang datang ke Lido. Beberapa ABK dari Thailand, Vietnam, juga warga Cape Town hampir saban malam datang. Namun bila dirata-rata, sebagian besar pengunjung adalah pelaut Indonesia. ”Orang Indonesia istimewa di sini. Ya seperti penguasa lah,” tambah Asep, ABK Komaru 8 asal Cirebon, Jawa Barat.

Logika pun berjalan. Ketika orang Indonesia menjadi mayoritas di tempat itu, lawan bicara pun lama-lama akan terbiasa. Tak heran purel macam Nicky, Lavita, atau Khulsum mudah saja bicara Melayu meski mereka sesungguhnya menggunakan bahasa Inggris untuk bercakap sehari-hari.

Menurut Awi, Lido benar-benar hidup pada Rabu dan Sabtu malam. Pengunjung membeludak. Begitu juga dengan cewek-cewek malamnya. ”Kalau malam minggu, hall sampai penuh,” timpal Erwan. Tak ada cover charge untuk masuk ke tempat ini alias free. Kalaupun Nicky tiba-tiba meminta 240 rand, itu karena sudah tahu kebiasaan Awi. ”Dia memang begitu. Dikasih minuman berapa saja juga habis,” sahut Nicky.

Seperti kebetulan, memasuki Lido di Cape Town tak ubahnya datang ke Lido Palace di kawasan Darmo Park Surabaya. Sama-sama sebagai pub kasta kedua, dangdut dan wanita malam menjadi warna. Bedanya, tidak ada penyisiran oleh aparat polisi dan TNI di Lido Cape Town. Begitupun diskotek ini tidak identik dengan kerusuhan. Memang sempat beberapa kali terjadi ketegangan antara ABK dari Indonesia dengan ABK dari Vietnam atau ABK lain. ”Karena dikuasai orang Indonesia, kalau terjadi keributan pasti mereka yang diusir meskipun sebenarnya kita yang salah,” kata Erwan lantas tergelak. Tawanya keras seperti hendak mengalahkan lagu Tobat Maksiat. (to be continued)

Advertisements

One response to “Lido…dan sedikit soal libido (1)

  1. Kok hubungannya erat banget ya Mas .. namanya bisa sama juga situasinya antara Indonesia dan Afrika… Ini hanya mengikuti cerita ini saja. Kebetulan saya seumur-umur baru 2 kali ke diskotik he he …

    Seneng banget mengikuti reportasi seperti ini … kalau kelewat kayaknya salah satu dampak dari tidak adanya sitemap neh … maaf Oot wkwk
    Trims … luar biasa tulisannya 😀

    HAHAHAH, iya nih kang sitemap blum digarap juga gara2 fb di-banned di kantor. asemmm. Kalo ngenet di rumah lemot polll jadi males. Eniwei saya juga baru sekali lo kang ke diskotek. ke diskotek afrika mangsutnya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s