Maiko…

Lagu hotaru (kunang-kunang) dari sebuah tape recorder lawas itu nyaris tanpa bass. Cukup menyiksa gendang telinga sesungguhnya. Beruntung, cacat itu tertutup gerakan gadis belia di depan sana. Berbalut kimono, ia meliukkan tubuhnya. Halus…….dan menghipnosis.

Rembang petang di restoran Ganko Takasegawa Nijyoen, jantung kota Kyoto. Di sebuah ruang lantai dua, Maiko itu menawarkan segala keindahannya. Lemah gemulai tubuh berayun dalam irama yang membius. Parasnya yang berlamur bedak putih tebal nyaris tanpa ekspresi. Tatapan matanya tajam.

Pelan dia mengikuti iringan harmoni itu. Sesekali duduk, berdiri, memutar badan, kadang menyapukan helai kimononya. Pada sebuah gerakan tiba-tiba ia sentakkan tangannya, terkembang kipas, seolah memulas senja itu hingga tanpa bias.  

Saya biarkan mata dalam ketakjuban.

Dan ketika nada terakhir berdenting, persis saat itu pula dia bersimpuh. Menekuk badan, menjura hormat. Sangat santun dan menghibur. Oh, sebuah momen yang seperti menyeret pada peradaban masa lampau Jepang.

Maiko (gadis penari) itu menyunggingkan senyum.  Oho, inilah salah satu the miracle of Kyoto.

Secara harfiah, maiko (舞子) berarti gadis penari dan geiko  (芸子) gadis seni. Maiko adalah mereka yang sedang belajar (magang) untuk kelak menjadi geiko. Maiko rata-rata berusia 15-19 tahun. Begitu menginjak usia 20 tahun, praktis mereka menjadi geiko. Orang mungkin lebih akrab dengan istilah geisha. Tak ada bedanya memang. Namun geiko lazimnya untuk mereka yang berasal dari Jepang barat, terutama Kyoto.

Maiko itu memperkenalkan dirinya sebagai Fukuzusu, seorang lulusan SMP dari Prefektur Yamaguchi. Ia, begitu cair. Bukan lagi es seperti tatkala menari. Tutur katanya ringan, menyemburatkan ceria. Selepas tarian itu, ia menemani kami makan. Menemani mengobrol dan sesekali menuangkan sake.

Mengapa memilih menjadi maiko? Bukankah stigma negatif selalu melekat untuk pekerjaan itu? Fukuzusu mengulas senyum. ”Banyak orang mengkonotasikan geiko negatif. Sebenarnya tidak seperti itu,” katanya.

Maiko ataupun geiko dan juga geisha, ujar dia, adalah pelestari kebudayaan Jepang. Geisha yang identik sebagai istri simpanan para pejabat hanya terjadi pada masa lalu. Di era modern, mereka benar-benar sekadar penari tradisional yang melanggengkan tradisi turun temurun.

Menjadi maiko adalah pilihan hidup. Tak terkecuali baginya yang sengaja tidak meneruskan pendidikan formal. Mengapa? ”Suatu ketika saya melihat pertunjukan maiko. Dari situ saya tertarik dan akhirnya benar-benar menjadi maiko,” ucapnya.

Fukuzusu mengaku, menjadi penari penghibur di rumah makan bukan pekerjaan nista. ”Ini adalah warisan kebudayaan nenek moyang,” ucapnya.

Dia tidak berlebihan. Menurut Sushi Yamano, guide kami kala itu, di Kyoto paling tidak hanya terdapat 100 orang geiko saja. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10 orang yang benar-benar asli Kyoto. Tak mudah menjadi maiko. Fukuzusu membutuhkan waktu hampir satu tahun di asrama sebelum diperbolehkan tampil di depan banyak orang. Selama setahun di asrama khusus, dia dan juga bocah-bocah lain diajari kehidupan tentang maiko.

”Kami harus bisa menari, menyanyi, juga mengenal kebudayaan dan tradisi,” ujarnya.

Segala urusan hidup di asrama ini ditanggung sepenuhnya oleh pengelola. Kelak ketika dewasa dan menjadi geiko, mereka harus keluar dari asrama dan menanggung hidupnya sendiri.

Tak bolehkah dia menikah? Tentu saja boleh. Namun, jika pilihan itu diambil, berakhir pula statusnya sebagai penari. ”Dia menjadi wanita biasa,” tutur Ayako, pramusaji restoran itu.

Matahari telah agak lama terpendam. Meja-meja restoran Ganko Takasegawa Nijyoen kian penuh manusia. Kamogawa (sungai Kamo) persis di samping restoran yang semua menampakkan kilap jernih air, mulai menghitam ditelan kelam. Anggukan Ayako menutup makan malam yang indah itu. Makan malam yang tak terlupakan…..

****

June 2010

Maiko yang menghipnosis…sungguh beruntung pernah menyaksikan seperti ini (image by kyoto-maiko.jp)

Maiko menari dengan iringan shamisen alias alat musik tradisional Jepang. (image by Kyoto-maiko,jp)

Inilah Fukuzusu, maiko yang menemani kami makan malam.. (kiri Rano Karno)

Bersama Ayako, pramusaji di Restoran Ganko, Kyoto

Advertisements

3 responses to “Maiko…

  1. om rano karno ini tampak cukup lekat dgn budaya jepang.. 😛

    aku hanya sekedar mengenal saja,
    dulu dari novel2nya ibu NH Dini
    sekarang dari para blogger yang berdiam di jepang.

    hehehe…thanks alot emak atas dukungannya pada Rano Karno hahaah… Eniwei saya jg br skali-kalinya itu ke Jepang. Dan memang mengagumkan.

  2. Kok mirip ya dengan Ronggeng di film Sang Penari … panggilan jiwa juga (seingat saya lho) he he … Malah konon sudah menjadi penari sejak lahir xixixi. Apa memang tipikal penari seperti itu semua ? Kesamaan lain, jika menikah maka berakhir pulalah sebagai ronggeng he he. Maaf niy agak sotoy mbanding-bandingkan ha ha ha

    Yup, betul sekali kang…..Saya juga gak masalah kalo dibandingkan dengan Rasus hahaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s