Fotografi Menurut Saya…

Bagi saya, tidak ada kata lain buat Kang Yayat, selain LUAR BIASA. Saya sungguh-sungguh mengapresiasi dan terkesima dengan tekad bulatnya untuk belajar fotografi.  Sepanjang sepengetahuan saya, tak semua orang demikian total belajar, dari bisa sedikit, step by step, hingga pengetahuan terus berkembang.

Saya sendiri adalah contoh nyata tipikal orang yang punya keinginan, tapi tidak demikian bulat mewujudkan. Soal fotografi, misalnya, sama seperti Kang Yayat, saya juga sangat ngiler dengan DSLR. Bedanya, beliau ini langsung mencairkan dolar dan membeli, sementara saya belum juga keturutan. Saya kenal beberapa fotografer, secara peluang untuk belajar fotografi pro sangat terbuka. Namun itu toh tidak saya lakukan.

Itulah mengapa saya harus angkat topi untuk Kang Yayat, fotografer yang mantan “Lurah Pacar Kembang” dan kini “Lurah Ploso, Surabaya” ini :D. Langkah demi langkahnya dalam mempelajari fotografi tertuang di getolmoto  dan sangat menginspirasi. Meski belum bisa mempraktikkan, setidaknya saya dapat merasakan betapa hunting foto itu sangat menimbulkan gairah.

Bicara  soal fotografi, saya ini hanyalah penganut mahzab ALP alias Auto Langsung Pencet. Saya tidak pernah mengerti eksposur, saturasi, focal length, aperture, dan lain-lain sejenisnya itu. Setiap kali motret, begitu dapat objek yang dianggap bagus ya udah jepret aja. Jadi wajar bila hasilnya biasa-biasa saja karena memang bukan fotografer hahaaha.

Sudah barang tentu untuk mendapatkan foto bagus, kualitas kamera (dan lensa) adalah salah satu unsur penting. Semakin baik kamera (dengan spesifikasi yang tinggi), makin baik pula gambar yang dihasilkan. Tentu saja hal ini berkorelasi dengan pengetahuan tentang fotografi dan penguasaan kamera. Sebagus apapun kamera, juga lensa, kalau pengguna tidak tahu fungsi-fungsinya tentu akan percuma, begitu sebaliknya. Nah inilah yang saya tidak punya. Kemampuan sang fotografer adalah harga mati. The Man behind The Gun.

Sejauh ini, piranti motret saya hanya kamera saku Cannon Powershot A3000 IS, hadiah istri. Sialnya, saya bahkan tidak tahu persis apa saja peruntukkan tombol-tombol di situ. Kembali lagi, saya adalah spesialis ALP alias Auto Langsung Peluk Pencet.

Dengan kamera yang “cuma segitu”, tentu tidak perlu muluk-muluk mendapatkan hasil istimewa. Makro, misalnya. Tapi, bukan berarti saya nggak dapat foto bagus. Dengan keterbatasan kamera, saya tetap berupaya mendapatkan foto sebagus mungkin versi saya sendiri hehehe.  Bukan bagus sih, lebih tepatnya layak dipandang.

Dalam hal ini, saya menyiasati kemampuan saya yang ala kadarnya tentang fotografi itu dengan beberapa jurus.

  1. Bermain-main dengan depth of field (DOF) alias kedalaman ruang. Semua pasti ngerti ini istilah untuk menunjukkan ruang tertentu di dalam citra yang tampak relatif tajam karena perbedaan ketajaman (fokus).
  2. Bermain-main dengan sudut pandang alias angle. Saya menafikkan semua teknik fotografi saat  membidik objek yang sesungguhnya biasa saja, tapi bisa terlihat menarik karena sisi pengambilan.
  3. Ekspressi. Saya gak tahu penjelasan soal ini, apakah di fotografi ada atau tidak. Gampangnya, saya hanya mencari ekspressi wajah (foto portrait) dengan harapan foto dapat berbicara. Karena pake kamera saku, jelas tidak ada apa-apanya dengan DSLR. Atau siasat yang lain adalah mencari sharpness dari warna-warna mencolok atau kontras (yang ini belum dapet).

Jadi intinya, motret itu yang penting hepi saja. Urusan gak tahu teknik, itu bisa dipelajari sambil jalan kalo ada kesempatan. Yang penting adalah motret, motret, dan motret.

Ini beberapa contoh foto jelek yang saya maksud menggunakan siasat-siasat ala kadarnya itu:

A. Bermain-main dengan DOF

KAMBOJA…

KAMBOJA 2…

AWAL KEHAMILAN…

DURIAN…

B.Angle alias sudut pandang

MANTAN PACAR…..

MARAH…

MANDI BOLA

RENANG…

MANDI…(pakai Nikon 50 D pinjeman.Yang motret istri atas petunjuk saya :d)

C.      Memainkan Ekpresi (apa sih istilahnya)

TERTAWA….(yang kiri anak ane gan)

MUKENA…(Nikon 50D pinjeman)

Advertisements

6 responses to “Fotografi Menurut Saya…

  1. anak gadisnya om Zen udah besar.. 😀

    semangat mang yayat memang bikin kagum tuh.
    aku juga baru niat mau belajar,
    biar bisa kayak om Zen juga, dengan peralatan yg sederhana
    menghasilkan karya yang bagus.

    Waaaa, ada Emak di sini. Waduh makasih ya mbak, eh bundo, telah hadir ke tempat ala kadarnya ini. Hahaha.. jangan meniru saya, kayakni kita memang perlu sama-sama ke surabaya dan berguru ke Kang Yayat itu…:d. Trims banget ya

  2. Mau komentar di sini sampe harus menyelesaikan kewajiban dulu biar asyik komentarnya. Semoga komentar saya memang asyik wkwkwk

    Benarkan gak salah. Salah satu yang meginspirasi. Termasuk inspirator yang komennya di atas saya … walau “ngadiminnya” yang komen. xixixi
    Dan .. akhirnya keluar juga jurus-jurusnya. Flickrnya jadi salah satu referensi saya sebelum motret. Kesalahan pada saya yang mudah lupa. —Ingat apa itu segala macam istilah ketika diskusi dengan istri … giliran praktek lupa wkwkwk. Makanya lebih sering mengunjungi tempat yang sama atau obyek yang sama lebih dari 1 kali .. pengennya semakin hari hasilnya semakin bagus wkwkwk.
    Foto2 mas Zen di atas melengkapi referensi saya … top.
    Tolak ukurnya simple … saya yakin Mas Zen sering memilih gambar yang bagus untuk layak tayang. Otomatis jika memotret juga pasti ingin menghasilkan sesuatu yang hasilnya luar biasa, walau dengan kamera yang ada.
    Sayapun demikian .. saya ingin dengan yang seadanya tapi lumayanlah buat pemula. Dan ini ternyata susah. Karena bisa jadi fotografi seperti mobil, mobilnya bagus .. larinya juga kenceng … sang sopir yang pandai memanfaatkan fitur dan medan akan menyempurnakan kemampuan si mobil. Dan itu ternyata mahal.
    Sementara saya bisa belinya “rongsokan” wkwkwkwk.
    Alasannya … jepret menjepret untuk belajar apa aja di jepret … tidak peduli itu sesuai teori atau tidak. Puter-puter dan pencet tombol sekenanya termasuk belum tahu cara merawatnya. Jadi jika alat harus korban ruginya tidak bikin nangis banget. Termasuk membeli lensa tambahan … semua adalah seken dan cenderung yang “dibuang” oleh pemilik lama. Semoga kelak dan entah berapa bulan or tahun lagi bisa menyempurnakan.
    Terima kasih Mas Zen atas apresiasinya … dan yang paling saya syukuri saat ini adalah saya dikelilingi oleh orang-orang hebat. Dukungan tidak sebatas hanya mendukung .. tapi seakan ikut terjun melatih saya untuk menghasilkan hasil yang baik. Dan itu sangat luar biasa sekali.
    Terharu.
    Salam 🙂

    Wah, saya juga kaget yang empunya Ladang Jiwa sampek kesasar ke sini Kang. Sebuah kehormatan dari beliau. Eniwei, jujur saya acungkan jempol untuk semangat memotretnya kang. Saya sampek ngiri hihi. Soal alat, itu nanti menyusul yang penting kan tekniknya terkuasai dengan baik. Selamat memotret Kang…:d

  3. Saya juga sedang belajar fotografi pak dan langkah2 yg saya tempuh saat ini persis seperti Bapak, serba auto..Tapi mudah2an saya juga punya kesabaran seperti Kang Yayat, tak berhenti belajar sampai suatu ketika fotonya layak disebut bagus..:)

    Halo, salam kenal Bu Evi, terima kasih telah berkunjung di blog sederhana dan ala kadarnya ini. Sebuah kehormatan bagi saya. Salam, dan selamat menyempurnakan ilmu fotografinya..

  4. heheeeh mas zent, aku masih belajar yang kayak jepret kamboja itu lho…tapi belum pas. boro-boro mau belajar itu tombol-tombol di kamera saku juga masih belum paham semua heheheh…tapi tetap semangat apapun kameranya..

    wohaa…halo inda. gimana kabar…?? kapan ke jakarta maning nduk? hahahha

  5. Pingback: Dari Kata Bisa Menjadi Luar Biasa | Blogger Pemula Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s