Kisah dari Beograd (1-BusPlus)

Sebuah tulisan feature karya wartawan senior Kompas Trias Kuncahyono terasa meresap ke batin, 2011 silam. Dia menulis: Beograd Masih Ingat Bung Karno. Saya larut, terutama karena tulisan ringan tentang ingatan kolektif warga Beograd pada Bung Karno itu renyah, deskriptif, mengalir, dan meletupkan pijar nasionalisme. Sebuah hal tak terduga saya merasakan getaran itu setahun berselang. 

This slideshow requires JavaScript.

Datang ke Beograd, Ibu Kota Serbia, memang seperti menyeret ingatan ke masa perang dingin. Sebuah era ketika Soekarno dan Josip Broz Tito, Presiden Yugoslavia, memilih berdiri di tengah: tidak ke kiri, tidak juga ke kanan; tidak ke Barat atau Timur. Dua sahabat itu, bersama tiga koleganya, Gamal Abdul Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), dan Kwamu Nkrumah (Ghana) menuliskan sejarah dalam geopolitik dunia. Mereka mempelopori KTT Asia Afrika yang mengkristal pada lahirnya Gerakan Non-Blok (Non Aligned Movement).

Sungguh masuk akal bila Soekarno mendapat tempat istimewa di Beograd. Keintimannya dengan Tito, pahlawan besar Yugoslavia, terus dikenang. Meski di abad modern ini tak semua mengingat, setidaknya-seperti tulisan mas Trias itu-nama Bung Karno masih harum di kota terbesar di Serbia itu. Saya tak ingin mengulas lembar sejarah itu. Terlalu dalam dan berat rasanya.

Saya lebih ingin berbagi cerita tentang nuansa Beograd, tentang kotanya yang menakjubkan, tentang keindahannya yang membius, dan tata kotanya yang kompleks, sebagaimana kota-kota besar lain. Inilah sekelumit dari perjalanan pada 2011 silam.

Transportasi Massal

Sebagaimana banyak kota di Eropa, sistem transportasi publik di Beograd, Serbia, bergantung pada bus, trem, dan kereta api. Namun sedikit tertinggal dibanding kota-kota lain, Beograd belum memiliki kereta api bawah tanah (subway/metro). Impian untuk memiliki moda transportasi itu sesungguhnya telah lama diretas untuk diwujudkan. Tapi banyaknya kendala, terutama dari sisi pendanaan, membuat proyek itu tertatih-tatih.

Bus, bus troli (trolley bus/bus berbahan bakar listrik), dan trem akhinya menjadi pilihan amat populer. Angkutan publik di bekas Ibu Kota Yugoslavia ini dioperasikan GSP Beograd, perusahaan pelat merah dan beberapa perusahaan swasta. Saban hari, transportasi massal ini melayani penumpang dari pukul 04.oo hingga 24.00. Di beberapa jalur, bus beroperasi dari 00.00 hingga jam empat pagi esoknya.

”Sebenarnya banyak yang berharap Metro (kereta bawah tanah) bisa terealisasi. Bus dan bus troli kini sama padatnya. Benar kami belum pada titik yang sangat tersiksa, tapi Metro barangkali bisa membuat urusan jadi lebih cepat,” kata Darko Stanojevic, salah seorang warga yang ditemui di kawasan  Kneza Sime Markovica.

BusPlus

Membandingkan wajah tranportasi publik Beograd dan Jakarta sesungguhnya tidak terlalu berbeda jika diliihat dari sisi fisik kendaraan. Sebagian bus berusia tua dan terlihat kusam. Pada posisi sarat penumpang dan melewati jalan tanjakan, deru mesin bus juga cukup berisik. Bedanya, tak ada kepulan asap hitam dari knalpot, menandakan uji gas buang menjadi standar.

Yang juga tak dimiliki angkutan massal di Jakarta adalah apa yang disebut BusPlus. Per 1 Februari 2012, Pemerintah Kota Beograd mengenalkan BusPlus, metode pembayaran untuk bus, bus troli, trem, dan kereta api antarkota. BusPlus berwujud kartu yang dapat divalidasi secara elektronik. Ini seperti kartu kredit di mana ketika penumpang menaiki angkutan publik akan terdebet secara otomatis. ”Sama juga dengan pulsa ponsel. Ada limit tertentu yang akan habis untuk berapa kali pemakaian,” tutur Kepala Divisi Komunikasi KBRI Serbia Yudi Tetra Mulya.

 BusPlus menghapus sistem karcis yang selama bertahun-tahun digunakan. Otoritas transportasi Beograd mengungkapkan, BusPlus dilaksanakan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan angkutan umum. ”Laporan pada September 2012 menunjukkan pendapatan keseluruhan telah meningkat,” bunyi pernyataan otoritas pada laman resminya.

Pada peluncuran BusPlus, Wali Kota Beograd Dragan Djilas mengungkapkan BusPlus memperbaiki sistem transportasi umum. BusPlus sekaligus potret penerapan teknologi maju pada pelaksanaan sistem transportasi publik.

Jika skenario berjalan sesuai rencana, pada akhir 2012 kemarin mestinya BusPlus telah memperkenalkan papan informasi elektronik di halte yang akan menginformasikan penumpang ketika bus berikutnya akan datang. ”Dengan BusPlus pula penumpang dapat memeriksa di internet di mana kendaraan berikutnya saat ini berada dan bagaimana untuk sampai ke tujuan,” sebut dia.

BusPlus  terbagi dalam dua jenis, pribadi dan nonpribadi. Dari material, ada dua jenis yakni plastik dan kertas. Kartu berbahan plastik seharga 250 dinar, sementara kertas senilai 40 dinar. Kartu pribadi direkomendasikan untuk penduduk setempat atau orang asing yang tinggal dan bekerja di Serbia untuk jangka waktu yang lama.

Bagaimana sistem validasi berjalan? ”Tinggal tempelkan ke mesin di dekat setiap pintu kendaraan. Setelah bunyi bip, perjalanan akan divalidasi,” terang Yudi.

Pemerintah Kota Beograd mengklaim BusPlus memberikan keuntungan berupa kepraktisan bagi pengguna. Sayangnya, tidak semua sepakat. Ketika sistem ini baru pada tahap sosialisasi, banyak yang mengkritik. Kritikan semakin kencang ketika proses tender akhirnya dimenangkan Apex Technology Solutions. ”Kartu ini dikeluhkan karena berbagai alasan seperti kekhawatiran tentang pelanggaran privasi, tingginya harga, kontrol yang ketat, serta fakta bahwa ini hanya menguntungkan perusahaan swasta,” cetus Maria Ivanovic, seorang mahasiswa.

Lepas dari kontroversi itu, Jakarta bisa saja menerapkan sistem kartu elektronik untuk angkutan umum dalam kota tersebut (sekarang ini sistem demikian baru berlaku di KRL Commuter Line). Tetapi jika dipandang belum ada urgensinya,  setidaknya Ibu Kota bisa belajar bahwa angkutan umum di Beograd, terutama bus mengedepankan keamanan dan kenyamanan.

Bodi bus boleh saja tak kinclong, tetapi daya tampung penumpang tak pernah melewati batas. Lebih dari itu, mereka juga terus mengedepankan kendaraan ramah lingkungan, di antaranya lewat troli bus  dan program uji gas buang yang dikontrol ketat. Sisi menarik lain, harga tiket angkutan umum mengenal karakteristik penumpang, mulai siswa sekolah, mahasiswa, pensiunan, orang-orang cacat, dan pengangguran. Jadi, tarif tidak berlaku sama rata sebagaimana di sini.

*ditulis untuk membunuh stress tugas kuliah :d

 

 

Advertisements

2 responses to “Kisah dari Beograd (1-BusPlus)

  1. Saya suka tuh dengan harga tiket angkutan umum mengenal karakteristik penumpang. Jadi tidak sama rata. Itu namanya salah satu sisi adil yang diterapkan.

    Hahahaa, setuju mas. Kayaknya di sini baru kenal tarif pelajar aja…..

  2. Pingback: Finding Apartments In Beograd | CCR Canada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s