Tata Kota Kyoto (3-subway)

Apakah sampeyan pernah ke Kyoto? Jika ya, tentu mengerti dengan Kyoto-eki (stasiun Kyoto) yang megah dan moderen itu. Saya lupa pernah menulis tata kota Kyoto beberapa waktu lalu. Ini bagian ketiga dan terakhir

WOW. Hanya itu kata bisa terucap saat menyaksikan langsung Kyoto-eki. Sulit untuk mendeskripsikan betapa megah dan modernnya stasiun terbesar kedua di Jepang ini. Terdiri dari 16 lantai, termasuk tiga lantai di bawah tanah, stasiun ini bukan hanya menjadi pusat moda transportasi kereta api, melainkan salah satu urat nadi bisnis di Kyoto.

Stasiun Kyoto, megah dan sangat modern

Betapa tidak, stasiun yang desainnya dirancang Hiroshi Hara ini dijejali dengan kantor-kantor pemerintah, kantor pos, museum, pusat perbelanjaan,  puluhan restoran, bioskop, dan sebuah lantai observasi di atas. Luas keseluruhan lantai mencapai 238.000 m2. Memandang dari lantai tiga, hilir mudik ribuan manusia mewarnai stasiun yang bangunannya sepanjang 470 meter, lebar 60 meter, dan tinggi 60 meter ini. Mereka seolah diburu waktu. Terbukti, tak ada yang berjalan lambat. Semuanya berlangsung sangat cepat.

Modernitas Kyoto-eki tergambar dari banyak hal. Hara, sang arsitek, menonjolkan kekuatan rancang bangun dari konstruksi baja dan sirkulasi udara. Tangga, eskalator yang menjulang, ruang-ruang terbuka yang sangat lega, dan berbagai akses menuju hotel, restoran, atau peron kereta api tampak dominan. Bangunan stasiun yang berbentuk kubus itu juga didominasi dinding kaca untuk membawa masuk cahaya matahari. Tak perlu takut akan mengantre lama untuk membeli tiket. Kendati ribuan manusia memenuhi stasiun ini tiap hari, mesin penjual tiket kereta disebar di berbagai titik sehingga hilir mudik penumpang tetap lancar.

Lupakan dulu kemegahan bangunan yang dibuka untuk publik pada 1997 tersebut. Yang perlu dicermati adalah sistem integrasi moda transportasi di stasiun itu. Selain kereta api, stasiun ini juga terhubung dengan terminal bus. Terminal ini merupakan yang terbesar di Kyoto. Bus-bus ini tidak hanya melayani rute dalam dan antarkota, tapi ada juga yang khusus menuju Bandara Internasional Kansai di Osaka. Selain itu, jaringan kereta JR (Japan Railways), Keihan, Hankyu, dan Kintetsu menghubungan Kyoto dengan kota-kota lain di daerah Kansai. Kereta ekspress JR Haruka menghubungkan Bandara Internasional Kansai dengan Stasiun JR Kyoto. Dari Kyoto-eki juga bisa melesat ke Tokyo dengan kereta api cepat Shinkasen yang tersohor itui.

Integrasi moda transportasi di kota-kota besar memang bukan barang baru. Seperti Kyoto, kota seluas 827,90 km² itu juga menginginkan kemudahan akses bagi warganya. Dengan pergerakan yang cepat, semakin dinamis pula roda bisnis dan kehidupan sosial. Menyatukan stasiun dengan terminal dan menghubungkannya pada titik-titik strategis dipandang dapat mempercepat pergerakan aktivitas warga.

Stasiun Kyoto, mangstaffff...

Integrasi moda transportasi itu menjadi salah satu masterplan kota Kyoto yang mengusung konsep conservation, renaissance, and creation. Pemerintah Kyoto menyatakan, akan selalu mempromosikan perbaikan gaya hidup dan vitalisasi kegiatan kota dengan membangun fasilitas umum dan sistem lalu lintas yang baik untuk mendukung kelancaran arus orang dan barang, namun tidak membebani lingkungan.

”Kami akan mengambil langkah-langkah penting dalam manajemen kebutuhan transportasi (transportation demand management) untuk mengembangkan sebuah kebijakan baru lalu lintas yang sesuai dengan perubahan sosial dan ekonomi,” kata Wali Kota Kyoto, Daisaku Kadokawa, pada situs resmi Pemerintah Kota Kyoto.  Dia menerangkan, implementasi dari manajemen kebutuhan transportasi itu di antaranya kyoto akan terus membangun kereta api bawah tanah dan jalan.

Dalam satu konferensi persnya , Kadokawa mengumumkan rencana renovasi total subway station (stasiun kereta api bawah tanah) Shijo. Mestinya renovasi itu sudah kelar tahun ini. Berkaitan dengan resesi ekonomi yang sempat menghantam 2009 lalu, bisnis pengelolaan stasiun kereta bawah tanah telah menjadi isu serius. Untuk merevitalisasi ruang-ruang dan mendapatkan tambahan PAD, kota telah memutuskan untuk membuat ruang bisnis baru di stasiun kereta bawah tanah Shijo. ”Delapan toko baru yang akan menyasar konsumen wanita berusia 20-an tahun sampai  40-an tahun akan dibuka,” kata dia. Lainnya, pasar bunga dan supermarket Seijo Ishii.”Kota ini akan terus mendorong perbaikan lingkungan di stasiun kereta bawah tanah dan terminal bus untuk semua orang,” kata dia.

Dalam rangka memperkuat sistem integrasi dan perbaikan transportasi itu, sejumlah kebijakan akan ditempuh. Pertama, menjaga jaringan lalu lintas kota. Kedua, meningkatkan jaringan lalu lintas untuk mendukungpertukaran di wilayah metropolitan, melalui upgradejaringan kereta api, peningkatan fungsi dalam dan di sekitar stasiunyang berfungsi sebagai simpul lalu lintas, dan peningkatan jaringan jalan.

tuku karcis subway

Ketiga, mengembangkan jaringan lalu lintas yang lebih luas. Kebijakan ini diterjemahkan dalam konsep membentuk jaringan jalan mobil hanya untuk menghubungkan bagian dalam dan di luar wilayah metropolitan. Kebijakan keempat adalah menetapkan kebijakan lalu lintas baru, di antaranya melalui promosi manajemen kebutuhan transportasi. ”Sistem integrasi di semua lini kehidupan bagian dari upaya Kyoto menjadi  a town for walking (kota untuk berjalan-jalan,” ungkap Kadokawa.

Fakta di lapangan, Kyoto memang telah menegaskan dirinya sebagai kota yang sangat nyaman untuk berjalan-jalan. Sebagai Kota Kebudayaan dan Pelajar, Kyoto mirip Yogyakarta di Indonesia. Bahwa Pemerintah Kota Kyoto terus memberikan sentuhan akses transportasi yang mudah dan praktis, itu hal yang tak terpisahkan dari identitas kota yang menjadi jujugan wisatawan sekaligus kota metropolitan. Bagi kota-kota besar di Indonesia, Kyoto barangkali salah satu contoh bagaimana komitmen memberikan fasilitas transportasi terbaik bagi warga selalu menjai prioritas. ”Karena itu, rugi kalau Anda ke Jepang dan tidak menikmati Kyoto,” seru Takumi Yoshio, salah satu mahasiswa Kyoto University yang sempat berbincang ringan di minimarket Lawson, tak jauh dari Kyoto-eki.

Advertisements

2 responses to “Tata Kota Kyoto (3-subway)

  1. Pengamatan yang jeli dan deskriptif. Sarana transportasi yang menyenangkan memang selalu menarik untuk diceritakan. Hehehe.

    makasih lo gan…apresiasi agan ane kasih bonus 10 poin. Nanti kalo udah 100 poin bs dituker gaji ke HT hahaha

  2. Kalau pakar reportasi bicara lain ya … paparannya mengalir .. enak dibaca …
    Pertanyaan pertama di artikel ini, saya ikut jawab .. hampir pernah tapi gak jadi wkwkwk.
    Ohya btw di Jepang atau Afrika juga pastinya nemu barcode kan mas ? Nah tinggal disisipkan kan bisa tuh lantas daftarkan jadi peserta di kontes saya, masih ada 11 hari lagi keknya wkwkwkwk
    Tks mas ..

    hahahahaa…..siap kang Yayat, waduh nemu barcode gak ya.. :d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s