The Salemba Band

Apakah sampeyan pernah dengar atau tahu The Salemba Band? Yup, inilah grup band yang digawangi para warga binaan (narapidana) Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Di balik tembok tebal penjara mereka bernyanyi dan bermusik. Meletupkan emosi lewat cabikan gitar dan bas, gebukan drum, tuts-tuts piano, dan senandung lagu tentang cinta, optimisme, nasionalisme, religi, dan perlawanan terhadap narkoba. Perjumpaan saya dengan mereka pada akhirnya mencuatkan satu hal: apresiasi! Saya memuji kreativitas dan semangat mereka yang tak pernah padam.

This slideshow requires JavaScript.

Cucuran gerimis sepanjang sore akhir Desember lalu mengembuskan angin dingin di seantero Ibu Kota. Tak terkecuali di pelataran Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Jakarta Pusat (Rutan Salemba), hawa meresap tulang itu terasa benar menerpa. Kian beranjak senja, rintik air langit tak juga berkurang. Saat dingin terus menyeruak, tak jauh dari tempat itu justru kehangatan yang membuncah.

Tepatnya di lapangan kecil dalam kompleks rutan.  Suara kencang Sutedi, sipir penjara, memecah sore. ”Kita sambut….The Salemba Band,” teriaknya. Hanya sepersekian detik suara itu hilang, gebukan drum berbarengan dengan tarikan melodi gitar, bas, dan keyboard menyambut. Lapangan berlapis semen itu mendadak gaduh. Puluhan warga binaan (tahanan) Rutan Salemba yang awalnya melihat dari jauh memburu ke tengah, mendekat, dan berbaur dengan Ressy  Wattilete, vokalis The Salemba Band.

Dalam balutan irama regge yang menghentak, mereka berjoget dan berdendang. ”Dikeong lagi…..dikeong lagi…,” ucap mereka serempak. Lagu Dikeong  Lagi itu pun meluncur  mulus, membangkitkan gairah bernyanyi dan mengusir senja yang dingin. Kegembiraan itu tak cuma milik mereka di lapangan. Sejumlah tahanan yang memilih tetap berada di ”kamarnya” ikut menjulurkan tangan. Melewati terali besi tangan-tangan itu ikut menari. Mereka larut dalam lirik dikeong (diborgol) lagi.

Persis ketika lagu berakhir, tepuk tangan meriah membahana. ”Terima kasih The Salemba Band, jangan kemana-mana setelah ini tampil lagi,” kata Sutedi yang sore itu (23/12) menjadi MC acara ”Salemba Musik Asik”.

The Salemba Band ibarat oase di kompleks penjara ini. Mereka memberikan hiburan gratis kepada penghuni, mengajak berinteraksi, dan juga menyampaikan pesan moral kebaikan. Ketika musik dimainkan dan lirik disenandungkan, kesan angker penjara pun seperti sirna. Siapa mereka?

The Salemba Band adalah grup band yang seluruh personelnya warga binaan Rutan Salemba. Rata-rata dari mereka terjerembab akibat akibat kasus narkoba. Selain Ressy sang vokalis yang identik dengan rambut gimbalnya, The Salemba Band antara lain diperkuat Subardi (Bardi) pada drum, Raditya Fajry  (keyboard dan vokalis), dan Muhammad Shidqy (bas).

Grup band ini kian solid dengan dukungan tim manajemen (juga warga binaan rutan). Mereka antara lain Rio Mukin yang bertugas mengurusi public relations, promosi dan pemasaran album, Novian Anugrah untuk proses rekaman, dokumentasi, dan kemasan album, serta Boy  yang bertugas sebagai kru.

The Salemba Band lahir dari visi dan tangan dingin Sutedi. Sipir kelahiran Jakarta, 5 Juni 1968 inilah yang memulai audisi mencari musisi di dalam rutan pada 2011.  ”Niat saya hanya satu, bagaimana mereka berkreativitas, menunjukkan bahwa tidak selamanya yang berada dalam penjara itu selalu negatif. Saya berharap kreativitas itu pula tetap bertahan ketika mereka keluar (bebas) nanti,” kata Tedi.

Bukan perjalanan mudah melahirkan grup band ini. Banyak tantangan menghadang. Tapi,  tekad baja dan keinginan tulus mewujudkan hal positif yang akhirnya jadi pemenang. The Salemba Band eksis hingga saat ini. Jangan remehkan para musisi penjara ini. Biarpun terkungkung dalam terali besi, musikalitas mereka tidak kacangan.

”Kami telah menghasilkan sembilan album,” kata Rio Mukin. Pria 25 tahun ini menuturkan, album pertama diberi titel Yakinilah, selanjutnya Presiden, Believe in, Belahan Jiwa, Religi Part I, Album Ustad Jefri Al Buchory, Album Lebaran, Reggea, dan Ampun Bui. Pria kalem ini menceritakan, sejauh ini sekitar 100 lagu telah diciptakan.  ”Hampir seluruhnya dari pak Sutedi, pembina The Salemba Band. Beliau yang menciptakan lirik, kami yang mengaransemen hingga jadi lagu utuh,” katanya.

Rio menegaskan, The Salemba Band lahir bukan untuk sekadar membunuh hari-hari kosong dalam penjara. Bermusik adalah jalan bagi mereka untuk merdeka secara psikologis, sekaligus resep ampuh untuk melawan ketergantungan pada narkoba.  ”Kami sudah benar-benar berhenti dan menjauhi narkoba. Saat pak Tedi melahirkan grup ini, kami sibuk dalam proses kreatif. Kami berjalan di jalur positif,” kata pria yang pernah berurusan dengan satuan reserse narkoba Polres Jakarta Barat ini.

Musik The Salemba Band adalah campuran antara optimisme, nasionalime, reliji, juga cinta. Sebut saja di album Presiden  yang lagu-lagunya mengambil nama presiden RI. Pada lagu Bung Karno, terdapat lirik ”Kau hadirkan benderaku dan pancasila’. Nuansa nasionalisme juga terpancar dari lagu Jangan Menangis Garudaku. Sementara lagu yang mengusung semangat perlawanan terhadap narkoba misalnya tertuang dalam lagu Narkoba. ” Kami memang berada dalam penjara, tapi kami tetap berkarya,” tegas Rio.

Dulu Dicaci Maki, Kini Dihormati

Jalan panjang dan berliku dilewati The Salemba Band sebelum seperti bentuknya saat ini.  Semua bermula dari ide staf keamanan Rutan Salemba, Sutedi. Sipir yang menyandang gelar sarjana hukum ini memulai audisi mencari musisi di dalam rutan pada 2011 lalu. Dibantu Zaenudin (Odoy), penghuni rutan yang mantan juragan Orkes Melayu Angkesra, pria yang akrab disapa Tedi itu mengumumkan sayembara pembentukan kelompok musik itu.

Gayung bersambut. Sejumlah warga binaan rutan mendaftar. 21 Mei 2011 lahirlah The Salemba Band. Formasi awal antara lain diperkuat Ongen  sebagai vokalis, Raditya Fajry (vokal dan keyboard), Moses (keyboard), Aris (gitar), Deni (perkusi) dan Alden Lucas (gitar). Proses kreatif berjalan dari sel tahanan. Di ruang sempit berterali besi itu mereka berlatih, menyatukan visi dan emosi, serta menyelaraskan kemampuan bermusik.

Sepintas terlihat sederhana. Bermain musik bukan hal sulit buat mereka. Apalagi, rata-rata pernah bergabung dalam grup band sebelum mereka masuk penjara. Tapi, perjalanan itu tidak mulus. Penampilan pertama mereka dalam ”konser kecil” di kompleks penjara berbuah caci maki dan hinaan. ”Para penghuni rutan teriak-teriak suruh berhenti. Ada yang tutup kuping, lainnya meneriaki berisik,” kenang Tedi.

Uji nyali itu tak sedikitpun mengendurkan semangat bermusik The Salemba Band. ”Kami evaluasi, memang ada sana-sini yang belum terorganinir. Lagu-lagu yang dibawakan juga tak semuanya bisa diterima,” ujarnya. Belajar dari pengalaman itu, pembenahan dilakukan. Sutedi berinisiatif menciptakan lagu-lagu dengan lirik yang mudah diterima dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari warga binaan. Lambat laun, kehadiran The Salemba Band diterima.

Pada penampilan di acara Salemba Musik Asik (dulu bernama Wisata Sore Hari), Minggu (23/12), misalnya, The Salemba Band dielu-elukan. Lengkingan suara Ressy Wattilete (vokalis saat ini) disambut dengan dendang dan ayunan badan. ”Dulu caci maki dan cemooh, kini berkat kerja keras dan kemauan dari seluruh personel yang kami dapatkan adalah tepuk tangan,” kata Tedi.

Formasi generasi kedua The Salemba Band bisa dibilang sangat produktif. Masih dengan lagu-lagu ciptaan Sutedi, mereka menuntaskan dalam sejumlah album. Lalu, bagaimana proses rekaman berlangsung? ”Kami melakukannya dalam studio milik sendiri,” kata Rio Mukin,  humas The Salemba Band, seraya tersenyum.

Yang dimaksud dengan studio rekaman ternyata ruang kerja Sutedi. Lagu-lagu yang mereka siapkan itu lantas direkam lewat laptop pribadi Sutedi yang telah dilengkapi sejumlah program penunjang rekaman.  Beberapa kali rekaman itu dilakukan untuk mencari hasil terbaik. Rekaman itu lantas dicetak dalam bentuk compact disc (CD).

Meski lahir dan besar dalam penjara, bukan berarti The Salemba Band selamanya ingin terkungkung. ”Kami selalu berharap dapat manggung di luar untuk menunjukkan hasil kreativitas kami,” kata Resssy.

Kesempatan yang diimpikan itu akhirnya datang. Hingga saat ini setidaknya telah lima kali grup berakun twitter @TheSalembaBand ini manggung di luar hotel prodeo. Salah satu yang berkesan kala tampil pada acara Hari Dharma Karya Dhika di aula gedung Kementerian Hukum dan HAM (27/10).  Saat itu Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin tanpa canggung berkolaborasi.  Amir menyanyikan dua tembang lawas dengan iringan The Salemba Band.

Sesungguhnya bukan kali itu saja grup beraliran pop kreatif ini main bareng dengan orang lain.  Pada acara panggung The Salemba Band yang rutin digelar di rutan, mereka berkolaborasi dengan sejumlah band indie, misalnya Willy Sket, Neo Limit, Baina IVO, Local Ambience, Tas Band dan masih banyak lagi.

Bukan cuma itu. Sederet musisi papan atas juga pernah merasakan gahar dan manisnya musik The Salemba Band.  ”Kami pernah main bareng Yoyo Padi, Aziz MS (Jamrud), Joy Tobing bahkan pedangdut Jhony Iskandar,” kata Rio.

The  Salemba Band memang lahir, tumbuh, dan besar di penjara. Tapi tembok tebal dan terali besi tak pernah memadamkan kreativitas mereka. “Kami ingin membuktikan kepada orang tua, teman, sahabat, dan siapapun yang telah kami kecewakan bahwa kami telah berubah. Kami tidak akan seperti saat ini tanpa dukungan dari pihak rutan, terutama pak Tedi,” ujar Rio.

*****

sekilas THE SALEMBA BAND

Berdiri                           : 23 Mei 2013

Pendiri dan Pembina : Sutedi SH

Markas                          : Rutan Salemba, Jalan Percetakan Negara 88 Jakarta Pusat

Genre                             : Pop kreatif (tapi banyak regge-nya hehehe)

Album                            : Yakinilah, Presiden, Believe in, Belahan Jiwa, Religi Part I, Album Ustad Jefri Al Buchory, Ampun Bui dst.

Lagu Kebangsaan         : Ampun Bui, Dikeong Lagi

Contact Person              : Rio Mukin (@riomukin), @TheSalembaBand.

Salut untuk The Salemba Band, terus berkreasi.

NOTE: Tulisan ini tayang di KORAN SINDO, Jumat 3 Desember 2013.

Advertisements

3 responses to “The Salemba Band

  1. weh mas zent jalan jalan ke salemba, pripun kabare mas zent?

    Eh dik inda, alhamdulillah kulo sae. njenengan pripun. kangen kangmas taka gak kkkkkk…….

  2. Salut itu sama pak sipir … semoga Salemba Band kelak mereka sukses menghiasi musik tanah air.
    Langsung searching di youtube … denger lagu Yakinilah.
    Terharu jadinya.

    Eh kang, apa kabar? kkkkk….wah iya, ini sipir top abis. punya visi lah kang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s