Masih soal Bucharest…

Masih soal Bucharest. Lebih tepatnya tentang Museum Desa Demitrie Gusti yang tak jauh dari Kellef Road itu. Tidak  banyak yang bisa diceritakan karena ini tak lebih museum terbuka, rindang, penuh dengan aneka rupa miniatur desa Rumania. Ya tahu sendirilah bagaimana rupa museum. Tapi, tetap saja ada yang menarik.

Saya tidak tahu apakah ini menarik dari sisi pandangan umum atau tidak. Tapi buat saya, orang yang mengalir deras tiap

salah satu rumah wong ndeso Rumania

hari ke sini adalah sesuatu yang cukup mengernyitkan dahi. Ketika saya datang, itu weekdays. Bukan weekend. Silih berganti orang berdatangan. Terkadang sendiri, berpasangan, bahkan berombongan.

Saya pikir buat apa mereka hanya melihat bangunan-bangunan tua dari kayu itu? Belajar tentang sejarah? Atau sekadar menemukan teduh dan udara segar dari ratusan pepohonan berdaun rimbun? Yang kedua ini rasanya tidak juga. Kalau untuk sekadar oksigen yang tak terkontaminasi polusi, bukankah mereka bisa di taman luas di sekitar museum? Jadi, jawabnya adalah orang-orang Rumania bukan saja amat menghargai sejarahnya. Tapi mereka orang-orang yang mengapresiasi seni dengan tinggi.

Jangan pikir seperti di Jakarta ketika museum banyak yang melompong (kecuali museum di kota tua, misalnya), penghargaan atas benda-benda atau tempat bernilai sejarah tinggi di Rumania tak mengenal waktu dan usia. Bukan saja mereka yang umur-umur sekolah yang datang ke sini. ABG, remaja, pengusaha muda, bahkan manula sekalipun banyak.

Sisi menarik lain, tak jauh dari pintu masuk museum ini, pada sebuah areal kosong dengan panggung mini, saban hari terpentaskan musik-musik tradisional Rumania, juga Balkan. Jadi Anda masuk ke tempat ini tidak sekadar kaya sejarah perdesaan, tapi juga punya wawasan tentang musik.

Suvenir. Ini bagian tak terpisahkan dari tempat ini. Hampir di depan semua bangunan-bangunan di dalam museum itu ada penjual suvenir khas Rumania.  Jangan membayangkan banyak kaos oblong bertuliskan Bucharest, Bucuresti, Rumania, atau sejenisnya di sini. Hampir tak ada yang jual. Tapi kalau baju tradisional Rumania, ada banyak. Harganya…? Mahal. Bukan termasuk yang direkomendasikan. Satu tempelan kulkas dari keramik (dengan fitur bolak-balik ada gambar pemandangan) dihargai 25 lei. Kalau gak salah kira-kira 60 ribu-an (agak-agak lupa kurs-nya nih). Intinya relatif lebih mahal lah..

Yang lain…? Ini bagian yang sangat saya suka. Di sebuah tempat, masih di dalam museum itu, ada penjual wine. Sepanjang ingatan saya, dia satu-satunya di situ. Mata sempat jelalatan ngelihat botol-botol wine dipajang di meja kayunya. Ngiler juga, tapi gak berani mendekat. Bolak-balik dilewati demi melirik harga. Demi pesanan teman, akhirnya nyamperin juga saya.

Begitu mendekat, saya paham itu memang bukan wine kelas satu. Yah..wine kelas middle lah. Tapi lumayan, kalau di Decanter, Fourties Kemang, dan lain-lain di Jakarta mungkin di atas Rp400 ribu-an, di sini bener-bener miring. Karena khawatir kehabisan uang, saya akhirnya pilih white wine yang harganya kira-kira Rp30 ribu sebotol. Tapi, ada cacatnya. Wine-wine murah meriah itu gak ada box-nya. Jadi, kalau beli ya udah botol demi botol akan langsung dimasukkan ke kantung plastik. Saya jadi berpikir ulang. Kalau pecah gimana?

Di saat kebingungan, saya melirik deretan red wine yang ada boks-nya. Dia dipajang di tatakan wine, seperti di kafe-kafe itu. Uh pasti mahal pikir saya. Memang, red wine (cabernet sauvignon) ini kalau dikurskan ya setara Rp120 ribu-an. Beli gak ya…beli gak ya….gak beli ingat teman. Kalau beli ingat dompet..duh

Sang penjual agaknya tahu saya bimbang. Dan, akhirnya keluarlah sesuatu yang tak terduga. Rupanya wine-wine merah itu lagi diskon. Kalau beli dua botol, gratis satu. Jangkrik, kenapa kagak bilang dari tadi. Jadilah saya beli dua (dapat tiga). Yang itu artinya satu botol cuman kira-kira Rp80 ribuan. Ehmm….lumayan untuk wine kelas middle.

Saya gak bermaksud mengajak sampean-sampean untuk menikmati wine lho. Alias hanya mengingatkan bahwa wine di Eropa itu memang murah-murah. Gak kayak di Jakarta yang aje gile ini. So, kalau Anda beruntung pergi ke Demitrie Gusti dan menemukan penjual wine itu, tawarlah serendah mungkin. Biasanya dia memang lagi promosi.

Pria mirip Rano Karno di depan Museum Demitrie Gusti. Haduhh backlight lagi. Ini saya kan udah item, jadi tambah gulita dong…:d

Ini tempelan kulkas dengan latar belakang menara gereja pedesaan di museum Demitrie Gusti.

Ya seperti inilah rumah-rumah pedesaan Rumania

Penampilan musisi Rumania. Mereka bawakan lagu-lagu tradisional Rumania dan Balkan. Kostumnya itu pakaian khas negara itu.

Ini ketika Indro Hardjodikoro Band berkolaborasi dengan Paduan Suara Anak Indonesia tampil di Demitrie Gusti. Cabikan bas Mas Indro (kiri) membuat hati cewek-cewek luluh lantak…

Boneka kecil-kecil digantung di pohon. Suvenir ini dijual lho, bukan cuma pajangan. Kalau pohonnya sih nggak…

Penjual suvenir. harganya relatif mahal. Ingat ya, hanya suvenirnya yang bisa dibeli. Penjualnya jangan 😆

Pohonnya gede-gede. Rimbun. Angin sepoi-sepoi…

Eh, ada ayam di museum. Pacaran lagi! Tahu nggak, ayam ini abis difoto langsung ngumpet ke semak-semak. Eh, langsung bikin anak…kacau.

Bukan wine yang saya beli. Tapi kira-kira ya gak jauh dari inilah. Ini minuman sari anggur lho. Katanya menyehatkan *tolehkanankiri*

Aduhhhh, ini siapa ya? Mau nggak sama orang Indonesia kayak saya neng?

Advertisements

7 responses to “Masih soal Bucharest…

  1. Selalu menarik deskripsi perjalanannya ..
    Konon jika foto lanskap dan perjalanan dipajang bisa dikatakan berhasil jika membuat orang pengen ke sana. Saya yakin tulisan perjalanan juga begitu maksudnya.
    Dan foto dan tulisan ini kayaknya berhasil karena membuat saya pengen ke sana … ***mimpi pagi dengan membayangkan minum wine sambil membuat kesepakatan dengan yang mirip Rano Karno 😀

    hahahaha….emang doyan wine kang? waduhh makasih pujiannya. Membikin terlena ini :d

    • herman felani mau minum wine bareng rano karno.. :))

      hahahaa, bagai pinang dibelah dua. matur tengkyu sudah mampir lagi emak. Saya kok gak bisa komeng di sana ya? #think :d

  2. OOT : Sekalian jawab pertanyaan di twitter … saya sekarang ngepos di dot net aja … Satu saja, biar gak bingung kebanyakan blog ha ha.
    Matur nuwun sanget 🙂

    Waduhhh kang Yayat, betapa bodohnya saya. Pantesan ane bolak balik ke gemot dan si pemula kagak ada2. Lha saya lupa babar blas kalo ada dot net. saya ke tekape deh. hatur nuhun kang…:d

  3. Sangat menarik dan menggelitik ‘dada’. Berharap ada yang jual perasan warna putih gann

    Palsuuuuuu……awakmu emang gak bisa melupakan. Matur tengkyu gan sudah mampir :d

  4. Aduh Tuhan, mas zent mantps jalan-jalannya. ngomong-ngomong saya dapat jatah oleh-olehnya kan? heheheeh

    heheeheh, Alhamdulillah, kebetulan aja kok nduk. Ada tuh oleh-olehnya, ane titipin di pak taka haahahha

    • lho kok dititipkan? aku pengennya mas zent sendiri yang memberikan. whoi yang namanya pak taka,,, mana oleh-oleh mas zent!

      sini dulu dong nduk. ngapain di solo teruss

  5. murah amat ya wine disitu
    mungkin sama dengan civas di sini ya..?

    *ciu vlastikan…

    hahahahahah…singkatannya top. Iya mas, emang murah2 banget. thanks telah berkunjung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s