Dotonburi…

Tiba-tiba teringat Jepang. Entahlah…mungkin ini karena beberapa teman beberapa hari lalu baru saja kembali dari Tokyo-Kyoto. Well, Juli dua tahun silam saya menikmati Osaka. Inilah kota dengan segala keindahan dan kesibukan. Satu-satunya tempat di mana Anda akan menemukan betapa sebuah papan reklame begitu sangat berharga.

Namanya Dotonburi. Ini jalan memanjang di sisi kanal antara Jembatan Dotonoribashi dan Jembatan Nipponbashi di Namba, Osaka.  Merunut jejak sejarah, Dotoburi muncul kala pengusaha lokal Doton Yasui pada 1612 berniat meningkatkan perdagangan dengan membuat sebuah kanal untuk menghubungkan dua cabang Sungai Yohori.

Karakter Dotonbori terdefinisikan pada 1621 ketika Shogun Tokugawa yang merancang tata kota Osaka menunjuk Dotonbori sebagai distrik hiburan. Jadilah pada masa itu Dotonburi menjadi kawasan gemerlap dengan pertunjukan teater sebagai identitas paling menonjol. Kabuki, sudah pasti jadi bagian tak terpisahkan. Namun era kejayaan tradisi asli Jepang itu perlahan menyusut. Sebagian besar atraksi asli Dotonburi akhirnya hilang dan lima teater tersisa dibom selama Perang Dunia II.

Seni tradisi boleh tereduksi, tapi tidak dengan sisi kuliner di tempat ini. Dotonburi tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata paling diburu, terutama bagi pecinta makanan. Berbagai literatur atau buku panduan wisata akan merekomendasikan Dotonburi bagi mereka yang menginginkan panas pedasnya ramen atau nikmatnya sushi, misalnya.

Sejumlah restoran menjejali kanan-kiri jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer ini. Yang cukup terkenal antara lain Kinryu Ramen yang buka 24 jam, Kani Doraku yang sangat terkenal dengan billboard kepitingnya, juga Zubora-ya, sebuah restoran ikan fugu, dan Hariju, sebuah restoran daging sapi yang berdiri sejak 1924 dan mengklaim mereka hanya menggunakan daging sapi Jepang. Benar kata pepatah lawas Jepang: Belanjalah kimono (busana) sampai puas di Tokyo, dan makanlah hingga termehek-mehek di Osaka.

Namun, sesungguhnya datang ke Dotonburi bukan cuma urusan perut. Dotonburi juga menawarkan apa yang dibutuhkan travellers: Shopping! Mau apa? Baju…..? Hmmm…HM Uniqlo mungkin sebuah pilihan populer. Butik itu tak pernah sepi meski sesungguhnya harga di sana juga tak murah-murah amat. Toko cenderamata berhamburan di mana-mana. Lelah belanja dan ingin karaoke..?? Mmmm………..siapkan yen Anda dan tinggal pilih pub di sana. Buat yang game freak juga tak perlu khawatir, karena game center juga ada.

Mereka yang yang pernah melintas Jalan Pasar Baroe, Jakarta Pusat, seperti itulah kira-kira Dotonburi. Secara tipologi nyaris sama: sebuah jalan memanjang yang di sisinya dipenuhi toko dagangan. Tapi, Dotonburi jelas bukan Pasar Baroe. Pendaran lampu neon warna-warni menghiasi kawasan ini hingga dinihari. Ribuan manusia juga hilir mudik silih berganti. Muda-mudi Jepang, termasuk mereka dengan dandanan aneh yang kerap ditemui di Harajuku, juga menjadi warna tersendiri. Sudah pasti yang seperti ini tidak akan ditemukan di Pasar Baroe toh..

Satu lagi yang unik di Dotonburi. Jangan pernah melupakan berfoto dengan Glico Man. Seperti saya sebut di atas, inilah papan reklame paling diburu wisatawan. Saya sebenarnya juga heran mengapa orang begitu bangga berfoto dengan si Glico. Rupanya, maskot sebuah perusahaan permen ini memang melegenda.Dipasang pada 1935, neon raksasa yang menggambarkan atlet lari mencapai garis finish itu telah mengalami perubahan beberapa kali sebelum pada bentuknya sekarang. Yang pasti,  Glico Man telah menjadi salah satu identitas Dotonburi.

Angin dingin bulan Juli  mencambuk-cambuk paras kami dini hari itu. Saat kaki-kaki mulai lemas, sayup-sayup musik J-Rock dari anak-anak muda di atas Ebisubashi (Jembatan Ebishu) menjadi penghangat. Saya dan beberapa teman media dan rombongan Sharp Indonesia kembali saya menyusuri jalanan menuju Swiss Nankai Hotel. Setangkup kenangan tentang indah tentang Dotonburi akhirnya menjadi teman peraduan di bantal putih nan empuk.

suasana Dotonburi. Restoran dengan logo kepiting itu sangat terkenal lho….(image by tokyograph)

inilah papan reklame Glico Man (kanan) yang tersohor itu…

di sinilah Dotonburi berada…

dotonburi

woha…..kodew-kodew Osaka boo…(image by Yayus Bisnis Indonesia)

dotonburi

bersama Glico Man melewatkan malam…

masukin koin ke mesin, trusss…..jadi deh wajah-wajah unyu-unyu ini..

dotonburi

suatu masa di Dotonburi, hadeehh mengapa jelek amat muka saya :d (image by Raka Deny Jawa Pos)

dotonburi

bagaimana dengan segelas sake kawan….?? (left-right: me, Raka Deny Jawa Pos, Agustinus Handoko Kompas. image by Yayus Bisnis Indonesia)

Advertisements

4 responses to “Dotonburi…

  1. Wow …. Eskripsinya menggugah selera jalan2 ke sono. Jadi ingat lagi hampir sekolah di sana batal heu heu. Btw … Kalo motret pake elmu lain hasilnya ya Mas ha ha.
    Salam hormat untuk keluarga Mas 🙂

      • Weh kang yayat..haturnuhun banyak kang. waduh jadi malu, ternyata masih kepantau radar juga. padahal maunya diam-diam, eh lupa kalo gak matiin setingan. eniwei di surabaya terus kah sekarang ini kang?

      • aku pemantau setianya om zen dan kang yayat..
        belajar banyak, karena aku motretnya masih pake ilmu kebatinan.

        unyu juga ya, klo om2 bergaya di photobox begitu 😛

        Waduh, waduh…kedatangan tamu terhormat lagi ini. Thanks alot bund….terima kasih banyak. tapi sebaiknya memang belajar fotonya cukup ke Kang Yayat aja, sudah teruji kualitasnya….:d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s