Kisah dari Beograd (2-Parking Zone)

Menurut sampean, apakah kebijakan pakde Jokowi mencabut-cabut pentil kendaraan (pentil lho ya dengan “e” diucapkan seperti kata enak, bukan dengan “e” seperti kata senang) efektif memberangus parkir liar di Ibu Kota? Kalo tidak, bagaimana dengan usul om Ahok yang ingin pelat nomor dicabut dan STNK diblokir?Apakah sampean yakin itu berhasil?

This slideshow requires JavaScript.

Banyak yang bilang tidak! Wajar juga sih. Urusan parkir liar di Jakarta terbilang kompleks. Orang tak mau parkir di tempatnya karena ingin murah dan mudah. Tak peduli itu melanggar, sepanjang dia merasa segalanya bisa disiasati, akan tetap saja terjadi. Pikir mereka, toh ini sudah kebiasaan dan dilakukan di mana-mana.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga gelagapan ketika dihadapkan pada argumentasi tentang keterbatasan lahan parkir. Ingat, tak semua tempat di Jakarta memiliki tempat parkir representatif. Ketika itu ada, harga juga tak lagi murah. Sampean semua pasti mengerti Pemprov telah memberlakukan aturan mengenai tarif parkir on-street dan off-street.

Sebagaimana kota-kota besar di dunia, pelayanan parkir memang jadi persoalan krusial. Apa yang dialami Jakarta, persis juga dengan yang tejadi di Beograd. Ibu Kota Serbia itu tak punya cukup lahan untuk menampung mobil-mobil yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Malah, Beograd lebih parah.

Jangan membayangkan semua gedung, mal, perkantoran, hotel, atau kantor-kantor publik di kota ini memiliki areal parkir luas sebagaimana Jakarta. Tidak!

Kecuali New Belgrade (Beograd Barukota Beograd terbelah Sungai Sava, satu sisi disebut Beograd Lama dan sisi lainnya Beograd baru), wajah kota terbesar di Serbia ini tersusun atas bangunan-bangunan lawas era Yugoslavia bergaya neoklasik-artdeco yang terpengaruh era dinasti Ustmaniyah (Ottoman). Bangunan-bangunan ini cantik dan eksotik secara arsitektur, namun pelit dengan lahan parkir. Alhasil, parkir di badan jalan adalah keniscayaan.

Sejauh mata memandang kala mendatangi White City pada pertengahan September 2012 lalu, nyaris tak ada ruang kosong di tepi jalan pada jam sibuk. Deretan kendaraan seperti semut berbaris menuju sarang. Kalaupun ada satu atau dua celah, tak berselang lama datang mobil lain mengisi.

“Kami seperti berlomba-lomba mencari ruang parkir ketika jam sibuk. Saat tak menemukan, Anda harus rela parkir di pinggiran kota,” keluh Jelena Petrovic, pekerja kantoran, pada sebuah siang tak jauh dari Bulevar Oslobodenja.

Pemerintah Kota Beograd tak tutup mata dengan situasi itu. Dipikirkanlah suatu cara agar parkir tetap tertata. Namun, Beograd bukan Jakarta. Ia tak memiliki kebijakan cabut puting pentil kendaraan, blokir STNK, atau copot pelat kendaraan.Dalam cetak biru (blue map) perkotaan, Dewan Kota telah menyetujui rencana pembangunan “garasi bawah tanah” di sejumlah titik.

Para ahli telah menganalisi lebih dari 70 lokasi di pusat kota dan menemukan 58 titik yang dianggap cocok sebagai tempar parkir baru. Di jantung kota, garasi bawah tanah akan di bangun di lokasi-lokasi paling dibutuhkan warga, antara lain dekat perpustakaan nasional di Skerliceva.

Persoalannya, proyek itu masih dalam tataran rencana alias belum terbangun. Lantas, bagaimana dengan situasi sekarang?. Pemberlakuan zonasi parkir menjadi andalan. Untuk mengatur layanan parkir on-street, Beograd membagi kawasan dalam tiga zona parkir dengan setiap zona memiliki batas waktu dan tarif berbeda.

Zona I (merah) diperkenalkan pertama kali di jantung kota, terutama di wilayah-wilayah yang dilintasi trem seperti kawasan  Karadjordjeva, Cara Dusana, Bulevar Kralja Aleksandra, Beogradska, dan Nemanjina. Batas waktu maksimal bagi pengendara yang memarkir kendaraanya di tempat ini maksimum 60 menit.  Zona II (kuning) mencakup wilayah tepi pusat kota dan zona III (hijau) di wilayah pinggiran. Batas waktu zona II maksimal 120 menit, adapun zona III maksimal 180 menit.

”Artinya hanya itu waktu yang diperbolehkan untuk parkir di sana. Setelah melampui waktu, kendaraan harus pindah,” kata staf komunikasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Serbia Ate Marhali. Pria yang telah 15 tahun tinggal di Beograd ini mengatakan, jika batas waktu dilanggar, pengemudi akan terkena tilang.

Ada dua cara membayar tarif parkir, yakni membeli tiket parkir di kios (tersebar hampir di semua sudut kota) atau melalui telepon seluler. ”Sekarang ini membayar melalui ponsel jadi pilihan karena dianggap praktis,” lanjut Ate. Melalui SMS, biaya parkir akan ditambahkan pada tagihan telepon atau dikurangi langsung dari kartu prabayar.

Jika memilih membayar menggunakan ponsel, pengemudi tinggal mengirimkan pesan pendek (SMS) ketika mobil terparkir. SMS cukup berisi nomor plat mobil (tanpa spasi) dan dikirimkan ke nomor yang disesuaikan dengan zona parkir.

”SMS ke nomor 9111 untuk zona I, 9112 untuk zona II dan 9113 untuk zona III. Beberapa detik usai SMS dikirimkan, kita akan dapatkan balasan yang menyebutkan biaya parkir,”lanjut Ate. ”Begitu juga ketika waktu parkir akan habis, kita dapat SMS pengingat,” tambah dia.

Jangan coba-coba untuk melanggar. Pemkot sangat ketat memberlakukan sistem ini. Untuk mengetahui apakah mobil telah membayar tarif parkir atau tidak, puluhan petugas parkir berkeliling kota dan melakukan pengecekan. Dengan komputer tablet di tangan, mereka bisa dengan cepat masuk ke basis data parkir dan memverifikasi data. Sebuah mobil bisa terdeteksi tidak membayar parkir dalam hitungan detik jika pembayaran tak ditemukan dalam basis data. 

Siap-siap saja untuk merogoh kocek dalam-dalam jika terbukti melanggar.  Dibandingkan dengan tarif parkir yang seharga 35 dinar per jam untuk zona I (1 dinar Serbia setara Rp136 kurs 15 November 2013. Jadi 35 dinar setara Rp4.760), 25 dinar zona II, dan 20 dinar di zona III, denda parkir berlipat-lipat besarnya, mencapai 1.500 dinar.

Tak cuma itu, jika bernasih buruk, mereka yang melanggar ketentuan parkir on street akan berhadapan dengan laba-laba (nayk), istilah populer untuk menyebut mobil derek yang tanpa ampun menggeret mobil-mobil pelanggar ketentuan. Kalau sudah demikian, masalah dipastikan kian runyam. ”Karena untuk mendapatkan mobil kembali harus melalui prosedur yang tak gampang,” kata Ate.

Beograd memang tak main-main menerapkan aturan parkir di badan jalan. Besarnya sanksi untuk para pelanggar dimaksudkan sebagai efek jera. Sementara, biaya tarif parkir yang relatif mahal sesungguhnya untuk menekan jumlah pengendara pribadi memenuhi pusat kota.

”Ketika para pemilik kendaraan berpikir harus mengeluarkan uang untuk membayar parkir, Pemkot beranggapan mereka akan beralih ke angkutan publik. Ini bisa mengurangi kendaraan di pusat kota,” kata Jelena.

Benarkah demikian? Sedikit banyak, iya. Tapi kebijakan zona parkir ini tetap tak luput dari kritik. Zonanisasi dianggap belum menjawab akar persoalan sebenarnya. Protes tajam beberapa kali terlontar.

”Mengapa orang-orang parkir di depan bisnis kami kemudian berjalan pergi?,”gerutu Jessica Handsaker dikutip belgrade-news. ”Oh ya, ini kawasan parkir publik. Tapi tidakkah itu mengganggu?” lanjut wanita yang bekerja di kafe kawasan Brodway Beograd ini.

Kalangan pebisnis merupakan salah satu pihak paling dirugikan akibat parkir on-street. Mereka mendesak pemerintah segera merealisasikan areal-areal parkir baru. Sebab, hanya itu satu-satunya cara yang dianggap paling ampuh menyelesaikan problematika parkir.   “Mereka (pemerintah) telah berbicara tentang penataan manajemen parkir sejak lama. Tapi, hingga kini tidak ada perubahan, ” cetus Debbie Youngberg, serorang warga. 

*****

Jadi, begitulah saudara-saudara. Menurut sampean, mungkinkah cara Beograd ini diterapkan di Jakarta? Atau jangan-jangan sudah, tapi tak berhasil? Barangkali bang Juliano Satria, Rimba Supriatna, dkk bisa menjawabnya. Hehehe…

Advertisements

7 responses to “Kisah dari Beograd (2-Parking Zone)

  1. di solo, tepatnya kota surakarta juga berencana membuat tempat parkir. konon kabarnya sepanjang jalan slamet riyadi akan bebas dari parkir yang sekarang ini. api apakah akan berhasil? sambil membayangkan orang berkantor di dekat balai kota tapi parkir di purwosari eheheheh jaraknya hampir 3 km. selamat menikmati jakarta dan keindahan aturannya mas zent 🙂

    Nah lho…………….nunggu awakmu dadi wali kota nduk…..

  2. whuihh, keren banget klo cara beograd bisa diterapkan di bukik.. sampai sekarang perparkiran di bukik masih terus dikuasai preman, bikin frustasi.. 😦

    Kayaknya di mana-mana gitu juga bund. Inilah problem yang sulit terurai. Butuh pemimpin tegas dan berani. Kira-kira kalau dokter gigi jadi gubernur sumbar, gimana ya…:d

  3. kalau orang kita punya kebiasaan malas jalan, jadi pengennya parkir sedekat mungkin dengan tujuan wk..wk…
    tapi aku pernah lho diomeli sama yg punya toko, krn parkir di depan tokonya tapi pergi ke tempat lain…parah..

    Hahahaha…..bener banget tuh Bu Monda. Ini bedanya orang sini sama luar. Di Jepang, Eropa, jalan atau bersepeda itu sudah jadi kebiasaan. Eniwei, itu pengalaman bu Monda kayaknya pernah saya alami juga hahah

  4. dan ya memang tidak dipungkiri salah satu penyebab kemacetan ya parkir yang dijalan tersebut. memang seharusnya ada lahan khusus, kalo perlu dibikin gedung 100lantai buat parkir. hehehe

    Eh iya bener tuh mas, sebenernya ada beberapa seperti itu di kawasan Kuningan, jakarta. Efektif, sayang masih sangat terbatas. eniwei, makasih apresiasinya mas….

  5. Mereka tegas menegakkan aturan. Jadi teringat ada mobil yang digilas sama walikotanya karena parkir seenaknya. Cari2 di youtube barusan belom ketemu wkwkwk.
    Perlu waktu lama untuk merubah budaya menjadi lebih disiplin, wong hari ini aja saya melihat 4 orang yang buang sampah dan meludah dari kendaraan ke jalan.. heddeh 😦

    Eniwey : Akhirnya bisa juga login di WP 🙂

    Yupp, betul sekali kang. Sebenernya memang banyak dari warga kita saja yang gak mau diatur. Heran juga sih, mau diajak tertib susah luar biasa. Memang butuh sosok pemimping seperti kang Yayat lah kkkk.
    eniwei kenapa baru bisa login kan?

  6. Sistem sudah baik, penegakan aturannya yang gak jalan sesuai semestinya.

    Nah itu dia mas. Persoalan terbesar di sini memang penegakan hukum. Secara teoritis, banyak aturan yang sudah cukup ideal, tapi tak pernah terimplementasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s