Kisah dari Beograd (3-fishing)

Ada begitu banyak hal menarik di Beograd. Dari sisi sejarah, kota terbesar di Serbia ini pernah menjadi saksi atas kejamnya perang dan indahnya perdamaian. Beograd, yang dulu disebut Singidinum oleh bangsa Celtik dan menjadi Beligrad (Kota Putih) ketika diduduki imperium Romawi adalah medan pertempuran tiada henti. Berbagai kekuasaan pernah bertarung memperebutkan wilayah yang disebut-sebut sebagai jantung Balkan ini.

This slideshow requires JavaScript.

Setidaknya, Byzantium, Romawi Timur, hingga Kekhalifahan Ustmaniyah (Ottoman) silih berganti menguasai Beograd. Hingga 1801, kota seluas 359,96 km persegi ini dikuasai Turki sebelum akhirnya bebas pada 1878 dan bertransformasi menjadi kerajaan pada 1882.

Di era kecamuk perang dunia ketika konflik Barat-Timur begitu menganga, Beograd menuliskan sejarahnya sendiri dengan mengambil jalan tengah yang tak akan pernah dilupakan siapapun. Beograd menjadi tempat penyelenggaraan pertama sidang Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) pada September 1961. Semua orang mengerti GNB lahir atas ide besar Joseph Broz Tito (Yugoslavia), Soekarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), dan Kwame Nkrumah (Ghana). GNB mewujud sebagai celah perdamaian dunia. Continue reading

Kisah dari Beograd (2-Parking Zone)

Menurut sampean, apakah kebijakan pakde Jokowi mencabut-cabut pentil kendaraan (pentil lho ya dengan “e” diucapkan seperti kata enak, bukan dengan “e” seperti kata senang) efektif memberangus parkir liar di Ibu Kota? Kalo tidak, bagaimana dengan usul om Ahok yang ingin pelat nomor dicabut dan STNK diblokir?Apakah sampean yakin itu berhasil?

This slideshow requires JavaScript.

Banyak yang bilang tidak! Wajar juga sih. Urusan parkir liar di Jakarta terbilang kompleks. Orang tak mau parkir di tempatnya karena ingin murah dan mudah. Tak peduli itu melanggar, sepanjang dia merasa segalanya bisa disiasati, akan tetap saja terjadi. Pikir mereka, toh ini sudah kebiasaan dan dilakukan di mana-mana. Continue reading

Pada Sebuah Taman…

Masih adakah ruang untuk menyemai peradaban di tengah hiruk-pikuk Jakarta? Datanglah ke beberapa taman kota. Di sana, kita bisa bergabung dengan warga yang melepaskan diri dari keruwetan kota, bersantai, sekaligus bergaul dengan sesama secara lebih manusiawi.

Aline awal (lead) headline Kompas, Minggu 8 Agustus 2010, itu benar adanya. Kepada taman rasanya penat, suntuk, dan kuyu bisa disandarkan. Kepada taman rasa frustrasi sejenak terobati. Lusuh dan peluh luruh. Amarah perlahan memusnah.

Air. Daun. Kupu.  Bunga. Angin. ……………..menyatu dalam harmonisasi tanpa polusi, menentramkan sekaligus memberi kesejukan. Ia menawarkan jeda atas segala karut marut Ibu Kota. Continue reading

Nasi Padang di Tepi Sungai Sava

Rasanya tak ada yang lebih hangat untuk mengusir dingin malam Beograd kecuali food, wine, and jazz. Di kafe Iguana, tepi Sungai Sava yang membelah Ibu Kota Serbia, tiga hal itu menjadi menu wajib.

Hanya, malam itu terasa beda. Iguana yang biasanya menyajikan makanan western, berbalik 180% dengan menyuguhkan kuliner eastern. Apalagi kalau bukan makanan Indonesia.

Dalam boklet menu, tertulis empat kuliner nusantara yang disediakan, yakni  Colours of Indonesia (berisi soto ayam, tuna dabu-dabu, nasi goreng, dan dadar gulung), Beautiful Java (sop daging kacang merah, gado-gado, nasi kuning, bubur sumsum), Fascinating Sumatera (soto ayam, tuna dabu-dabu, nasi padang, dadar gulung), dan Exotic Bali(sop daging kacang merah, gado-gado, nasi bali, bubur sumsum).

ini suasana Iguana, kafe jazz terkenal di Beograd (image by tripadvisor)

Bukan tanpa alasan bila menu itu hadir di kafe yang selalu ramai pengunjung ini. Dubes RI untuk Serbia Semuel Samson merupakan orang di balik hal tak biasa tersebut. ”Promosi Indonesia harus total. Orang asing tidak bisa cukup dikenalkan dengan musik dan tari. Sekalian saja kuliner asli Indonesia. Kalau mereka suka atau penasaran tentu akan mencari referensinya,”katanya. Continue reading