Kamila Andini…

Apakah sampeyan kenal Kamila Andini? Saya kasih tahu: dia adalah sutradara dan penulis skenario. Cewek yang akrab dipanggil Dini ini barangkali masih hijau di jagat perfilman Tanah Air. Namun, karya perdananya di layar lebar telah membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. The Mirror Never Lies atau cermin tak pernah berbohong menahbiskan Dini sebagai sutradara muda penuh talenta.

Dimulai dari Festival Film Busan, Korea, mayoritas kritikus memuji film yang berlatar suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Selatan tersebut. Berlanjut di Festival Film Internasional Mumbai, Dini menyabet penghargaan Bright Young Talented award. Belum lagi di Festival Film Tokyo dengan dua penghargaan dan sebuah lagi di fetival film di Manila. Jelas bukan perkara gampang menuai prestasi bergengsi itu. Apa arti film bagi wanita 25 tahun ini? Berikut petikan dengan putri sulung sineas Garin Nugroho tersebut:

Sederet penghargaan untuk film debut sepertinya belum semua sutradara dapat melakukan. Bisa diceritakan bagaimana proses ke sana?

Iya Mirror (The Mirror Never Lies) itu sebenarnya bulan oktober kemarin itu sempat kelililing-keliling yang international premier-nya itu di Busan. Kebetulan tidak dapat apa-apa, namun kritikus memberikan pandangan positif untuk film ini. Setelah itu ke Mumbai, masuk ke international competition. Nah di sini dapat penghargaan Bright Young Talented Award.

Sudah memprediksi bakal menang di situ?

Wah enggak nyangka banget. Sama sekali tidak membayangkan akan menang. Pasalnya di Mumbai ini kan international competition, Mirror merupakan satu-satunya film dari Asia Tenggara. Bahkan di Asia hanya ada dua film yang lolos, filmku dan film dari India. Lainnya sebagian besar dari Eropa, ada dari Swedia dan banyaklah film-film bagus. Ada 13 film di situ Apalagi ada film yang sudah ke Festival Berlin dan lain-lain. Aduuuhhh…gak mikir akan dapat apa-apa, bener-bener enggak ngarepin deh karena kan underdog. Karena itu sangat kaget ketika dapat penghargaan itu. Mungkin saat itu aku director paling muda sehingga mereka memberi apresiasi.

Visual Mirror sangat kuat dengan mengangkat latar Suku Bajo, apa yang mendasari karya itu?

Muda, berbakat, dan brilian

Sebenarnya sederhana. Pada film perdana ini aku ingin mengangkat tema laut karena aku suka diving (menyelam), aku suka sama laut, aku suka travelling. Aku ingin ngobrol soal laut dan Suku Bajo adalah orang yang paling dekat dengan laut. Merekalah pencerita yang paling tepat jika aku ingin bicara tentang laut, karena koneksi mereka terhadap laut. Sesimpel itu. Memang sejak dulu aku sangat tertarik dengan kehidupan mereka.

Apa yang menimbulkan ketertarikan?

Secara antropologi pasti menarik karena melihat kelompok-kelompok masyarakat yang menyandarkan kehidupan mereka di laut. Tapi secara khusus aku melihat sesuatu di sana, semacam freedom, ada kebebasan cara mereka dalam memilih hidup. Itu menarik banget.

Dalam film ini salah satunya terdapat kerja sama dengan WWF, adakah misi tertentu yang dibidik?

Perlu kolaborasi yang tepat dalam membuat film ini. WWF seperti kita tahu mereka organisasi internasional yang sangat concern pada lingkungan dan koservasi. Kita memang banyak berdiskusi di awal tentang bagaimana film ini akan ditampilkan. Tapi aku sendiri saat itu bilang jika semua masalah lingkungan itu tidak akan lepas dari masyarakatnya. Lingkungan tidak akan hidup kalau masyarakat tidak hidup dan sebaliknya, jadi masyarakatnya ini yang kita tonjolkan dulu. Akhirnya, Suku Bajo, fiksi, keluarga, dan problem lingkungan menyelimuti film ini.

Artinya, ada semacam representasi Indonesia dalam film ini?

Tidak sekadar merepresentasikan Indonesia, melainkan untuk masyarakat Indonesia sebenarnya. Pertama kali aku ke Wakatobi pada 2009, awalnya untuk diving, Banyak yang tanya Wakatobi itu di mana sih, di Jepang ya? Aku enggak menyalahkan orang-orang, karena banyak banget daerah-daerah di Indonesia yang aku belum tahu. Intinya kita sendiri perlu mengenal negara kita lebih jauh. Film adalah medium yang tepat untuk membawa orang berkelana. Jadi singkatnya aku membuat film adalah ingin mengenalkan Indonesia pada orang Indonesia.

Pendeknya, film itu tidak didesain untuk berkompetisi di level internasional?

Meraih penghargaan di sejumlah festival internasional itu bonus. Enggaklah kalau dari awal sudah mikir harus menang, ini untuk orang Indonesia. Aku percaya kalau memulai dari akarnya, akar itu akan tumbuh.

Banyak yang menilai Mirror tak ubahnya film Garin Nugroho, sehingga muncul perbandingan antara Anda dan Garin. Sesungguhnya seperti apa?

Kalau influence (pengaruh) itu jelas ya, itu tidak bisa dihindari. Aku dari bayi bahkan hidup dari pemikiran-pemikiran papa, dari bukunya papa, dari film-filmnya papa.  Papa yang mengenalkan aku pada semua jenis seni. Tapi pada Mirror, sebenarnya papa dari awal sudah memberi pernyataan tegas tidak akan memberikan fingerprint. Dia saja tidak pernah ke Wakatobi sebelumnya. Karena itu film pertama aku harus jujur pada yang aku punya. Tapi karena influence tadi ya, karena sejak kecil aku tumbuh dengan pemikiran papa, sehingga tetap tidak terhindarkan. Yang menarik, waktu aku Korea, Jepang, banyak yang bilang filmku beda banget dengan film-film papa.

Dari sisi mana?

Kalau film papa kan romantis, imajinasinya luas, eksplorasi ruangnya beda. Sementara aku cewek sehingga mungkin ada sisi feminin di filmku. Aku sebenarnya tidak tahu persis apa yang membuat beda, tapi mereka bilang itu beda banget. Mungkin di Indonesia film-film kayak gini sedikit, sehingga begitu ada film seperti itu dianggap mirip sama film papa. Terus mau apa? Apalagi papa satu-satunya yang bikin film seperti itu, tapi nggak ngerti juga sih hahaha.

Dengan dibanding-bandingkan pada Garin, apakah menimbulkan ketidaknyamanan?

Enggak sih. Soal selera, film-film yang aku sukai sama dengan film-film yang disukai papa. Kalau tiba-tiba aku harus membuat taste berbeda, misalnya

Ramah dan murah senyum

bikin film action enggak mungkin juga, jadi enggak masalah. Aku yakin punya sisiku sendiri. Ya nantilah waktu yang akan bikin orang tahu bedanya di mana.

Banyak kritik terhadap kualitas sinema Indonesia ketika film-film yang bertema horor dan seksualitas menjamur. Bagaimana Anda melihatnya?

Pengalamanku, orang yang mengkritik itu biasanya mereka yang tidak menonton film-film Indonesia. Maksudku, tahun ini banyak lhofilm bagus lahir, Sang Penari, Tanda Tanya, Lima Elang, Catatan Si Boy, jadi sayang kalau orang melihat hanya dari satu sisi. Bahwa film itu berkembang itu tidak hanya di negara kita, Thailand juga begitu, film horor dan komedi membeludak. Yang penting itu adalah kita juga punya film-film yang jadi penyemimbang.

Berarti tidak ada yang salah?

Tahun ini adalah tahun yang kaya untuk perfilman Tanah Air. Kita punya banyak film bagus. Sebenarnya yang sangat dibutuhkan adalah ruang dan apresiasi dari masyarakatnya.

Bisa dijelaskan?

Pertama, soal ruangnya, karena banya film jadi menumpuk-numpuk sehingga dua minggu sudah harus ganti film karena banyak yag mengantre. Kedua, soal apresiasi, kita mau bikin film bagus kayak apa kalau tidak ada apresisasi ya sulit. Misalnya Sang Penari yang sampai sekarang belum 100.000 (penonton), sementara Pocong sudah 20.000 dalam sehari, bagaimana enggak mau tumbuh film-film seperti itu. Jadi apresiaasi dari masyarakt yang dibutuhkan. Kalau mau bagus ya nonton film bagus.

Tentang paradoks antara mengejar kualitas dan jumlah penonton, Anda sendiri memilih mana?Ada yang menyebut film Anda adalah ”film festival”?

Sebenarnya, seperti papa, aku atau siapapun, pasti enggak maulah film yang dihasilkan jadi sekadar film festival. Pasti akan lebih senang kalu filmnya

diapresidasi di negeri sendiri. Tapi sekarang ini mau tidak mau kita harus ke sana karena ruangnya tidak ada. Orang-orang tidak sempat nonton filmku, di bioskop cuma dua minggu kecuali aku bisa buat copy yang banyak, terus mau di mana lagi?. Kita sebagai filmmaker tentu ingin film kita ditonton. Nah satu-satunya ruang yang di festival internasiona.

Apakah menumbuhkan apresiasi masyarakat itu susah?

Menonton itu harus dijadikan budaya, menontong itu perlu. Kalau sekadar ingin melihat film yang bikin kita seneng pasti nontonnya film-film Hollywood, tapi film itu kan bukan sekadar entertainment tapi gagasan dan edukasi. Kadang-kadang kita juga perlu nonton film yang membosankan sampai akhir karena kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih jelas. Kalau kita bisa melakukan itu, semua film pasti bisa ditonton.

Ini tentang mimpi film Indonesia hadir di Academy Award, misalnya di kategori best foreign language film, menurutmu mungkinkah mimpi itu bisa jadi kenyataan?

Kalau mungkin pasti mungkin banget. Intinya kita harus kompak. Dari mulai investornya, pembuatnya, sampai penontonya harus kompak kalau mau ke sana. Kompak itu dalam arti saling mendukung, tidak semua berada pada kepentingannya sendiri-sendiri. Jangan seperti serang, misalnya dari sisi penonton, masih pilih-pilih film. Karena terus terang semakin penonton tidak ada, kesempatan kita bikin film juga semakin tiak ada. Bagaimana kita mau lebih baik kalau kesempatan saja tidak ada. Dan satu lagi, pemerintah juga harus kompak dengan kita. (zen teguh)

Versi asli wawancara ini dapat dinikmati di Koran SINDO

Advertisements

One response to “Kamila Andini…

  1. Wah … ini mungkin bisa dikatakan seorang anak yang prestasinya akan melebihi prestasi orang tuanya. Luar biasa … salut sama sang bapak yang mengarahkan dan mengasah bakatnya. 🙂
    Banyak para pekerja seni yang menularkan bakat sang orang tua ke anak ya Mas. Salah satunya ini juga Adie MS yang melahirkan musisi juga.

    Btw … saya termasuk ketinggalan karena jarang sekali mengamati bahkan menonton film. Terakhir sejak sekian tahun yang lalu adalah Sang Penari karena ada sisi lain yang saya sukai. Bukan bintang filmnya lho wkwkwkwk.

    Trims Mas infonya … jadi penasaran tentunya pengen melihat filmnya …

    heheh. trims kang. filmnya sebenarnya sudah agak lama. cuma kemarin memang dia menang di sejumlah festival. mirip bapaknya lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s