Pada Sebuah Taman…

Masih adakah ruang untuk menyemai peradaban di tengah hiruk-pikuk Jakarta? Datanglah ke beberapa taman kota. Di sana, kita bisa bergabung dengan warga yang melepaskan diri dari keruwetan kota, bersantai, sekaligus bergaul dengan sesama secara lebih manusiawi.

Aline awal (lead) headline Kompas, Minggu 8 Agustus 2010, itu benar adanya. Kepada taman rasanya penat, suntuk, dan kuyu bisa disandarkan. Kepada taman rasa frustrasi sejenak terobati. Lusuh dan peluh luruh. Amarah perlahan memusnah.

Air. Daun. Kupu.  Bunga. Angin. ……………..menyatu dalam harmonisasi tanpa polusi, menentramkan sekaligus memberi kesejukan. Ia menawarkan jeda atas segala karut marut Ibu Kota.

Kepada taman rasanya kita bisa bertutur sapa,  meski itu hanya dengan penjaja. Berkisah apa saja. Kampung, ternak, serangan fajar, sawah, musim dan panen.

Taman, tak dimungkiri barang teramat mahal di Jakarta. Sampean semua pasti mengerti, sejengkal tanah di sini lebih berharga untuk beton ketimbang pohon. Rumput seperti menyisakan sejumput. Dan, semen begitu temperamen. Ia serakah melahap tanah, tiada ampun memberangus humus.

suasana taman ayodya, kebayoran baru, jakarta selatan. Tertata rapi di era gubernur Fauzi.

suasana Taman Ayodya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tertata rapi di era gubernur bang Fauzi.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebenarnya mengharuskan setiap kota menyediakan minimal 30% ruang terbuka hijau (RTH) dari luas wilayah kota.

Apa lacur, UU selalu buas di atas kertas, namun tanpa gigi di tataran implementasi. Mari kita tengok apa kata Jokowi. Sang Gubernur DKI bermimpi target 30% RTH tercapai di masa kepemimpinannya. Mengacu luas wilayah Jakarta yang 661,52 kilometer persegi di daratan dan 6.977,5 kilometer persegi lautan, RTH di Ibu Kota mestinya 198,7 kilometer persegi pada 2008.

IMG_2664

Sementara kini…? Sejauh ini RTH tak lebih dari 10%.

Sejatinya bisa dinalar kala Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Catharina Suryowati seperti mengibarkan sinyal angkat tangan. Terlalu rumit memang menghadirkan tanah untuk taman. Jakarta tak bisa jumawa di tangan para pengusaha. Jakarta bahkan tak bisa pongah di hadapan calo tanah.

Soal yang terakhir itu, sungguh begitu luar biasa taringnya. Di mana tanah diincar, disitu dia memegang kendali tawar.  Sungguh sial, beberapa lahan yang mereka klaim siap jual itu ternyata ilegal. Tak jelas status hukumnya, tak jelas kepemilikannya, atau sembarang sebagainya. Pendek kata, seperti tak ada celah kosong untuk Jakarta yang merana ini.

Well,  30% RTH di Jakarta adalah imajinasi dan segelintir taman kota sekarang ini adalah realita. Seperti kata orang bijak, sedikit rezeki pun harus disyukuri.

Saya menikmati secuil ruang tersisa yang masih menyuguhkan kesegaran. Di Taman Suropati, Taman Menteng, Ayodya, Situ Lembang, Monas, Senayan, Hutan Kota Srengseng, atau sebuah fasum kecil di dekat perumahan. Setidak-tidaknya masih ada bangku sebagai penawar duka atas letih dan lesu. Ada embun untuk mengenyahkan manyun.        

Tiba-tiba saya teringat Kalemegdan, taman mahaluas di jantung kota Beograd Serbia. Di sanalah peradaban benar-benar tumbuh. Taman yang menyatu dengan benteng Kalemegdan itu saksi sejarah bagaimana Kota Putih  (beo=putih; grad=kota) terbentuk. Di tepi pertemuan Sungai Sava dan Danube yang menjadi urat nadi Eropa, taman Kalemegdan sesungguh-sungguhnya tempat bersandar atas segala kecamuk kehidupan.

Mendadak saya juga ingat Surabaya. Beruntunglah kota ini punya wali kota Tri Rismaharini, wanita yang seperti dilahirkan untuk menciptakan taman.

Ahh…benar kata para pakar planologi: A city without a park is soulless.

#yuk mejeng dulu di taman :d

Sejenak menghirup napas di Taman Ayodya, Kebayoran Baru, Jakarta. Potret keluarga Urban hihihi..

Sejenak menghirup napas di Taman Ayodya, Kebayoran Baru, Jakarta. Potret keluarga Urban hihihi..

Ciluk Ba.....suatu siang di taman deket rumah. Cari udara segar di tengah panas Jakarta

Ciluk Ba…..suatu siang di taman deket rumah. Cari udara segar di tengah panas Jakarta

Khansa bergaya, di taman kecil deket rumah.

Khansa bergaya, di taman kecil deket rumah.

khansa 2

khansa 2

khansa 3

khansa 3

Menikmati sarapan pagi di hutan kota srengseng Jakarta Barat

Menikmati pagi di hutan kota srengseng Jakarta Barat

I Love Beograd. Juga kamu wahai gadis penjual cenderamata..

I Love Beograd. Juga kamu wahai gadis penjual cenderamata.. #sebuah siang di Taman Kalemegdan, Beograd, Serbia, tengah tahun lalu.

hijau dan rimbun di Taman Kalemegdan

hijau dan rimbun di Taman Kalemegdan. Benar-benar tempat menyemai peradaban.

Memandang Sungai Sava dari Benteng Kalemegdan di Beograd

Memandang Sungai Sava dari Benteng Kalemegdan. Percayalah, jangan pernah lewatkan tempat ini jika ada kesempatan ke Beograd. Very beautiful place.

Advertisements

4 responses to “Pada Sebuah Taman…

  1. aih senangnya khansa, Mama dan adek yang bermain di taman.

    urusan pertamanan ini harusnya sangat serius ya om Zen.. jangan hanya krn keserakahan ia diabaikan demi tembok tembok mahal itu. Jangan terus2an bersikap masa bodoh dan menunggu kehancuran terlebih dahulu untuk kemudian sadar. #omelan pagi..

    pagi, om Zen..!

    Pagi bund………thanks telah datang. Selalu menyenangkan menerima sapaan pemilik Ladang Jiwa. Maap jarang bertandang balik. Inilah potret ngeblog sesempat-sempatnya, sengawur-ngawurnya hahah. Thx again

  2. CSR dari beberapa perusahaan itu bisa nggak ya digabung aja untuk beli tanah buat taman…, terus mereka boleh deh promo di situ.. pasang iklan di bangku taman, atau di jalan setapaknya…asal bukan papan reklame ngejreng…pokonya yang berupa fasilitas tamanlah…

    satu lagi taman kota..taman Cattleya di perempatan Tomang..

    Wah ide sangat menarik sekali itu Bu Monda. Kayaknya gak ada perusahaan yang kepikiran sampai di situ. Mereka cenderung ke kegiatan kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terima kasih Bu Monda atas apresiasinya, maaf belum bertandang balik. Oh ya saya belum pernah yang ke taman Tomang itu heheh

  3. Asyik ya kalau senior bertutur …. sesejuk taman dan hasil jepretannya. 😀
    Rupanya tidak hanya saya ya yang mengagumi kehebatan Bu Risma dalam mengembangkan hijaunya Surabaya.
    Kadang iri ya melihat keasrian negeri orang yang mementingkan lingkungan untuk hidup lebih nyaman. Semoga Pak Jokowi mampu melaksanakan niatnya untuk meluaskan area hijau dan taman di Jakarta. Amiiin.

    amiinnnn…………….foto-foto ini jauh gak ada apa-apanya dengan foto Bromo. hehehe. thanks kang. Maaf lama gak mengunjungi om gemot :d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s