Lido…dan sedikit soal Libido (2)

Apakah sampeyan sudah membaca kisah diskotek Lido yang saya tulis sebelumnya? Jika belum, sempatkanlah mumpung masih gratis. Ini sedikit lanjutan soal dunia remang-remang di jantung kota Cape Town itu.

Pagi menjelang, membunuh malam yang bergelimang senang. Dentuman house music masih mengalir kencang ketika jarum jam menunjukkan pukul 03.00. Beberapa hits milik  Ungu dan T2  menawarkan keceriaan di ruang remang-remang itu. Sejumlah sofa panjang dan kursi-kursi kayu satu demi satu kosong. Maklum, seperti dikatakan para anak buah kapal (ABK) Indonesia, minggu malam memang bukan waktu tepat untuk mengusir lelah di Lido. Para tamu memilih pulang lebih cepat.

Wanita bertubuh semampai kelahiran Cape Town yang mengaku bernama Cindy itu terus merajuk. Dia mengajak pergi. Lama tak dapat jawab akhirnya agak kesal juga. “Saya butuh uang, belum bayar sewa rumah,” katanya beralasan. Cindy mengaku keuanganya menipis setelah tersedot untuk perawatan tubuh dan belanja pakaian. Entah benar, entah tidak.

Segalanya memang bisa terjadi di Lido. Dari sekadar clubbing, omong-omong kosong, dan berlanjut pada desahan di telinga. “Kamu di sini terus atau mau kita pergi?” kembali dia bertanya. Matanya sendu dan jari-jarinya sesekali dimainkan di rambutnya yang terjurai hitam. Seperti kalah dengan keadaan, dia akhirnya membiarkan tubuhnya tersandar di sofa gelap dengan embusan napas panjang.

Di sinilah Lido berada, di kawasan Hans Strijdom Ave, Cape Town, Afsel

Sebagaimana tempat hiburan malam lain, para wanita malam di Lido datang tak sekadar menikmati ingar-hingar musik. Mereka sejatinya pemburu rand (mata uang Afrika Selatan). Liukan tubuh, dandanan menggoda, dan lirikan nakal adalah sekian dari beragam jerat untuk mengelabui mangsa. Tentu saja tak semua agresif. Banyak juga yang jaga imej (jaim). Mereka kebanyakan kulit putih dengan wajah di atas rata-rata. Namun gesture itu sesungguhnya tak lebih dari jinak-jinak merpati belaka.

Para anak buah kapal (ABK) Indonesia enteng saja menyebut mereka jablay. Sejumlah ABK asal Jawa Timur lebih senang mengatakan purel meski wanita-wanita itu tidak semuanya mengerti. Ketika Lido mulai buka sekitar pukul 21.00 waktu setempat, belum banyak yang terlihat. Barulah ketika menjelang tengah malam mereka terus berdatangan. Namun kebiasaan ini terjadi di luar Rabu malam dan Sabtu malam. “Apalagi kalau malam minggu, sore saja sudah banyak yang ke sini,” kata Awi Saputra, ABK asal Brebes, Jawa Tengah.

Untuk “cinta satu malam”, Awi menyatakan, rata-rata wanita malam di Lido meminta sedikitnya  500 rand atau sekitar Rp650.000 (kurs Rp1.300). Namun itu ternya bukan harga baku. Awi menceritakan, “cinta satu malam” bahkan bisa tak mengenal rand jika wanita sudah jatuh cinta dengan tamunya. “Karena akhirnya yang dipikirkan hanya saling senang. Paling bayar untuk taksi dan hotel,” sebut dia.

Cindy tersenyum mendengar cerocos itu. Tanpa malu dia mengakui rata-rata tamu yang menggunakan jasanya membayar sekitar 500 rand, bahkan ada yang lebih. Kalau hanya sekadar menemani berbincang, 100 rand saja cukup. Atau kalau tidak, dibelikan minuman pun tidak masalah. Cindy berdalih terpaksa berkubang di Lido karena tak ada pekerjaan lain. Klise, tapi begitulah yang diutarakan. Sebuah cinta terlarang telah membuatnya terjerambab. ”Pria Bandung yang membuat saya begini,” katanya.

Cindy menyebut pria yang bekerja di kapal ikan berbendera Jepang itu begitu sering datang ke Lido sekitar 10 tahun silam. Keintiman yang perlahan terbangun menjadikannya terpikat cinta, hingga sesuatu yang sebenarnya tak diinginkan datang. “Saya hamil,” akunya.

Cindy memilih memelihara janin itu. Apalagi, ABK Bandung yang disebutnya romantis itu mau berbagi kasih. Persoalannya, waktu berlayar datang. “Dia kembali melaut dan entah di mana dia kini,” sebutnya.

Dengan biaya hidup di Cape Town yang tinggi, termasuk tarif listrik yang hampir saban bulan naik, sementara anaknya juga sudah masuk sekolah dasar, mau tak mau Cindy harus terus bekerja. “Inilah pekerjaan saya hahaha…,” tawanya membuncah.

Lido memang tak sekadar menawarkan dangdut dan lagu-lagu populer Indonesia. Tempat dugem ini juga menyuguhkan cinta. Tapi tidak dimungkiri kamuflase inilah yang menjerumuskan. Banyak  ABK WNI yang menghabiskan dolar yang dikumpulkan berbulan-bulan di tengah lautan demi mengejar kesenangan sesaat itu.

Ketika bertemu dengan sejumlah ABK di V&A Waterfront, sebagian besar mengaku tak bisa menghindari dugem di Lido. “Kerja di laut itu isinya ‘panas’ terus. Bawaannya emosi. Bertemu daratan adalah kemewahan,” kata Mulyono, ABK asal Demak, Jawa Tengah.

Dia juga mengaku tahu Lido dari sesama ABK yang telah lebih dahulu sandar di Cape Town. Mulyono beralasan dugem bukan untuk urusan ‘macam-macam’, melainkan hanya untuk mengusir stress. “Mendengarkan musik sambil minum, sudah itu saja,” katanya. Bukankah menguras kocek? “Hehehe….mumpung masih bujangan,” dalihnya.

Ada jablay bule, kulit hitam, yang banyak cape malay

Senada diungkapkan M Ismail , ABK asal Jember. ”Rata-rata yang jadi pelaut itu bujangan. Ya sudah, mikirnya cuma untuk senang-senang. Uang untuk rumah sudah disisihkan,” sebut pria berambut panjang itu. Asep yang ikut menemani di Lido malam itu berargumen menggunakan uang bonus ketika ke Lido. “Kalau gaji sudah dikirim ke rumah,” sebutnya.

Asal diketahui, rata-rata ABK ini hanya dibayar USD150 per bulan. Jika saja tiap malam di Lido bisa sampai menghabiskan 500 rand atau sekitar USD100 tiap malam, tentulah uang yang dikumpulkan dengan keringat itu sia-sia.

Inilah yang disesalkan Konsulat Jenderal Republik di Cape Town, Afrika Selatan. Konsul Konsuler Vedi Kurnia Buana mengatakan, pihak KJRI tak segan-segan mengingatkan para ABK untuk tidak menghabiskan uangnya percuma. “Kita tak bosan-bosan mengatakan bahwa mereka bekerja untuk keluarga di Tanah Air,” kata Vedi.

“Dugem memang hak, apalagi mereka yang punya uang. Namun kami di KJRI juga punya kewajiban mengingatkan mereka agar menjadi pekerja yang berkualitas. Kami juga sampaikan bahwa mereka agar hati-hati karena dunia malam rawan dengan HIV/AIDS,” sambung diplomat berkaca mata ini.

Vedi menuturkan, dengan sekitar 3.000 ABK pada berbagai kapal penangkap ikan milik China, Korea, Taiwan dan Jepang, permasalahan ABK Indonesia di wilayah kerja KJRI di Cape Town cukup beragam. Sebagai salah satu pelaksanaan program kerja di bidang Perlindungan WNI, KJRI di Cape Town secara rutin mengadakan pertemuan dengan para ABK. “Pada forum ini KJRI memberikan penyuluhan serta sosialisasi mengenai banyak hal, seperti bimbingan dan santapan rohani, bahaya HIV/AIDS, pola hidup terutama arahan untuk tidak berperilaku boros, dan kiat-kiat apabila menghadapi masalah selama hidup di perantauan, “ tutur pria yang dikenal sebagai ‘bapak’ ABK ini.

Advertisements

One response to “Lido…dan sedikit soal Libido (2)

  1. Ingat ABK ingat tanjung priok, kebetulan dulu berkantor di sana … hanya dugaan saja .. banyaknya diskotik di daerah itu juga mungkin salah satu pangsa pasarnya adalah ABK kali ya ,…
    Diskotik ini salah satu yang menarik perhatian … kalau saya yang gak kuat dentuman keras musiknya he he …

    hahah, ya benar Kang, di mana ada pelabuhan, di situ “jangkar” ditancapkan kikikikik..:d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s